Gedung SD Negeri 2 Ambulu Ambrol, Komite Sekolah : “Jangan Bohongi Rakyat”

0
350

Ambulu – Jember – Jempol. “Jadi tolong pemerintah harus hadir, jangan hanya datang – datang mengukur mengukur tidak ada realisasinya. Tolong jangan bohongi rakyat,”

Pernyataan itu disampaikan Ketua Komite Sekolah SD Negeri 02 Ambulu Kecamatan Ambulu – Jember Sukardi Haryono saat dikonfirmasi tentang ambruknya ruang kelas 6 dan ruang Dewan Guru SD Negeri 02 Ambulu.

Sukardi Hariyono,  saat diwawancari terkesan emosional, suaranya meninggi. Dia menilai pemerintah tidak seirus dalam menangangi pendidikan.

Sejak tahun 2017 Pihak sekolah, kata Sukardi  sudah berulang kali mengajukan perbaikan melalui Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, tetapi sampai gedung ambrol belum juga ada kepastian perbaikan.

“Tapi sampai gedungnya ambrol belum jelas juga penanganannya,” sergahnya penuh kesal.

Jika terjadi sesuatu kepada siswa, Sukardi mengancam  akan menggugat secara hukum penguasa daerah, Bupati Jember, Dinas Pendidikan Jember dan DPRD Jember.

“Jika sampai terjadi sesuatu kepada anak – anak saya akan pasti akan tempuh jalur hukum,” sergahnya.

Sukardi mengaku menjadi Komite Sekolah sampai bosan, pasalnya pihak pemerintah daerah dinilainya tidak konsisten dengan programnya dalam membangun dunia pendidikan.

“Katanya anggaran dinas pendidikan 20%, dimana anggaran itu. Kalo memang tidak sanggup ya bilang saja tidak sanggup,” tegasnya.

Pihaknya menegaskan bahwa ambrolnya gedung  telah mengganggu kegiatan belajar mengajar. Pihaknya merasa cemas atas keamanan siswa yang belajar.

.Kepala Sekolah SDN 02 Ambulu Siti Alfiyah  menjelaskan kondisi gedung sebenarnya sudah rusak sejak tahun 1997.  Karena usianya sudah lapuk,  akibatnya  gedung ambrol di  ruang kelas 6 dan ruang dewan guru.

“Saya berharap segera mendapat bantuan rehap total,” harapnya.  

Lebih lanjut, Siti Alfiyah menjelaskan akibat ambrolnya atap gedung itu, terpaksa kegiatan belajar mengajar siswa harus  bergabung dengan kelas lainnya, yang seharusnya masing – masing satu kelas, kini bergabung dua kelas menjadi satu kelas, sehingga kegiatan belajar mengajar praktis terganggu.

Ruangan menjadi terkesan penuh sesak, apalagi masih harus berbagi dengan ruang UKS, ruangan menjadi sangat sempit dan sesak.

Siswa kelas 5 Zastin  mengaku merasa  kurang nyaman dengan keadaan yang dialaminya dalam kegiatan belajar.

“Biasanya satu bangku hanya satu orang. Saya merasa takut sekali,” kata Zastin. (sgt)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini