20.4 C
East Java

Partisipasi Mahasiswa KKN Posko 156 Desa Pakis dalam Program Pendampingan Keluarga Berisiko Stunting Berbasis Teknologi 

Jember, Jempolindo.idArtikel ini ditulis oleh Siti Nur Wulandari, Mahasiswa Institut Teknologi dan Sains Mandala Jember, yang sedang melaksanakan tugas KKN Kolaboratif, bersama 11 Mahasiswa lainnya, di Desa Pakis, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, sejak tanggal 17 Juli hingga 22 Agustus 2025. 

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Posko 156 Universitas Jember yang ditempatkan di Desa Pakis, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, menunjukkan partisipasi aktif dalam mendukung pelaksanaan kegiatan pendampingan keluarga berisiko stunting.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program percepatan penurunan stunting yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom.

Program ini bertujuan memberikan pembekalan kepada para kader lapangan terkait strategi pendampingan terhadap keluarga yang masuk dalam kategori berisiko tinggi terhadap stunting.

Mahasiswa KKN berperan sebagai fasilitator teknis, pendamping lapangan, serta dokumentator kegiatan.

Mereka membantu memastikan kelancaran acara, mulai dari persiapan teknis hingga pelaksanaan dan pelaporan.

Mahasiswa turut membantu proses penginputan data keluarga berisiko stunting yang mencakup beberapa kategori sasaran, yaitu calon pengantin (catin), ibu hamil (bumil), ibu menyusui (bulin), bayi di bawah dua tahun (baduta), balita, dan pasangan usia subur (PUS).

Proses penginputan data ini dilakukan pada pukul 10.00 hingga 12.00 WIB dan menjadi bagian penting dari kegiatan pendampingan.

Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, antara lain mahasiswa KKN Posko 156, bidan desa, kader kesehatan, anggota Tim Penggerak PKK Desa Pakis, serta tokoh perempuan desa yang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Kehadiran mereka menunjukkan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendukung program kesehatan yang berkelanjutan.

Mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dan kepedulian sosial dengan membantu persiapan teknis dan non-teknis acara.

Mereka terlibat langsung dalam penataan ruangan, menata kursi untuk ibu-ibu peserta Zoom, menyiapkan perlengkapan seperti kabel panjang (olor), sistem pengeras suara, dan laptop sebagai media utama kegiatan daring.

Selama acara berlangsung, beberapa mahasiswa juga bertugas mendokumentasikan momen-momen penting dalam bentuk foto dan video sebagai bahan laporan kegiatan.

Kegiatan Zoom dipusatkan di Balai Desa Pakis sebagai titik kumpul utama. Hal ini dilakukan untuk mengakomodasi peserta yang mengalami kesulitan akses teknologi, sehingga mereka tetap dapat mengikuti kegiatan secara bersama-sama dengan bantuan perangkat yang disediakan oleh mahasiswa dan perangkat desa.

Desa Pakis dipilih sebagai lokasi KKN karena termasuk wilayah dengan angka stunting yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi bagian dari intervensi strategis untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam mencegah stunting.

Program ini dilaksanakan selama masa KKN, yaitu dari awal Juli hingga pertengahan Agustus 2025. Kegiatan Zoom dilakukan secara berkala setiap minggu, dengan sesi tambahan berupa kunjungan lapangan dan diskusi kelompok kecil bersama keluarga sasaran.

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada tumbuh kembang anak secara fisik dan kognitif.

Pencegahannya memerlukan pendekatan lintas sektor, termasuk edukasi langsung kepada keluarga yang berisiko. Kegiatan ini memberikan akses informasi dan pendampingan kepada masyarakat yang sebelumnya sulit dijangkau oleh layanan kesehatan formal.

Kegiatan dilaksanakan melalui kolaborasi antara mahasiswa, perangkat desa, dan tenaga kesehatan.

Mahasiswa mengatur teknis pelaksanaan, serta menyusun materi pendampingan yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Mereka juga melakukan sosialisasi kepada warga dan membantu peserta memahami cara menggunakan perangkat digital.

Setelah setiap sesi Zoom, mahasiswa melakukan evaluasi dan tindak lanjut berupa kunjungan rumah, diskusi kelompok, dan pemberian leaflet edukatif.

Kehadiran mereka juga meringankan beban kerja para kader yang bertugas menginput data, sekaligus memberikan semangat dan dorongan kepada para ibu kader yang menjadi garda terdepan dalam mendampingi keluarga di desa mereka. (*)

Table of Contents
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img