Lombok NTB – Jempolindo.id – Siapa nyana pernah terjadi tekanan politis terhadap Suku Sasak yang terungkap saat digelarnya ritual adat Asuh Gunung di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, Senin(22/02/2021)
Sekitar tahun 1990 an, dikisahkan Tetua Suku Sasak Mamiq Datuk Artiadi suku Sasak mengalami tekanan, hingga dihawatirkan akan memberangus eksistensi adat suku Sasak.
Tekanan yang berlebihan digambarkan Datuk Artiadi secara mengerikan, bukan saja upacara ritual adat saja yang dilarang, bahkan memakai ikat kepala, kereng (sarung adat, bebet (ikat pinggang adat) juga tidak diperkenankankan.
“Kalaupun ada yang berani melakukan, maka hukumnya ditangkap dan direndam,” kisahnya.
Atas tekanan yang semakin menghawatirkan itu, yang sudah mengarah pada pembantai suku secara masal (genocide), Datuk Artiadi melakukan perlawanan dengan mendirikan Teater tradisional.
Masyarakat adat saat itu kisah Datuk Artiadi merasa lebih rendah daripada maling.
“Karenanya kami melakukan perlawanan dengan teater, karena diatas panggung kita bebas berbicara,” tegasnya.
Tahun 1999,. Datuk Artiadi mendirikan Organisasi Persekutuan Adat Lombok Utara yang dijadikannya sebagai alat perjuangan mempertahankan nilai – nilai adat.
Ditengah tekanan yang semakin kuat, Datuk Artiadi bersama pelaku kebudayaan membawa kengerian itu pada tingkat nasional.
“Saat itu mereka ingin menggelar kongres adat di Jakarta, tapi kita memaksa agar diselenggarakan di Lombok,” kata Datuk Artadi.
Bagi Datuk Artiadi meenggelar Acara Adat sepantasnya dilakukan ditengah masyarakat adat, para peserta bisa menginap dirumah masyarakat.
” Alhamdulillah, kami seperti mengalami renaesance ( kelahiran kembali) meski tekanan terus berlanjut,” katanya.
Namun, kebangkitan itu tertatih – tatih karena adanya tekanan dan intimidasi yang luar biasa.
Situasi yang mencekam itu terjadi lebih dari 20 tahun, yang akibat hebatnya tekanan banyak masyarakat yang mulai meninggalkan adat.
“Generasi muda tidak lagi bisa menikmati keindahan adatnya,” tutur sesepuh adat itu.
Berpijak dari kesedihan sejarah masa lalu itu, sebagai pelaku sejarah Datuk Artadi yang usianya sudah 80 tahun merasa perlu mendorong tumbuhnya kesadaran bagi bangkitnya kembali nilai – nilai adat.
“Nilai – nilai adat jangan sampai mati, kalau mati dimana mau dicari kuburannya,” pungkasnya. (*)