JEMBER, JEMPOLINDO.ID — Kisah pilu Nenek Suwana, warga Dusun Gudang Duren Desa Subo, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, cukup menggugah rasa kemanusiaan, siapapun yang melihatnya.
Perempuan kelahiran Juli 1954 itu, tinggal disebuah gubug bambu, yang sudah tak terawat lagi.
Nenek itu menghabiskan hari-harinya dalam gelap—kedua matanya tak lagi melihat, tubuhnya lumpuh total. Ia tak bisa bangun, bahkan untuk buang air kecil sekalipun.
Di bawah ranjangnya, keluarga membuat saluran kecil menyerupai selokan. Itulah satu-satunya cara bagi ibu renta itu untuk membuang hajat, tanpa harus berpindah dari tempat tidurnya.
Tak ada suami. Tak ada anak. Hidupnya bergantung pada keponakan dan sepupu yang bergantian mengantar makanan dan minuman. Mereka menjadi tulang punggung harapan di tengah sunyi.
Pemandangan itulah yang mengusik hati Aditya Algozalie, Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Pakusari.
Begitu mengetahui Nenek Suwana belum memiliki KTP elektronik, Aditya segera menghubungi Pemerintah Kecamatan Pakusari.
Baginya, kartu identitas adalah jembatan akses terhadap bantuan sosial dan layanan kesehatan yang menjadi hak setiap warga negara.
“Miris melihat kehidupan Bu Suwana. Selama ini makan dan minumnya bergantung pada keponakan dan sepupunya. Beliau hidup sebatang kara, lumpuh dan buta,” ujar Aditya, kepada media ini, Selasa (07/07/2026).
Respons cepat datang dari Camat Pakusari, Rifandi. Ia tak sekadar mengirim tim, melainkan datang langsung ke rumah bambu itu.
Bersama Bidan Desa Subo, Wiwik, dan sejumlah staf kecamatan, Riswandi membawa perangkat perekaman KTP elektronik dan—lebih dari itu—beberapa paket sembako.
Melihat langsung kondisi Nenek Suwana, Rifandi tak tinggal diam. Ia meminta Bidan Wiwik melakukan pemeriksaan kesehatan rutin setiap bulan.
Ia pun berkomitmen menyalurkan bantuan sembako setiap tiga bulan.
“Kami hadir untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal,” tegas Rifandi.
Bagi Aditya, kedatangan rombongan kecamatan pagi itu bukan sekadar urusan administrasi. Ia menyaksikan seorang warga yang nyaris tak tersentuh pelayanan publik, akhirnya didatangi oleh negaranya.
“Saya senang Pak Camat dan Bidan Wiwik bergerak cepat. Bahkan Pak Camat berjanji memberikan bantuan sembako tiap tiga bulan,” pungkas Aditya.
Di rumah kecil yang nyaris luput dari perhatian itu, lumpuh, kebutaan, dan kesunyian masih menjadi kenyataan.
Namun, pada pagi berawan itu, ada sesuatu yang akhirnya mengetuk pintu rumah Nenek Suwana: perhatian. Datang dari mereka yang mengaku abdi masyarakat, dan kali ini—benar-benar hadir. (#)
- Penulis: Tim Jurnalistik
- Editor: Gilang Gibran Al Fikri
- Sumber: Liputan PAC PDI Perjuangan Kecamatan Pakusari, Jember





