16.6 C
East Java

Hari Santri Nasional 2022. Bupati Jember: Merupakan Momentum Semangat Kepahlawanan

Loading

Jember – Jempolindo.idHari Santri Nasional yang dicanangkan sejak tahun 2015, berpijak dari semangat bersama dalam memperjuang kemerdekaan Republik Indonesia, menjadi momentum semangat kepahlawanan. Karenanya, sudah sepatutnya dirayakan bersama, 

Jempolindo, Jember, Hari Santri Nasional, Momentum Semangat Kepahlawanan
Keterangan: Peserta Apel bersama perigatan Hari Santri Nasional Tahun 2022 di Alun – alun Kabupaten Jember

Pernyataan itu disampaikan Bupati Jember Ir H Hendy Siswanto ST IPU,  usai memimpin  apel Upacara memperingati Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2022, yang bertemakan “Berdaya Menjaga Martabat Kemanusiaan” di Alun-alun kota Jember, pada Sabtu (22/10/2022) pagi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, selain Bupati Jember, Jajaran Forkopimda Kabupaten Jember, jajaran kepala OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jember, serta ribuan santri dari berbagai Pesantren se-kabupaten Jember.

Hendy berpesan untuk anak muda, sekarang harus mengimplementasikan bukan untuk berperang lagi, tapi bagaimana mempertahankan NKRI.

“Bagaimana memajukan Negeri ini, bagaimana mensejahterakan, kita masih punya persoalan tentang ekonomi tentang kemiskinan,” ujarnya.

Oleh sebab itu, kata Bupati Hendy, anak – anak muda harus menjadi satu,  mempertahankan Negeri yang kita cintai, diantaranya dengan turut memajukan  ekonomi.

Hendy menjelaskan, bahwa kekuatan Pesantren dalam ikut serta membangun Bangsa tidak di ragukan lagi.

“Kekuatan Pesantren tentunya tidak bisa di pungkiri lagi, banyaknya Pesantren tidak bisa terlepas dari bagian dari Negeri yang kita cintai Ini. ” Pungkasnya.

Sebelumnya,  Bupati Jember Hendy Siswanto membacakan teks sambutan amanat Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, akrab disapa Gus Yahya.

Gus Yahya mengatakan bahwa bertepatan dengan peringatan 70 tahun Resolusi jihad Pemerintah memberikan pengakuan peran penting perjuangan para Ulama dengan menjadikan 22 Oktober sebagai hari santri Nasional

Menurut Gus Yahya, apresiasi tersebut di sampaikan di Masjid Istiqlal, yang dituangkan dalam keputusan Presiden nomor 22 tahun 2015 tgl 15 Oktober 2015, dengan penetapan Pemerintah tersebut, kata Gus Yahya, tentunya patut disyukuri Hari Santri Nasional, sebagai momentum untuk mengenang dan menghormati jasa perjuangan para pahlawan, seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, Tengku Fakinah, Maria Josephine Chaterine Maramis dan masih banyak pahlawan lainnya yang turut berjuang sejak zaman pra Resolusi kemerdekaan.

Lebih lanjut, Gus Yahya memaparkan, lahirnya Hari Santri Nasional, merujuk pada  sejarah lahirnya hari santri Nasional bersumber pada fatwa KH Mohammad Hasyim Asy’ari, sebelum fatwa ini lahir, para Ulama Pesantren Jawa Madura menggelar rapat di kantor PBNU di jalan Puputan Surabaya pada tgl 21 – 22 Oktober 1945.

Dalam rapat tersebut, menghasilkan 2 keputusan, keputusan itu kata Gus Yahya berhasil menggerakkan rakyat melawan penjajahan, yakni memohon dengan sangat kepada Pemerintah Republik Indonesia supaya menentukan suatu sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap usaha – usaha yang akan membahayakan kemerdekaan.

“Juga supaya memerintahkan melanjutkan perjuangan bersifat sabilillah untuk tegaknya Negara Republik Indonesia dan Agama Islam, kita kenal fatwa atau keputusan itu dengan nama Resolusi jihad,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Gus Yahya, beberapa peristiwa yang membutuhkan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan antara lain, peristiwa perebutan senjata Tentara Jepang pada 23 September 1945, yang pada ahirnya membawa Presiden Soekarno melalui utusannya berkonsultasi kepada Kyai Hasyim Asy’ari yang dinilai memiliki pengaruh di hadapan para Ulama.

“Fatwa ini memang patut ditahbiskan sebagai tonggak sejarah yang tidak hanya bermakna heroik dalam konteks kemerdekaan Republik Indonesia, tapi juga sebagai penanda paling lugas dari tekad para ulama, sebagai rakyat Indonesia yang mencintai bangsanya, untuk membangun peradaban baru dengan menetapkan berdirinya Republik Indonesia sebagai Negara-Bangsa,” ungkapnya.

Keberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, wajib dipertahankan,  Jihad Fi Sabilillah dengan pahala syahid.

“Jihad fi Sabilillah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan melawan pasukan kolonial inilah yang menjadi esensi Fatwa Resolusi Jihad,” tandasnya.

Kala itu, para kyai dan pesantrennya memimpin banyak perjuangan bagi kemerdekaan bangsa untuk mengusir para penjajah. Sehingga, bisa disimpulkan Resolusi Jihad merupakan bagian dari cikal bakal berkobarnya semangat para pahlawan, untuk berjuang meraih kemerdekaan hingga akhirnya tanggal 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

Dari alur sejarah ini, lanjut Gus Yahya,  bisa dipahami meski merupakan fatwa dari Hadlratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar NU waktu itu bersama para ulama Iainnya, Resolusi Jihad menjelma menjadi seruan yang disambut serempak oleh segenap anak bangsa di seluruh Indonesia, dari semua kelompok dan kalangan, terlepas dari perbedaan Iatar belakang apa pun, termasuk perbedaan agama.

“Meski demikian, Hari Santri tidak boleh dijadikan alasan oleh kelompok mana pun pada generasi saat ini untuk menuntut balas jasa, tidak oleh Nahdlatul Ulama ataupun pesantren. Kenapa? Karena yang berjasa mempertahankan kemerdekaan negara Indonesia bukan generasi masa kini, bukan kita, melainkan para pahlawan agung dari Generasi 1945 lalu,” jelasnya.

Tugas generasi saat ini, menurut Gus Yahya meski tidak turut serta berjuang bertaruh nyawa untuk negara dan bangsa Indonesia, namun bisa mensyukuri kemerdekaan dan mengenang jasa para pahlawan dengan membulatkan tekad untuk meneladani perjuangan mereka, sesuai momentum yang dihadapi.

“Tahun 2022 adalah momentum bagi Indonesia yang memimpin dunia lewat Presidensi G20. Kewajiban generasi inilah untuk mendukung penuh Pemerintah Indonesia dalam kancah global dan membangun Indonesia yang sama-sama kita cintai. Nahdhlatul Ulama memelopori R20, sebagai G20 Religion Forum, yang belum pernah ada sebelumnya,” paparnya.

Dalam tiga tahun berturut-turut, G20 dipimpin oleh Indonesia yang mayoritas muslim, dilanjutkan India yang mayoritas Hindu, dan Brasil yang mayoritas Katolik. Dengan mensinergikan nilai-nilai yang dimiliki agama-agama, hal ini akan menjadi kekuatan penting yang masih relevan untuk menjawab tantangan zaman, bahkan 77 tahun, sejak Resolusi Jihad.

Selain itu, perlu pula meneladani semangat cinta tanah air dengan terus memupuk rasa nasionalisme. Hal ini dapat dilakukan dengan senantiasa mencintai Tanah Air Indonesia, bangga akan bangsa sendiri.

“Tanpa maksud berpikiran chauvinistik dan menjaga eksistensi bangsa Indonesia secara bersama-sama tanpa terkecoh dengan politik identitas yang bisa saja merongrong rasa patriotisme generasi bangsa,” demikian cuplikan pesan Ketum PB NU KH Yahya Staquf, yang dibacakan Bupati Jember Ir H Hendy Siswanto. (Agung).

Table of Contents
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img