Lombok NTB – jempolindo.id – Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) diharapkan melibatkan muatan kearifan lokal. Hal itu dinyatakan Direktorat Jenderal Konservasi SDA dan Ekosistem Wiratno MSC usai digelarnya acara adat Sasak Asuh Gunung Rinjani di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Senin (22/02/2021)
“Kita harus menghargai kembali nilai – nilai adat, lokal wisdom. Kaitannya dengan alam, manusia dan Tuhan,” kata Wiratno.
Wiratno menegaskan bangsa Indonesia memiliki kekuatan budaya yang seharusnya dipadukan secara harmonis.
“Karenanya pengembangan wisata bukan saja alam tetapi juga budaya yang dipadukan dengan kekuatan alam,” tuturnya.
Menurut Wiratno sudah ada 14 titik Desa yang sudah mengembangkan kekuatan adat sebagai upaya konservasi penyelamatan sumber daya alam,” jelasnya.
Konservasi Hutan dan SDA harusnya menjadikan manusia sebagai subjek utama. Karenanya, kata Wiratno gagasan Lombok Mercusuar merupakan gagasan yang patut didukung.
“Bagus itu, semua bisa menjadi busur sekaligus panah. Saya kira kita berada didalam keragaman NKRI yang memiliki kekayaan alam dan budaya, itu kekuatan kita yang tidak ada di negara lain, seperti Jepang one culture, Thailand one culture,” tegasnya.
Begitupun dengan gagasan sekolah alam yang sempat dilontarkan penyelenggara, menurut Wiratno merupakan upaya mendokumentasikan kekayaan hasanah nilai – nilai adat.
“Bagi masyarakat adat bukan hanya soal uang, melainkan bagaimana mewariskan nilai – nilai adat kepada generasi mendatang. Adat memiliki nilai spiritual dan historis yang itu harus dijaga,” tegasnya.
Pihaknya menegaskan, keberadaan sekolah alam juga merupakan upaya melibatkan masyarakat adat yang sudah ratusan tahun berada disekitar hutan.
“Seperti acara adat Asuh Gunung, dalam hal ini Gunung Rinjani,” katanya.
Pencetus Lombok Mercusuar, Kepala Badan Inteligen Negara (BIN) Daerah NTB Ir Wahyudi Adisiswanto MSi yang hadir saat acara itu menjelaskan, acara adat Asuh Gunung Rinjani bukan sekedar acara adat yang sudah rutin digelar agar gunung tidak murka, melainkan juga jika disimak dari sejarah ada energi besar dari kekuatan Gunung Rinjani.
“Ketika Gunung Rinjani masih bernama Gunung Samalas, sekitar tahun 1257 Maesi, letusannya memberikan dampak gelobal, berarti ada energi besar di Gunung Rinjani yang akan berulang pada abad – abad berikutnya,” tuturnya.
Dahsyatnya letusan Gunung Samalas menimbulkan munculnya Gunung Rinjani dan Segara Anakan.
Wahyudi berharap kekuatan besar Gunung Rinjani akan memberikan energi positif bagi pertumbuhan Bangsa Indonesia.
Kaitannya dengan penanganan kondusivitas keamanan, Wahyudi menjelaskan kekuatan adat sebenarnya merupakan perilaku yang berbasis trilogi, hubungan manusia dengan Tuhan dan Alam.
” jika nilai – nilai adat bisa diterima di seluruh tatanan adat, maka Indonesi akan menjadi bangsa yang besar, dengan generasinya yang tahu adat,” tegasnya.
Gelar Ritual Adat Asuh Gunung Rinjani diikuti perwakilan tokoh adat Sasak seluruh Pulau Lombok, yang diprakarsai oleh Laskar Sasak. (*)