Dompu – jempolindo.id – Ribuan petani tebu Kabupaten Dompu gelar Deklarasi Dukung Ganjar Pranowo sebagai Presiden RI periode tahun 2022 – 2029 di Desa Sorinomo Kecamatan Pekat, pada Senin (25 Juli 2022) siang.
Gelar deklarasi itu bertajuk, Gebyar Silaturahmi Kebudayaan, Santunan Anak Yatim dan Dhuafa, yang diselenggarakan oleh Petani Tebu Bersatu Wilayah Kerja Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu Nusa Tenggara Barat.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Lalu Zainuddin, dukungan terhadap Ganjar sebagai Presiden RI, pengganti Joko Widodo, dengan alasan Ganjar dinilai memiliki kepedulian terhadap aspirasi petani tebu, yang selama ini nasibnya masih dipandang perlu untuk diperjuangkan.
“Kalau kita saksikan profilnya, Pak Ganjar merupakan sosok yang peduli terhadap pemberdayaan petani tebu khususnya, dan petani pada umumnya,” paparnya, disela – sela gelaran deklarasi itu.
Ganjar juga dinilai memiliki kepedulian terhadap pengembangan seni, adat istiadat dan budaya di Indonesia, kata Lalu Zainuddin, itu ditunjukkan dengan sikapnya yang terus memperjuangkan tumbuh kembangnya kebudayaan.
“Kita butuh pemimpin yang memiliki karakter kepemimpinan yang tidak meninggalkan akar budaya bangsa,” tegasnya.
Terlebih, lanjut Lalu Zainuddin, Indonesia yang memiliki beragam suku bangsa, adat istiadat dan agama, sangat membutuhkan pemimpin yang mampu menjadi perekat.
“Kami ingin NKRI harga mati Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya sekedar slogan belaka, Kami percaya Pak Ganjar merupakan sosok yang mampu mempersatukan keberagaman itu dalam perkembangan dinamika bangsa ini,” tandasnya.
Untuk itulah, kata Lalu Zainuddin Gelaran Deklarasi kali ini, dinilainya sebagai miniatur Indonesia, karena melibatkan berbagai tokoh adat dan suku yang ada di Pulau Sumbawa.
“Sengaja kali ini kami ajak seluruh elemen masyarakat, tanpa terkecuali untuk memberikan dukungan tulus kepada Bapak Ganjar,” ucapnya menyakinkan.
Hal itu dibenarkan Tokoh yang hadir, diantaranya Ketua Laskar Sasak Lalu Wira Sungkana, yang akrab disapa Mamik Kana, menegaskan bahwa keterlibatannya dalam deklarasi itu untuk turut memberikan dukungan atas lancarnya Gelaran Deklarasi itu.
“Aspirasi masyarakat memang harus ada yang memperjuangkan, terutama dalam upaya menyatukan keberadaan adat, suku yang ada, untuk kemajuan Indonesia ke depan,” tegasnya.
Begitupun dengan pendapat Ketua Sanggar Turonggo Sawiji Suratno, yang menegaskan bahwa Deklarasi yang dikemas dengan Gelaran Seni Budaya itu, memperkuat bahwa Ganjar Pranowo memang sosok yang pantas didukung.
“Kami datang dari Jawa, tepatnya Ponorogo, sejak tahun 1986, saat ini kami tinggal di Kabupaten Bima,” ujarnya.
Pada Gelaran Deklarasi itu, Suratno sengaja membawa kesenian Reog Ponorogo, untuk membuktikan bahwa Reog juga merupakan produk kesenian milik Indonesia.
“Meski tertatih tatih, kami terus berusaha merawat kebudayaan berupa kesenian reog dan jaranan. Kedepan, kami butuh sosok yang peduli terhadap tumbuh kembangnya kesenian,” tegasnya.

Begitupun pendapat Penasehat Majelis Sasaka Tanah Dompu Abdul Jabar, menegaskan bahwa selama ini sedikit sekali yang peduli terhadap eksistensi Suku Dompu.
“Kami berbahagia, karena dengan gelaran deklarasi ini, semoga Adat Suku Dompu bisa didengar diseantero Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya.
Jabbar menampilkan kesenian Maka dan Mihu, sebagai kesenian budaya lesan yang hanya dikenal dikalangan Suku Dompu.
“Kami membutuhkan sosok yang mampu dan bersedia memperjuangkan keberadaan Suku Dompu, yang selama ini seperti dipinggirkan,” ujarnya.
Begitupun dengan pendapat Pegiat kesenian Gentau, Imron yang juga turut memeriahkan Deklarasi Dukungan Terhadap Ganjar Pranowo, mengakui turut berbahagia, pasalnya bisa menampilkan kesenian asal Suku Bima, yang selama ini telah dikembangkannya.
“Kami sudah cukup terbantu dengan Gelaran Deklarasi ini, setidaknya orang tahu tentang kesenian kami,” tandasnya.
Tak terkecuali Suku Bali juga turut menampilkan dua tarian penyambutan tamu, menurut Perwakilan Suku Bali Kadek, selama ini suku Bali yang tinggal di Kabupaten Dompu dapat hidup berdampingan, tanpa mempersoalkan keyakinan dan suku nya.
“Kami sadari bahwa kami merupakan bagian dari Indonesia,” tandasnya.
Tampak dalam gelaran deklarasi juga hadir perwakilan Suku Osing Banyuwangi, Suratmin yang juga merasa senang telah mendapat kesempatan untuk menampilkan Jejer Gandrung.
“Meski hanya sekedar semampunya, namun kami merasa sudah ada yang memperhatikan,” ujarnya. (#)