17.4 C
East Java

Merambah Derita dan Harapan Tanah Ketajek

Loading

Jember, Jempolindo.id – Berbekal rasa ingin tahu, kami bertandang di tanah Ketajek, Desa Pakis Kecamatan Panti Kabupaten Jember, pada Kamis (26/12/2024).

Sekira pukul 10.00, ditemani Ketua Koperasi Makmur Sejahtera Ahmad Khudory, kami mengendarai Mobil Jeep Taft 4×4, menyusuri sebelah selatan lereng Pegunungan Argopuro.

Setelah melewati perkampungan, kami masih melewati Kampung Durian, kawasan wisata yang sekarang sedang trend di Kabupaten Jember.

Sepanjang perjalanan, Khudory berkisah tentang keberadaan Tanah Ketajek, yang hingga kini permasalahannya belum juga tuntas.

“Melalui Koperasi, kita coba urai kembali permasalahannya satu persatu, semoga saja segera selesai,” ujar Khudory.

Perjuangan Panjang Tanah Ketajek

Warga yang menghuni tanah Ketajek, sebenarnya merupakan para buruh yang bekerja kepada seorang pengusaha Cina, sekitar tahun 1940 an.

Karena tak sanggup membayar, pengusaha Cina itu meninggalkan para pekerja itu. Sehingga para pekerja itu melanjutkan bertahan hidup dengan mengelola lahan yang sudah digarapnya.

Tanah Ketajek, adalah simbol konflik perlawanan agraria yang sudah dimulai sejak tahun 1973. Penguasa kala itu, ingin menguasai tanah seluas 447 hektar yang dikelola rakyat.

“Kalau menurut catatan Masyarakat, sebenarnya lebih dari 1000 hektar, tetapi setelah proses verifikasi ditemukan 447 hektar, dengan 668 ahli waris,” jelasnya.

Pemerintah Kabupaten Jember, berhasil menguasai lahan tanah Ketajek yang kemudian dikelola oleh PDP Kahyangan, yang ditanami Kopi dan Karet.

“Namun perjuangan rakyat tak pernah padam, terus berusaha untuk menguasainya kembali,” katanya.

Rakyat berjuang melalui berbagai upaya, baik melalui jalur hukum dengan menggugat melalui pengadilan, hingga jalur politis.

“Namun, upaya rakyat kandas tanpa hasil yang diharapkan,” katanya.

Hingga, pada era Pemerintahan Bupati Jember MZA Djalal, dilakukan upaya verifikasi ahli waris, sehingga dari sekira 600 orang ditemukan 447 orang ahli waris.

“Dari hasil verifikasi itu, kemudian Bupati Djalal menerbitkan surat keputusan untuk menyerahkan lahan itu kepada para ahli waris secara kolektif,” paparnya.

Untuk menertibkan pengelolaan lahan, masyarakat mendirikan Koperasi Makmur Sejahtera sebagai wadah agar dapat tidak menimbulkan konflik horizontal akibat masih adanya saling klaim lahan.

“Melalui koperasi itulah, kami terus belajar bagaimana mengelola lahan dengan baik, meski hingga kini belum optimal,” ujar Khudory.

Tak terasa, setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, kami tiba dikantor Koperasi Arga Makmur, yang merupakan kantor Esk Perkebunan PDP Kahyangan Afdeling Besaran.

“Setelah ditinggalkan PDP, gedung ini tak terawat. Sekarang kami coba untuk memperbaikinya kembali,” kata Khudory.

Kedatangan kami disambut salah seorang Warga yang masih menghuni perumahan eks PDP Kahyangan, namanya Pi’i alias Pak Vina.

Pi’i bercerita bahwa dirinya lahir di Tanah Ketajek pada tahun 1979, yang hingga kini masih bertahan.

“Orang tua dan kakek kami juga lahir disini,” jelasnya.

Sambil menunggu hidangan makan siang, kami mendengar kisah Pi’i selama menghuni kawasan Eks PDP Kahyangan.

Hampir satu jam lamanya, kami menyimak kisah pilu kehidupan masyarakat Ketajek yang dirundung konflik berkepanjangan.

“Sekarang, masih ada 42 Kepala Keluarga yang masih bertahan hidup di eks PDP Kahyangan, yang mulanya kami memang menjadi pekerjanya,” ujarnya.

Sejenak kemudian, anak Pi’i mengantarkan hidangan makan siang, lumayan buat mengisi perut yang memang sudah mulai lapar.

Setelah makan siang, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Afdeling Jerukan. Bermaksud ingin tahu lebih jauh tentang suasana masyarakat Ketajek.

Jalan yang kami lalui cukup memacu adrenalin, selain licin berliku, juga lumayan berbahaya.

Hingga ditengah belantara, ban mobil kempes. Kami berupaya mengganti dengan ban mobil cadangan. Sayangnya, sial tak dapat ditolak ban cadangan ternyata kempes juga.

Kami memaksakan diri untuk melanjutkan perjalanan, karena memang sudah kepalang tanggung. Meski kami harus menghentikan perjalanan, karena ban mobil sudah memang tak bisa diandalkan.

Pukul 17.15, kami masih bertahan untuk terus mencari bantuan. Melalui jaringan internet, kami berusaha menghubungi teman sebisanya.

Ada rasa cemas, saat hari mulai gelap, ditambah embun yang mulai turun.

Hingga pukul 18.00, seorang teman, Amir mengantarkan ban pengganti yang masih bisa kami gunakan.

Usai mengganti ban mobil, atas saran Amir, untuk tidak melanjutkan perjalanan, kami terpaksa putar balik arah pulang.

Jalan yang tadi kami lewati terasa bertambah licin, karena sempat diguyur hujan. Sepanjang perjalan kami terus menyebut nama Allah, karena sulitnya medan yang harus kami lalui.

Pukul 19.00, kami tiba kembali di Afdeling Besaran. Untuk menenangkan rasa cemas yang menyelimuti sepanjang perjalanan, kami berhenti sejenak di rumah Amir, sekedar minum kopi, sambil mendengarkan kembali keluh kesah dan harapan warga Ketajek.

“Sebenarnya tinggal satu dua orang saja yang masih berkeluh kesah, yang lain sekarang sudah bisa merasakan lebih nyaman menggarap lahan,” ujar Amir.

Peta Potensi

Hamparan Tanah Ketajek sebenarnya memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan.

“Kami mulai melakukan maping dan analisah, untuk mengembangkan potensi yang ada,” ujar Khudory.

Selain perkebunan kopi, Durian dan beragam jenis buah buahan, juga terdapat potensi lainnya, diantaranya Air Terjun Rengganis dan Kelepuh, serta kemungkinan jalur lintas pendakian menuju Cemoro Kandang dan Sekasur.

“Potensi yang ada ini, sangat memungkinkan bisa dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Khudory.

Hanya saja perlu adanya dukungan perbaikan infrastruktur pendukung, diantaranya pembangunan jalan, penerangan serta pendukung lainnya.

“Tentu membutuhkan perhatian Pemerintah Kabupaten Jember, agar harapan ini bisa terwujud,” kata Khudory.

Usai minum kopi, dan perasaan sudah mulai tenang, kami berpamitan untuk melanjutkan ke arah pulang. (MR)

- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img