JEMBER, JEMPOLINDO.ID – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang berniat mendamaikan perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran terdengar muluk, tapi sejatinya hanyalah sandiwara politik yang rapuh.
Dengan rencana kunjungan ke Teheran untuk “mempengaruhi” Iran menghentikan permusuhan, Prabowo seolah-olah memposisikan Indonesia sebagai juru damai global.
Namun, ini bukanlah misi netral, melainkan langkah yang sarat bias dan kepentingan pribadi, yang justru memperburuk citra Indonesia di mata dunia Islam.
Mari kita bedah mengapa inisiatif ini ditakdirkan gagal, dan mengapa Prabowo tak layak dianggap sebagai pembawa perdamaian.
Pertama, netralitas Prabowo sudah tercemar sejak Indonesia bergabung dengan Dewan Perdamaian Palestina (BoP), inisiatif Donald Trump yang jelas-jelas pro-Israel. BoP, yang digagas era Trump, bukanlah forum impartial, ia dirancang untuk mendukung agenda AS-Israel dalam konflik Palestina, sering mengabaikan hak-hak rakyat Palestina dan sekutu mereka seperti Iran. Prabowo, sebagai pemimpin negara mayoritas Muslim, seharusnya menolak keanggotaan ini jika benar-benar ingin jadi mediator. Alih-alih, ia memeluknya, menjadikan Indonesia sebagai pion dalam geopolitik Barat.
Bagaimana mungkin seseorang yang sudah “bersekutu” dengan satu pihak menjadi juru damai? Ini seperti wasit yang di rumah memakai jersey Arsenal, ditugasi memimpin laga Arsenal vs Man. City, kredibilitasnya nol.
Keraguan dari banyak pihak bukanlah paranoia, tapi realitas, Prabowo tak punya leverage moral untuk meyakinkan Iran, yang melihat BoP sebagai alat penindasan.
Kedua, sikap diam Prabowo atas tragedi kemanusiaan di Iran semakin menegaskan biasnya. Hingga hari ketiga pasca-serangan bom AS-Israel yang menewaskan Imam Ali Khamenei (pemimpin spiritual jutaan umat Islam Syiah) tak ada ucapan belasungkawa resmi dari Istana atau kementerian terkait.
Khamenei bukan sekadar politisi, beliau simbol perlawanan terhadap hegemoni Barat di Timur Tengah. Diamnya Prabowo adalah pengkhianatan terhadap solidaritas umat Islam, apalagi Indonesia yang mengklaim sebagai negara Muslim terbesar.
Lebih parah, Prabowo juga bungkam atas gugurnya mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam insiden serupa. Ahmadinejad, meski kontroversial, adalah suara anti imperialisme yang lantang.
Kenapa Prabowo tak bereaksi? Karena itu akan mengganggu hubungannya dengan Washington dan Tel Aviv? Ini bukan diplomasi bijak, tapi oportunisme murahan yang mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan demi aliansi ekonomi atau militer.
Ketiga, konteks domestik memperburuk segalanya. Di Indonesia, respons atas kematian Khamenei dan Ahmadinejad amat minim. Hanya ormas seperti Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang menyatakan duka mendalam, sementara ormas Islam besar seperti NU atau Muhammadiyah diam seribu bahasa.
Ini mencerminkan polarisasi umat, mayoritas Sunni Indonesia enggan berempati pada tokoh Syiah, tapi Prabowo sebagai presiden seharusnya menjembatani, bukan ikut diam.
Kunjungannya ke Teheran kini terlihat absurd, ngapain pergi jika sudah berat sebelah? Apakah untuk “mendikte” Iran agar tunduk, seperti yang diinginkan AS-Israel? Atau sekadar pencitraan untuk menutupi kegagalan domestik, seperti isu ekonomi atau korupsi yang masih merajalela di era pemerintahannya?
Secara lebih dalam, misi ini mengungkap kegagalan visi Prabowo sebagai pemimpin global.
Sejak kampanye 2024, ia janjikan Indonesia kuat di panggung dunia, tapi realitanya, bergantung pada investasi Barat, militer yang masih impor senjata dari AS-Israel, dan kebijakan luar negeri yang oportunis.
Iran, dengan sejarah perlawanan panjangnya, tak akan tergoda oleh “pengaruh” dari presiden yang tak punya track record netral. Lihat saja kegagalan mediator lain seperti Turki atau Qatar, mereka punya kredibilitas karena tak sepenuhnya condong.
Iran tetap menolak dan memilih Oman. Prabowo? Ia lebih mirip aktor pendukung dalam drama Trump-era, bukan protagonis damai.
Akhirnya, ini bukan soal Prabowo gagal atau berhasil, ini soal integritas. Indonesia layak punya pemimpin yang benar-benar membela keadilan, bukan yang main dua kaki.
Misi damai ini hanyalah ilusi, yang justru memperlemah posisi kita di dunia Islam. Prabowo harus introspeksi, damai sejati dimulai dari netralitas, bukan sandiwara. Jika tidak, ia hanya akan dicatat sejarah sebagai presiden yang gagal membaca angin geopolitik. (sar)





