25.3 C
East Java

Nasib Malang TKI Ditanggapi Tokoh Bangsalsari

Loading

Jember – Nasib malang TKI  gelap Indonesia, yang tenggelam di perairan Indonesia – Malaysia mendapat  perhatian tokoh Bangsalsari.  Terpantau, sejak pertengahan desember 2021 hingga pertengan Januari 2022 terhitung 3 laka laut yang menewaskan puluhan imigran Indonesia dan puluhan lainnya hilang. Kamis (26/01/2022).

 

Informasi yang terhimpun, pada tanggal 15 Desember 2021, kapal yang membawa setidaknya 60 orang imigran terbalik diperairan Tanjung Balau, Kota Tinggi Johor Baru Malaysia, 21 orang dilaporkan ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, 13 orang selamat dan 16 orang lainnya hilang.

Lalu pada 25 Desember 2021 kejadian serupa terulang lagi, kapal yang membawa setidaknya 57 imigran tenggelam diperairan Sekinchan Selangor Malaysia, 10 imigran dilaporkan tewas dalam kejadian tersebut dan 35 lainnya berhasil diselamatkan.

Terakhir Speedbood yang membawa setidaknya 19 imigran dilaporkan terbalik diperaian Selat Morong Pulau Rupat Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau pada 14 Januari 2022. 4 orang dilaporkan meninggal dunia dan 15 orang lainnya selamat.

Pada kejadian tersebut, 2 dari 4 orang yang meninggal dunia adalah suami istri warga kabupaten Jember Jawatimur, keduanya adalah SA warga Ajung Jember dan istrinya SR warga Dusun Bedahan Jerit Desa Curahkalong Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.

Jenazah SR dijemput dan diantarkan kerumah duka oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Jember dan BP2MI Jawa Timur. Turut serta dalam pemulangan jenazah tersebut, Muspika Bangsalsari, Pemerintah Desa Curah Kalong, Babinsa dan Babinkamtibmas desa Curah Kalong, jenazah tiba dirumah duka. Jenazah  diterima langsung oleh keluarga  Almarhumah, pada rabu malam (19/1/2022) sekira pukul 23:00 wib.

Salim, orang tua almarhumah menyebutkan,  sempat mencegah SR untuk berangkat kedua kalinya ke Malaysia, namun SR tetap memaksa.

Menanggapi tragedi imigran gelap itu, Camat Bangsalsari Supriono saat ditemui diruangannya mengatakan, bahwa imigran-imigran gelap itu dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Nasib Malang TKI
Caption : Camat Bangsalsari Supriono

“Ini urusan perut mas, siapa saja bisa melakukan apa saja kalau perut sudah lapar,” tutur Supriono.

Lemahnya informasi masyarakat tentang tata cara bekerja ke luar negeri, menurut Supriono telah dimanfaatkan oknum yang hanya menguntungkan dirinya, tanpa peduli dengan resiko yang harus diderita calon TKI/PMI.

“Nah kondisi mereka yang seperti ini, lalu dijadikan peluang untuk meraup keuntungan pribadi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk diberangkatkan menjadi imigran gelap,” tegasnya.

Ditempat terpisah,  Kepala Desa Curahkalong H Abdul Kadir menyatakan, keberangkatan para imigran gelap itu bukan semata-mata karena tuntutan ekonomi, tapi ada calo (tekong) yang mengiming-imingi mereka dengan gaji besar.

Nasib Malang TKI
Caption : Kepala Desa Curahkalong H Abdul Kadir

“itu bukan hanya tentang masalah tuntutan ekonomi, tapi ada yang mengiming-imingi mereka agar berangkat menjadi imigran gelap,” tutur Kadir.

Hal itu, menurut Kadir dapat dilihat dari kondisi ekonomi Warga Desa Curahkalong, yang rata – rata kehidupannya dibawah garis kemiskinan, dengan pengetahuan dan informasi minim.

“Warga kami dibagian utara itu umumnya berkebun kopi dengan menumpang tanah perhutani, mas bisa cek sendiri kondisi ekonomi korban, jadi ini bukan hanya permasalahan ekonomi, ada yang mengiming-imingi korban,” jelas Kadir.

Agar kejadian serupa tidak terulang terus,  tokoh intelektual muda Desa Curahkalong Achmad Anwari, meminta agar  Pemerintah Desa perlu membentuk Lembaga Terpadu Satu Pintu (LTSP) untuk meminimalisir pengiriman Imigran gelap.

Nasib Malang TKI
Caption : Tokoh Pemuda Desa Curahkalong Achmad Anwari

“Pemerintah Desa sebagai lingkup pemerintahan terkecil Perlu membentuk LTSP, agar terjadi kontrol untuk  menekan angka keberangkatan TKI ilegal,” Kata Anwari.

Disamping itu, Anwari menilai sulitnya keberangkatan Calon TKI/PMI yang melalui jalur formal, sehingga ada kecendrungan Calon PMI mencari jalan pintas yang dianggapnya lebih mudah, meski berisiko fatal.

“Untuk itu, perlu kiranya Dinas-dinas terkait mempermudah pengurusan administrasi para calon TKI dan Juga meminimalisir pembiayaan, sehingga calon TKI memilih yang legal dibanding yang ilegal,” ungkapnya.

Berbeda halnya dengan pendapat Tokoh Masyarakat Bangsalsari Nurdiansya Rachman, yang lebih menitik beratkan pada upaya meningkatkan perekonomian masyarakat, sehingga dapat menekan keinginan warga untuk menjadi TKI.

Nasib Malang TKI
Caption : Tokoh Masyarakat Kecamatan Bangsalsari Nurdiansyah Rahman

“Alternatif terbaiknya, adalah dengan meningkatkan ekonomi masyarakat, dengan menciptakan lapangan kerja baru, sehingga warga tidak tergiur untuk menjadi TKI,” tandasnya. (Yus)

Table of Contents
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img