24.9 C
East Java

Tiga Aktivis Dilantik Jadi Pimpinan PDP Kahyangan, Bupati Jember: Kan Malu Kalau Gak Ada Progres

JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Setelah melalui tahapan seleksi, Bupati Jember Muhammad Fawait melantik tiga orang berlatar belakang aktivis, menjadi pimpinan di PDP Kahyangan Jember, di Pendopo Wahyawibawagraha, pada Rabu (13/05/2026).

Ketiganya, Gogot Cahyo Baskoro sebagai Direktur Utama, Dima Akhyar sebagai Direktur Umum dan Keuangan, dan Nyoman Aribowo sebagai Direktur Produksi Pemasaran dan Pengembangan.

Bupati Jember Muhammad Fawait optimis ketiganya bakal membawa perubahan bagi kemajuan BUMD milik Pemkab Jember itu.

“Ya, kan malu kalau aktivis tidak bisa membawa perubahan,” kata Gus Fawait, usai melantik ketiganya.

Meski, pada tahun pertama, kata Gus Fawait, biasanya masih membangun pondasi manajamen.

“Baru setelahnya, seharusnya melakukan terobosan, untuk memajukan PDP. Karena, PDP ini kan salah satu BUMD yang kita andalkan,” ujarnya.

Dipilih ketiganya, karena memperhatikan latar belakang, yang dinilai mumpuni.

Sebagai aktivis, tentu tidak boleh baperan, tidak boleh anti kritik, berfikir out of the box, dan membuktikan dengan kinerja berdasarkan data.

“Jangan sampai nanti, kinerja hanya dibuktikan dengan persepsi atau kata kata. Kita adu data,” ujarnya.

PDP Kahyangan, kata Gus Fawait punya fungsi strategis, yang memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi Jember.

“Karena yang berhubungan langsung dengan kantong kantong Kemiskinan adalah PDP,” tegasnya.

Bupati Jember juga berharap seluruh elemen masyarakat, termasuk PDP Kahyangan, turut mensukseskan program pemerintah pusat, termasuk diantaranya program MBG.

“Karenanya nanti dalam revisi Perda BUMD, kita harapkan PDP bisa menangkap peluang, bukan hanya memajukan daerah, tetapi juga mendukung program pemerintah pusat,” tandasnya.

Berharap PDP Kahyangan Lebih Luas Cakupannya

Usai dilantik sebagai Direktur Utama PDP Kahyangan, Gogot Cahyo Baskoro, kepada sejumlah awak media, menjelaskan bahwa dirinya menghendaki adanya perluasan cakupan kinerja.

“Kita sudah berkomunikasi dengan beberapa pihak, termasuk, pimpinan DPRD kabupaten Jember, untuk membicarakan revisi Perda BUMD,” katanya.

Melalui revisi Perda BUMD, nantinya diharapkan akan ada pelunasan cakupan, PDP Kahyangan tidak lagi hanya mengurusi kebun kopi dan karet saja, tetapi bisa juga menangani sektor lainnya.

“Karena mau tidak mau, dalam jangka pendek, kita sudah harus melakukan diversifikasi usaha,” ujarnya.

Gogot melirik pengembangan wisata taman bunga di Kebun Gunung Pasang, wisata Kampung Belgia di Kebun Sumber Wadung, dan Wisata Tancak Tulis di Wilayah Kecamatan Tanggul.

“Kawasan air terjun Tancak Tulis ini akan kita bicarakan dengan Perhutani, karena kan sebagian lahan milik perhutani, dan sebagian milik PDP Kahyangan,” ujarnya.

Dalam mengemban amanah sebagai pucuk pimpinan PDP Kahyangan, Gogot masih harus menghadapi tantangan manajerial yang masih belum sepenuhnya terbuka.

“Sehingga memunculkan ketidak percayaan publik, karyawan sendiri dan pihak ketiga,” ujarnya.

Selain itu, PDP Kahyangan masih dihadapkan dengan tantangan rendahnya produktivitas, dan perlu adanya produk baru, sebagai pengemban usaha.

“Misalnya, tidak hanya memproduksi greenbean, kopi gelondongan, tetapi juga bisa ditingkatkan, seperti spesial taste,” ujarnya.

Tak kalah peliknya, kata Gogot jumlah karyawan cukup banyak, yang belum sepenuhnya full employment.

“Sebagaimana yang sudah sampaikan kepada Gus Bupati, sebagai Direktur Utama PDP Kahyangan, kami akan berupaya menjadikan PDP sebagai Good Clean Coorporate,” tandasnya.

Good Clean Coorporate, adalah perusahaan yang sehat, bersih dan memiliki daya saing.

“Apa yang dimaksud dengan Good Clean Coorporate, adalah perusahaan yang mengedepankan transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, indepedensi, dan fairness yang tinggi,” ujarnya.

Sebagai pucuk pimpinan, Gogot juga berkomitmen untuk anti korupsi.

“Perumda Kahyangan ini alih alih ditutup, justru menjadi pengungkit perekonomian. Karena banyak kepala keluarga yang hidupnya bergantung pada perusahaan ini cukup tinggi,” ujarnya.

Dengan tim yang solid, Gogot yakin dapat menjadikan PDP Kahyangan sebagai penyumbang PAD, yang dapat setorkan ke kas daerah.

Dalam pembiayaan perusahaan, Gogot menegaskan tidak perlu adanya dikotomi pembiayaan.

“Apakah melalui penyertaan modal, atau pinjaman dari pemerintah pusat maupun daerah, atau dari pihak ketiga,” katanya.

Penyertaan modal dari Pemerintah Daerah, sudah diatur dalam Perda, yang sebaiknya untuk kepentingan program pengembangan jangka panjang.

“Misalnya peremajaan karet, kopi, yang baru bisa kita nikmati diatas lima tahun. Kalau kita pinjam bank, lalu membayarnya dari mana,” katanya.

Untuk pembiayaan jangka pendek, dapat digunakan pinjaman dari lembaga pembiayaan negara atau perbaikan.

“Asalkan feasible, beberapa bulan dilaksanakan sudah bisa kita rasakan keuntungannya,” ujarnya.

“Sedangkan untuk pengembangan jangka pendek dan menengah dapat digunakan pinjaman dari pihak ketiga,” imbuhnya.

Evaluasi Kerjasama Dengan Pihak Ketiga

Sebagai Direktur Utama dan Keuangan, Dima Akhyar menjelaskan bahwa keberadaan PDP Kahyangan memiliki banyak fungsi, selain fungsi ekonomi juga sosial.

“Maka kedepan, kita harapkan bukan hanya menjadi pengungkit ekonomi, tetapi juga dapat menjadi fungsi sosial, termasuk penyerapan tenaga kerja,” jelasnya.

Dalam upaya pengembangan usaha, Dima menekan perlunya ada evaluasi secara menyeluruh, terhadap kemungkinan dilakukan kerjasama dengan pihak ketiga.

“Senyampang itu menguntungkan kenapa tidak, sehingga nantinya dapat meningkatkan pendapatan perusahaan,” tandasnya. (#)

  • Pewarta: Sundari Rianto dan Gilang Gibran Al Fikri
  • Editor: Miftahul Rachman.
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img