18.5 C
East Java

Peringatan Hardiknas 2026 di Jember: Dr Itje Chodidjah Tegaskan Teladan Guru, Bupati Fawait Luncurkan Kebijakan Berani

JEMBER, JEMPOLINDO.ID Dinas Pendidikan Kabupaten Jember menyelenggarakan peringatan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026 di Pendopo Wahyawibawagraha.

Pemerintah daerah mengusung tema besar “Transformasi Pendidikan Berbasis Cinta Anak” sebagai landasan utama kegiatan ini.

Acara tersebut menghadirkan narasumber utama, Dr. Itje Chodidjah, M.A., seorang pakar pendidikan dan pengajar independen terkemuka di Indonesia, dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di bidang pelatihan guru, penilaian, dan pendidikan bahasa Inggris.

Beliau memberikan refleksi mendalam serta mengedukasi para guru agar lebih memperhatikan setiap tindakan sehari-hari.

Saat ini, Dr. Itje menjabat sebagai Dewan Pakar PSPK (Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan) sekaligus Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).

Dr. Itje: Teladan adalah Kurikulum Paling Hidup

Dalam paparannya, Dr. Itje mengutip filosofi Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarso Sung Tulodo artinya teladan adalah kurikulum yang paling hidup. Kurikulum ini tidak dapat diajarkan, melainkan dirasakan. Ing Madya Mangun Karsa berarti di tengah-tengah kita membangun semangat.

“Pendidikan bukan tentang mengontrol dari atas, melainkan menemani bersama,” tegasnya.

Dr. Itje juga menyampaikan kritik tajam terhadap peran guru di era digital. Guru bukan pusat pengetahuan, apalagi di zaman yang canggih akan digital. Sekarang, guru sudah dikalahkan oleh ChatGPT kalau perkara pengetahuan.

“Jangan-jangan banyak guru yang diakali anak-anak karena anak-anak mengumpulkan tugas yang dikerjakan ChatGPT,” ungkapnya.

Namun, beliau menegaskan bahwa guru sebagai manusia tidak akan pernah diambil alih oleh teknologi.

“Oleh sebab itu, mari kita berdiri di tengah anak-anak, menemani proses belajar mereka yang tumbuh. Bukan pengetahuan, tetapi keberanian untuk berpikir, untuk mencoba, dan tidak takut untuk salah,” harapnya.

Menariknya, Dr. Itje membongkar akar persoalan kenakalan anak. Menurutnya, keluhan tentang seorang anak yang tidak mempunyai adab sebenarnya bukan karena anak tersebut benar-benar tidak punya adab.

“Anak-anak mengambil contoh dari orang dewasa di sekitarnya. Orang dewasalah yang membantu mereka kehilangan arah. Jadi ketika anak-anak dibilang tidak beradab, tidak punya adab yang baik, mari kita tunjuk diri kita dulu: sudahkah kita menanam adab itu? Di sinilah pendidikan menjadi ruang hidup, bukan sekadar ruang evaluasi,” jelasnya.

Dr. Itje pun mengingatkan kembali falsafah “Tut Wuri Handayani” yang berarti memberi dorongan dari belakang.

“Pendidikan sejati tahu kapan harus melepas. Anak tidak dididik untuk selalu bergantung, tetapi untuk berdiri dan melangkah sendiri. Dorongan dari belakang bukan melepas tanpa arah, melainkan percaya bahwa anak memiliki potensi,” pungkasnya.

Bupati Muhammad Fawait: Pendidikan Utama adalah Karakter

Sementara itu, Bupati Jember Muhammad Fawait atau akrab disapa Gus Bupati juga turut menyampaikan pandangannya. Ia menegaskan bahwa pendidikan paling penting adalah karakter. Beliau mengutip ungkapan “Afdhalul ‘ilmi ‘ilmul hal” (sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat).

“Maka pendidikan paling utama adalah akhlak. Orang yang berilmu cirinya akhlaknya bagus. Makanya kenapa kiai saya bilang, pertama kali orang lahir tidak wajib sholat? Karena belum berilmu, belum berakhlak,” jelas Gus Bupati.

Gus Bupati juga meyakini bahwa melalui jalur pendidikanlah kemiskinan di Jember akan turun. Keyakinan ini kemudian ia wujudkan dalam sejumlah kebijakan strategis yang diumumkan pada peringatan Hardiknas tersebut.

Kebijakan Berani: TPP Tidak Dipotong, P3K Dilanjutkan

Di hadapan ribuan guru, Gus Bupati mengumumkan kabar menggembirakan terkait Tunjangan Kinerja (Tukin) dan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).

“Pertama, TPP satu-satunya, atau apa namanya, Tukin ya Pak Sekda? Namanya Tukin. Satu-satunya kabupaten yang tidak mengurangi TPP dan Tukin di Jawa Timur adalah Kabupaten Jember,” ujar Gus Bupati dengan tegas.

Menariknya, Gus Bupati juga mengabulkan keluhan para guru.

“Banyak guru yang bilang, ‘Gus, kalau murid libur, kok guru harus masuk?’ Oke! Saya kabulkan Bapak, Ibu semuanya. Murid libur, guru libur,” paparnya disambut tepuk tangan.

Namun, Gus Bupati mengingatkan kondisi di kabupaten lain. Kabupaten lain mengurangi di tahun 2027 karena ada pembatasan belanja pegawai 30%. Banyak kabupaten yang akan mengurangi TPP, bahkan ada yang secara terang-terangan menghapus TPP. P3K tidak akan dilanjutkan, apalagi P3K paruh waktu.

“Tetapi Jember menjadi kabupaten pertama yang menyatakan akan melanjutkan P3K dan P3K paruh waktu,” jelasnya.

Meski demikian, Gus Bupati mengakui bahwa kebijakan manis perlu diimbangi dengan langkah pahit yang menyehatkan.

“Itu semua adalah kebijakan yang manis. Tapi kalau manis terus, bisa kena diabetes kita, Bu. Maka harus ada yang pahit-pahit sedikit tapi menyehatkan. Semua ASN, tidak terkecuali Pak Kadis, Pak Sekda, para guru, hari ini kita sedang menghadapi krisis. Krisis apa Gus? Krisis kemiskinan,” tutupnya. (#)

  • Pewarta: Sundari Rianto
  • Editor: Miftahul Rachman
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img