Jember – Jempolindo.id _ Ngurus sertifikat malah merasa ditipu, awalnya warga Dusun Muneng, Desa Mayangan Kecamatan Gumukmas NH (35) mengurus akta waris melalui kepala dusun “K”, yang cukup lama tidak segera diproses, lalu diikutsertakan program PTSL Desa Mayangan tahun 2020.
Merasa Tertipu :
Karenanya, NH kecewa atas tindakan yang dilakukan “K”. kepada media, NH menceritakan awal tahun 2020, sekitar satu bulan sebelum PTSL Tahun 2020 , dirinya bersama beberapa keluarganya membuat 7 (tujuh) akte waris dari orang tuanya (Bapak) kepada anak dan cucunya melalui “K”. Selasa (30/03/2021),
Padahal NH telah membayar sualikan akte waris, yang hargaya beragam, jika akte waris dari Bapak ke anak sebesar Rp 2.250.000 rupiah per akte, sedangkan untuk biaya akte dari kakek ke cucu sebesar Rp 1 juta lebih mahal, jadi 3.250.000 rupiah per akte, totalnya 19.750.000 rupiah.
“Uangnya sudah diterima langsung oleh Pak Kampung,” Kata NH.
DIdaftarkan melalui PTSL :
Satu bulan kemudian, HN menjelaskan, Kasun “K” menemui keluarganya dan mengatakan bahwa proses sualikan telah didaftarkan program PTSL.
Selanjutnya, NH menjelaskan, biaya PTSL 300 ribu per sertifikat, jadi totalnya 2.100.000 rupiah untuk 7 akte. Uang yang masuk 19.750.000 rupiah, jadi dikurangi 2.100.000 rupiah, masih ada sisa sekitar 17 juta Rupiah.
Sumber informasi jempol berusaha menghubungi ‘K”, sayangnya “K” cukup sulit ditemui. Hingga berita diterbitkan, “K” tidak berhasil dihubungi.
“K” Sulit Dihubungi :
Sebelumnya, sumber jempol sempat mengkorfirmas kepada “K” yang mengaku uang yang diterimanya dari NH telah diserahkan kepada Mantan Kepala Desa Mayangan Sulimah, setelah dikonfirmasi, Sulimah menyatakan tidak pernah merasa menerima sejumlah uang dimaksud.
Tanpa alasan yang jelas “K” tiba – tiba sulit dihubungi, sementara NH harus menerima nasibnya telah menjadi korban dugaan penipuan yang dilakukan oleh oknum tak bertanggung jawab.
Lebih lanjut, NH berharap nasib naas yang menimpanya mendapatkan perhatian pihak berwajib, meski NH tak mengerti harus berbuat apa dan bagaimana. Orang kecil seperti NH bisanya tentu saja serba bingung, dan sering menjadi korban oknum yang dengan sengaja memanfaatkan ketidak tahuannya. (Arisvan)