18.5 C
East Java

Cegah Pernikahan Anak, Najelaa Shihab Sebut Pendidikan Sebagai Solusi Strategis

JEMBER, JEMPOLINDO.ID  – Pemerintah Kabupaten Jember menggelar talkshow bertajuk “Sekolah Berdaya Mencegah Pernikahan Dini, dalam Semangat Hari Kartini” di Pendopo Wahyawibawagraha, Rabu (15/4/2026).

Acara ini menjadi momentum penguatan sinergi lintas sektor dalam menangani persoalan krusial di daerah, mulai dari stunting hingga pernikahan anak.

Hadir sebagai narasumber utama, pakar pendidikan sekaligus pendiri Sekolah Cikal dan Guru Belajar Foundation, Najelaa Shihab.

Acara ini juga dihadiri oleh Bupati Jember Gus Fawait, Ketua TP PKK Kabupaten Jember Ning Ghyta, jajaran OPD, Camat dan Ketua PKK Kecamatan se Kabupaten Jember, hingga perwakilan guru serta Forum Anak Jember.

Tanggung Jawab Kolektif

Bupati Jember, Gus Fawait, menegaskan bahwa upaya memperbaiki kualitas pendidikan dan menekan angka pernikahan dini merupakan tanggung jawab kolektif.

Menurutnya, masalah kesehatan seperti stunting serta Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI-AKB) sangat berkaitan erat dengan fenomena pernikahan di usia belia.

“Masalah pernikahan dini, masalah pendidikan yang lainnya tidak bisa hanya diselesaikan oleh seorang Bupati atau seorang Kepala Dinas, tetapi perlu kerjasama yang baik antara semua pihak, baik pemerintah, baik Kepala Dinas dan jajaran, baik Kepala Sekolah, guru-guru, termasuk kerjasama dari keluarga,” ujar Gus Fawait.

Ia menambahkan, pemerintah daerah tengah merancang beberapa sekolah percontohan (pilot project) yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah di Jember.

“Ya, tadi kami sampaikan bahwa nanti akan ada beberapa pilot project yang menggambarkan sesuai dengan karakteristik dari Kabupaten Jember. Ada yang di kota, ada yang di desa, ada yang di pinggir pantai, dan lain sebagainya. Begitu nanti, nanti kita akan lihat bersama,” imbuhnya.

Nejelaa Shihab Apresiasi Pemkab Jember

Senada dengan hal tersebut, Najelaa Shihab memberikan apresiasi luar biasa terhadap komitmen Pemerintah Kabupaten Jember yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Ia menilai pendekatan pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh dan menyentuh akar permasalahan sosial di masyarakat.

“Pendidikan itu ya dari hulu ke hilir, sejak pendidikan keluarga, bahkan isu-isu sosial kemasyarakatan seperti pernikahan anak itu juga salah satu cara untuk mencari solusinya ya dengan pendidikan gitu,” kata Najelaa.

Putri dari Tokoh Cendekiawan Muslim Indonesia M. Quraish Shihab ini juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam sistem pendidikan agar lebih kontekstual dalam menyelesaikan masalah.

“Dan dimulainya itu dengan melakukan perubahan paradigma, berfokus pada bagaimana hubungan antar pemangku kepentingan lebih baik, kolaborasi yang lebih baik, percakapan-percakapan, sesi-sesi pengembangan kapasitas seperti yang kita lalui hari ini,” ungkapnya.

Najelaa juga menekankan bahwa kualitas pendidikan yang baik harus mampu menjawab tantangan yang ada di lingkungan sekolah masing-masing.

“Upaya lewat sekolah-sekolah percontohan yang memang direncanakan, sekolah-sekolah berdaya yang bukan cuma hanya berfokus pada akademik tapi juga melakukan pembelajaran kontekstual, menyelesaikan masalah di masyarakat dan sebagainya,” tambahnya.

Bagi Najelaa, setiap sekolah memiliki keunikan yang harus dikelola sesuai dengan kebutuhan masa depan anak.

“Nah tadi satu kata kunci yang penting juga dari Gus Bupati itu harus kontekstual, jadi ya sekolah di kota, sekolah di desa, sekolah di hutan gitu ya itu semua definisi kualitasnya itu tentu bisa berbeda-beda yang relevan untuk masing-masing tapi juga ada benang merahnya yang tentu harus berpihak kepada anak, harus betul-betul menyiapkan anak untuk masa depannya,” terangnya.

Di sisi lain, peran keluarga menjadi benteng utama dalam pencegahan pernikahan dini melalui edukasi yang berkelanjutan.

Ketua TP PKK Kabupaten Jember, Ghyta Eka Puspita atau yang akrab disapa Ning Ghyta, menyatakan bahwa PKK bertindak sebagai mitra strategis pemerintah.

“PKK sendiri di sini pastinya mitra strategisnya Pemerintah Kabupaten Jember, di sini memfokuskan kepada pendidikan keluarga. Bagaimana tadi yang disampaikan sama Bu Ela (Najelaa Shihab), semua permasalahan itu bermulanya di keluarga,” ungkap Ning Ghyta.

Ia menjelaskan bahwa edukasi kepada masyarakat dilakukan melalui pendekatan yang humanis dan forum berbagi.

“Jadi PKK di sini saya mengedukasi masyarakat lewat forum-forum berbagi cerita. Ada kurikulum pendidikan keluarga yang ingin disampaikan kepada banyak keluarga yang ada di Kabupaten Jember,” pungkasnya. (#)

- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img