Beranda blog Halaman 49

REGULASI PILKADES DIHARAP ASPIRATIF

0

jempolindo.id – Jember. Rencana pemilihan kepala desa serentak tahun 2019 di Kabupaten Jember butuh cantolan regulasi yang tak sekadar copy paste dari aturan diatasnya. Bukan hanya karena ada uang negara dalam pembiayaannya yang harus dipertanggung jawabkan tetapi juga harus menghasilkan kepala desa yang mumpuni.


Gembong Konsul Alam, Ketua Ormas Perintis Jember turut bersuara, berharap pilkades di kabupaten Jember kelak  menjadi ajang demokrasi yang tidak tercacati oleh ulah oknum.
“apalagi kan biayanya menggunakan APBD bro, ” katanya.
Terkait dengan anggaran yang bakal digunakan, menurut Farid Wajdi Ketua LSM MP3 Jember harusnya pembiayaan dari APBD 2019 agar dalam bentuk Hibah uang atau belanja tidak langsung yang besarnya proporsional sesuai jumlah penduduk atau hak pilih,
Menurut Farid, jika dibuat belanja langsung dalam bentuk kegiatan dan barang yang dianggarkan dalam DPA OPD Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa akan lebih menyulitkan apalagi jika untuk setiap desa  besarannya dibuat sama.
“bantuan hibah Biaya Pilkades serentak tersebut harus dimasukkan dlm APBDes Tahun 2019 …materi lain blm tahu ..,” kata Farid.
Agus Mashudi, aktivis kawak Jember menilai dinamika desa sangat beragam. kepala desa memegang peran kunci dalam menentukan keberhasilan pembangunan desa, karenanya sebagaimana diamanatkan UU tentang desa, Pemilihan Kepala Desa merupakan pintu pertama menuju suksesnya pembangunan desa.


“untuk itu dibutuhkan payung hukum yang tak sekedar kuat , implementatif, tetapi juga aspiratif, ” tegas Agus.
Agar payung hukum yang dibuat pemerintah daerah jember itu mencerminkan gambaran riil aspirasi masyarakat Jember, maka menurut Agus dipandang perlu dalam tahapan pembuatannya melibatkan segenap komponen masyarakat Jember, sehingga klausul didalam regulasi itu dapat dipertanggung jawabkan.

Agus berharap perhelatan pilkades bukan sekedar ajang rutinitas tiap enam tahunan,  tetapi harus  bisa menghasilkan kepala desa yang memenuhi persyaratan sebagai pemimpin.

Kepala Desa ada yang sudah berkualitas tapi masih banyak juga  yang jadi kepala desa asal punya uang .

Dampaknya buruk terhadap pelaksanaan tanggung jawabnya yang tidak ringan.  menurut Agus,  dipandang  perlu berlaku persyaratan yang lebih ketat dan serius dalam tahapan penjaringan cakades.

Apa yang terjadi selama ini cakades  yang lolos seleksi dan kemudian ikut kontestasi sangat diragukan kapabiltas dan kepemimpinannya .

“jika harus ada FGD ya paling tidak dibahas dalam forum ilmiah dengan melibatkan kampus, kan Jember punya banyak kampus.. ” tegas agus. (m1)

DOWNLOAD APLIKASI BERITA JEMPOL

0

Download Apliasi Berita Jempol

Selesai di Download Apabila ada peringatan Seperti di Gambar

Klik Setting

Lalu Aktifkan Ijin Install Aplikasi dari Sumber tidak percaya.

Jika Muncul Seperti ini Pilih Install Anyway

PILKADES BERKUALITAS PERLU PANWAS

0

 

jempolindo.id – Jember.   Rencana pilkades serentak tahun 2019 di kabupaten Jember ditanggapi serius Sullam Ridwan Ketua LSM LAPPAP Kabupaten Jember. Sebab, pada prakteknya sistem pilkades selama ini belum menghasilkan kepala desa terpilih yang berkualitas. Pengawas yang diangkat oleh BPD setempat, menurut Sulam adalah upaya strategis pelaksanaan pilkades yang berkualitas. Peranannya dipandang akan sangat membantu mengawasi tahapan pilkades agar terhindar dari kecurangan.
“gak perlu pesimis dulu, yang penting dibentuk aja dulu..Kalau dalam prakteknya pengawas tidak obyektif, masyarakat juga punya alat tekan untuk meluruskan tugas pengawas.yang terpenting kelembagaan ada dulu..minimal kalau terjadi masalah masyarakat punya tempat untuk mengadu, ” Katanya.
Maraknya praktek Perjudian, kata Sullam turut memperburuk keadaan. Interfensi “boto judi” biasanya memberi ruang bagi calon kades yang punya bekal uang cukup. Akibatnya biaya Pemenangan pilkades bisa bengkak hingga milyaran rupiah.
“makanya sdh seharusnya dalam pilkades hrs disertai oleh keberadaan pengawas yg selama ini belum ada..hingga menyulitkan peserta pilkades manakala ditemukan penyimpangan dalam pelaksanaannya,” Katanya.
Aktivis yang konsern mencermati dinamika desa itu juga memandang pelaksanaan pilkades serentak terdapat plus minusnya. Sebab masa bakti kades definitif masa berahir jabatannya tidak sama. Sehingga cakades terpilih harus menunggu jabatan incumbent berahir. Lain halnya jika yang menang adalah kades incumbent.
Sulam mengakui sisi positip pilkades serentak bisa mengurangi dampak negatif praktek perjudian. Para penjudi ulahnya dapat menciderai proses demokrasi akibat iming Iming money politic.
“jika belum ada perubahan sistem pilkades yang lebih baik, maka susah menghasilkan pemimpin desa yang mimpimu, ” pungkasnya. (m1)

PETANI JEMBER TAGIH JANJI DPRRI

0

=========================!
SURAT TERBUKA,
Kpd.YTH
KOMISI 1V DPR RI,
KEMENTRIAN PERTANIAN
DPRD KAB.JEMBER

Dengan hormat,
Sesuai dengan janji BAPAK pada tgl 15-02-2018 bertepatan dengan PANEN RAYA di kelompok tani sbr.klopo 1 desa curahkalong kec.bangsalsari kab.jember,kami atas nama kelompok tani sbr.klopo 1 mengharap agar sekiranya segera merealisasikan pengajuan yg sudah di janjikan terhadap anggota kelompok tani yg mana pengajuan tersebut di anggarkan dari anggaran APBN.
Adapun pengajuan yang di janjikan untuk petani khususnya di sbr.klopo 1 dan anggota petani curahkalong pada umumnya yakni:
1.PENGAJUAN PIPANISASI DARI SUMBER AIR LANGON
2.PENDISTRIBUSIAN PUPUK BERSUB SIDI LANGSUNG DARI DISTRIBUTOR
KE ANGGOTA PETANI.
3.PENYALURAN BANTUAN ALSINTAN UNTUK ANGGOTA KELOMPOK
4.PENDAMPINGAN UNTUK ANGGOT KELOMPOK.
Demikian dengan surat terbuka dari kami, dengan tidak mengurangi rasa hormat kami dan tidak ada maksut lain selain mengingatkan dan memberikan hak yg sudah di janjikan untuk kami khususnya kelompok tani sbr.klopo 1.

Hormat kami,
Pengurus dan anggota kel.tani
======================================

Surat terbuka itu ditulis Teguh Wahyudi Ketua Kelompok Tani Sumber Kelompok1 Dusun Sumber Klopo Desa Curahkalong Kecamatan Bangsalsari Jember, sebagai ungkapan kekesalannya atas janji yang tak kunjung ada kejelasan.
Berikut sekilas kutipan sebagian percakapan kami melalui WhatsApp (Red : sebagian percakapan dipotong untuk menghindari ketidak nyamanan) :
[15/11 06:52] Wahyudi Corkal: Mas minta petunjuk dan dampingan,,mengenai pengajuan yg sudah masuk apa saya bersama temen2 perlu turun untuk mempertanyakan hal itu…tadi saya sempet menanyakan …🙏🏾🙏🏾🙏🏾
[15/11 10:03] Wahyudi Corkal: Karna pengajuan yg kedua kemarin minta langsung di antar ke pendopo dan ajudan bilang di suruh nunggu satu minggu baru bisa di kabari
[15/11 10:10] Wahyudi Corkal: Cuma saya bingung juga pak kemarin dinas menyampaikan ke saya kalau setiap pengajuan juga harus di lewatkan bupati juga
[15/11 10:13] Wahyudi Corkal: Ok pak…coba tak hub.fadoli dulu yg di pusat
[15/11 10:17] Wahyudi Corkal: Ya coba tak hub.dulu masalahnya waktu itu ngomongnya langsung dengan kadis dan ……… itu di minta langsung di kawal nah sementara kadis sendiri sudah di pindah dan ……… setiap di tanya jawabannya selalu ……. .
[22/11 10:35] Wahyudi Corkal: Gak tau maunya gmn padahal saya cuma nunggu rekomnya kok masih suruh kordinasi sama ………….
[22/11 10:40] Wahyudi Corkal: Yg dari komisi 1V DPRRI…terus saya juga bingung waktu itu masih p.maskur kadis perta yg di minta langsung kawal sendiri tapi dia sudah di pindah…..

Tumpukan kekesalan itu terjadi menurut Wahyudi karena selama ini tak pernah ada penjelasan yang memuaskan, sehingga dirinya merasa dipimpong.
“Jika memang tak bisa direalisasi ya katakan saja apa adanya jangan kami disuruh menunggu tanpa ada kepastian, ” sergah Wahyudi.
Wahyudi yang juga Ketua Mari Sejahterakan Petani (MSP) Kabupaten Jember itu meminta agar para petinggi negeri ini lebih peduli atas permasalahan yang dihadapi petani. Selama bertahun tahun dirinya bersama anggota kelompok tani yang dipimpinnya seolah tak kenal bosan terus berjuang menyampaikan aspirasi petani. Meski diakuinya perjuangannya senantiasa berhadapan dengan tembok seolah tak digubris.
Bukan hanya soal kesulitan pengairan sawah, air bersih bagi masyarakat petani, tetapi juga permasalahan distribusi pupuk bersubsidi sampai kini tak ada kejelasan.
“lalu kami harus menghiba kepada siapa lagi, ” Nadanya penuh kesal. (m1)

TANAH BUKAN SEKEDAR ASSET

0

jempolindo.id – Jember.  Biyen mbahku lek ngongkon aku neng sawah ngomonge ngene ” lek megawe neng sawah iku seng genah, wong tuwek megawe didelok terus ditiru, ben gak kemaruk ngedol sawah tapi piye carane sawah iki iso ditanduri “. Kami  dididik menjadi petani yang bisa bekerja disawah.

Kalimat itu disampaikan Budi Hariyanto dalam wawancara melalui Watsapp. 
==============
Siang itu membaca tulisan dimedia on line punya kawan (baca: https://lontar.co.id)  tentang pernyataan Bupati Jember dr Faida MMR, yang menilai bahwa reforma agraria akan menjadi pengungkit perekonomian masyarakat, Jadi tergelitik untuk ikut menulisnya. Pasalnya,  problematika agraria yang terjadi cukup rumit.
Saya coba cari nara sumber dan mau komentar terkait seluk beluk Reforma Agraria.

Terbersit seorang kawan muda, Budi Hariyanto, alumni Fakultas Hukum Universitas Jember menilai persoalan reforma agraria tidak hanya sebatas tentang persoalan tanah, hak menguasai ataupun memiliki, tapi lebih banyak hal yang dikandung didalamnya, mengenai pendidikan dan pelatihan pengelolaan tanah sebagai lahan produktif bukan hanya dipandang sebagai aset saja, yang mana produksi ini tidak hanya berhenti diproduksi saja tapi akses pasar yang baik.
” jadi bukan hanya gimana membuat masyarakat mempunyai hak atas tanah. Yang penting adalah pola fikir masyarakat Indonesia yang melihat tanah adalah aset bukan sumber kehidupan yang mandiri” jelasnya.

Budi mencermati situasi kekinian yang sedang terjadi pergeseran nilai. Masalahnya pada pola fikir masyarakat, ketika mempunyai tanah banyak mereka akan merasa hidupnya nyaman dan damai, ada nilai yang akan diwariskan pada anak cucunya kelak.
“Disini masyarakat sudah mulai menggeser pola fikirnya”. Ujarnya sedih

Menjadi Petani sepertinya menduduki kelas marginal yang tak punya nilai tawar disektor lapangan pekerjaan. Menjadi Petani dipandang sebagai pengangguran tak kentara, disamping terlalu banyak waktu luang, juga perbandingan hasil produksi dan kebutuhan hidup yang tak berbanding lurus.

Budi yang mengaku lebih pas menjadi anak petani ketimbang sebagai sarjana berharap Pemerintah mempunyai terobosan untuk perubahan mental ( revolusi mental).

“Karena sekarang kita taulah banyak petani yang rela menjual tanahnya untuk menjadikan anaknya TNI/PNS. Bukan lagi fokus bagaimana seorang anak bisa menjadi petani yang lebih baik dari orang tuanya” keluhnya

Kebijakan pemerintah terhadap ekonomi juga mempengaruhi pola fikir itu, ketika harga padi lebih murah dari biaya produksi (biaya tanam) maka hal itu membuat masyarakat petani berfikir bahwa kehidupan petani tidak menjanjikan.. sehingga hanya berfikir bahwa tanah tersebut adalah aset, bukan lahan produksi.

“ujung ujungnya muncul hasrat menjual”pungkasnya.(m1)

PASCA OTT LAYANAN ADMINDUK KEMBALI FUNGSIKAN KECAMATAN

0

jempolindo.id – Jember.  Pasca tragedi OTT dugaan pungli Dispendukcapil Kabupaten Jember, layanan adminduk kembali fungsikan kecamatan, sebagaimana amanat Perbup No 21/2013 dan Perda no 2/2011.

Sosialisasi kebijakan itu gencar dilakukan pemkab Jember. Seperti yang digelar di Kantor Kecamatan Mayang. Rabu (21/11/2018).

“Jadi masyarakat tidak perlu lagi antri dan berjubel di Kantor Dispendukcapil Jember. Hal ini sesuai dengan petunjuk  Ibu Bupati melalui perbup dan semuanya gratis” kata Camat Mayang Ajib, SIP,  sebagaimana ditulis  Kepala Desa Sidomukti Sunardi Hadi dalam status fesbuknya

Menurut Sunardi, Ajib menjelaskan bahwa pelayanan di kantor kecamatan hanya untuk warga yang tak sempat mengurus sendiri. Selanjutnya pihak kecamatan yang akan membawa pengajuan ke Kantor Dispendukcapil Jember.

Layanan ini tidak bisa langsung jadi, untuk E-KTP dan KK 14 hari jadi, dan 21 hari untuk proses pelaksanaan Akte Lahir.

Ajib, kata Sunardi tidak melarang masyarakat Kecamatan Mayang yang ingin mengurus sendiri karena kebutuhan yang sangat mendesak.

“Kalau Pergi sendiri ke Kantor Dispendukcapil Satu Hari Jadi”. Katanya.

Menurut Sunardi, sebelum kejadian OTT yang menggemparkan itu, memang tidak ada keharusan warga melalui kecamatan, tetapi dihimbau ke kantor dispendukcapil capil Jember. Hal inilah yang membuat antrian panjang.

Sementara itu Bupati Jember telah berupaya memenuhi  kebutuhan dokumen Adminduk masyarakat, melalui program “Bupati Ngantor di Desa”. Upaya itu masih belum mampu mengurai panjangnya antrean warga di Dispendukcapil.

“Hal ini karena tingkat kesadaran masyarakat yang sudah sangat bagus tentang arti pentingnya  data adminduk ” ujarnya. (Shp0505)

ALIBI PENGACARA OTT KTP DIBANTAH LSM MP3

0

jempolindo.id- “…… Dinas pinjam uang ke masy 10 juta unk perjalanan dinas, apa kata dunia ha ha ha … …” Kalimat itu ditulis Farid Wajdi Ketua LSM masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3) di status fesbuknya. 

Tentu saja bukan sekedar status fesbuk, tetapi juga sebuah bantahan keras atas alibi Eko Imam Wahyudi SH pengacara kasus OTT pungli dispenduk.

Pernyataan Eko sempat diterbitkan media massa tentang rekonstruksi hukum pembelaan atas kliennya dengan membangun alibi bahwa alat bukti berupa uang sejumlah sepuluh juta rupiah bukanlah uang hasil pungutan liar melainkan pinjaman tersangka SW kepada mitranya AK.

Farid menilai alibi itu lemah, apalagi  dalam konstruksi  hukum saksi alibi derajatnya dibawah saksi mata. Dalam hal ini Tim Saberpungli dapat dianggap sebagai saksi mata.

Asumsi yang dibangun uang yang turut disita tim saber  sebagai  pinjaman juga lemah dari sisi kacamata pembiayaan anggaran dinas.  Farid menjelaskan dalam  APBD 2018, Anggaran di Disduk Capil sebesar 18.097.644.749, yg tentunya unk semua kegiatan termasuk untuk belanja isi staples, dan pewangi toilet.

Sementara untuk data verifikasi dianggarkan Rp. 750 per arsip, Rp. 500 unkidikan KK KTP, 500 unk verifikasi data ganda dan Rp. 750.000 perbulan untuk honor tenaga administrasi pendaftaran penduduk dan catatan sipil yg tertuang dalam Perbup 56 thn 2017.

“jadi tidak ada kegiatan yang tidak bisa dianggarkan dalam APBD Uang mengikuti fungsi belum lagi disduk juga kelola Bansos sebesar 1.580.000 .000 untuk dokumen Capil yg notabene juga gratis” tandasnya. (m1)

CUMA NGESTOKNO DAWUHE KYAI

0

 

Amir Hamzah, AKtivis berbasis NU ini memilih jalur PDIP sebagai alat perjuangan politiknya. Bukan tanpa alasan, tentu saja karena anak muda ini percaya

pARTAI BERLAMBANG banteng ini masih SETIA  pada  JALUR perjuangan kerakyatan. 

Mantan aktivis HMI ini yakin Aspirasi konstiuennya kelak dapat diperjuangkannya bersama PDIP. 

“jane yo sederhana se cak, cuma nglakoni dawuhe poro kyai,” pungkasnya. (m1)

JEMBER KEHILANGAN PUTRA TERBAIKNYA

0

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN
Jember berduka kehilangan satu putra terbaiknya. Ketua Tanfidz DPC PKB Kabupaten Jember,  Miftahul Ulum atau akrab disapa Cak Ulum telah meninggalkan rakyat Jember untuk selamanya.

Beliau anggota DPRD Propinsi Jawa Timur,  dan pernah dua periode sebagai Anggota DPRD Kabupaten Jember.

Kiprah mantan Ketua Ansor Jember ini tentu sangat melekat dibenak rakyat Jember. Sikap kontroversinya selama dua periode era kepemimpinan Bupati MZA Djalal merupakan wujud kritisnya dalam menjalankan fungsi kontrol anggota DPRD Jember.

Tetapi sikap kritisnya itu tentu bukan dalam tujuan memusuhi kekuasaan, melainkan agar jalannya kekuasaan tetap ada pada relnya sebagai abdi masyarakat.

Sesekali dalam perbincangan santai,  Cak Ulum menyampaikan lintasan kegelisahannya soal Jember,  terlihat sangat serius ada dalam bingkai pengabdian.

Senyum ramahnya adalah ciri khas yang dalam kondisi apapun senantiasa mengembang.  Beberapa pengalaman bersama beliau memang belum mampu menggambarkan kedalaman pikirannya.

Tak pernah ada kata tidak atau menolak ketika ada warga yang menyampaikan aspirasinya.  Senantiasa direspon sesuai kemampuan yang bisa dilakukannya.

Tak ada gading yang tak retak , tentu sebagai manusia selalu ada kekurangannya.  Semoga saling memaafkan.

Satu kalimat yang sering saya dengar diantara senyumnya :

“oreng riyah koduh istiqomah” (red : Jadi orang itu harus istiqomah) 

Selamat jalan Cak Ulum,  kami akan lanjutkan perjuanganmu.

 

Natural place Caffe Garden

0

    Design by Danang Dwi Winardi

%d blogger menyukai ini: