Jember _ Jempolindo.id – FIlm Pesantren merupakan film dokumenter yang menyorot kehidupan santri di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Cirebon. Menggambarkan secara menarik, sisi lain kehidupan keseharian santri. Dewan Kesenian Kampus (DKK) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember serta Bioskop Online, berhasil membedah habis, saat menggelar acara pemutaran dan diskusi film Pesantren. pada hari Kamis, (14/07/2023).

Pertama kali tayang di International Documentary Film Festival, film Pesantren ternyata juga berhasil menarik perhatian penonton dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum Jember.
Membawa perspektif yang berbeda tentang pesantren, film ini juga mengangkat nilai tentang kesetaraan manusia, gender, dan toleransi.
Lewat sesi diskusi, melalui Zoom Hanna Humaira selaku produser Bioskop Online menyampaikan alasannya mengapa mengangkat film Pesantren di platformnya.
Menurut Hanna, film ini bisa menepis pandangan masyarakat umum mengenai pesantren yang semakin buruk dan kolot.
“Film ini memberikan suatu hal dan perspektif yang berbeda tentang pesantren. Serta memperlihatkan hal-hal progresif dalam pesantren. Contohnya pemimpim pesantren perempuan,” jelas Hanna.
Alasan Hanna memilih Jember dan Universitas Jember dalam menayangkan film ini, adalah karena menurutnya Jember khususnya Jawa Timur lekat sekali dengan lingkungan pesantren.
“Apalagi untuk Unej, banyak sekali isue yang bisa dibahas, mulai dari kesetaraan gender, keadaan dan keadilan sosial,” tambahnya.
Mengenai nilai yang diangkat dalam film ini, Ustadz Dika selaku pemateri kedua sekaligus pemeran dalam film tersebut, juga menyampaikan bahwa kesan yang di tampilkan di film adalah murni gambaran keseharian di Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy.
“Nyai dalam keseharian juga sering menyampaikan tentang kesetaraan gender, seperti siapa yang pantas jadi pemimpin,” ujar Dika.
Menurut pengakuan Dika, Pesantren yang menganut aliran Nahdatul Ulama ini sering dikunjungi aktivis gender dan sering mengadakan panel diskusi lintas agama.
Film Pesantren Dari Kacamata Ni Luh
Pembahasan film lebih dalam dikaji pada diskusi sesi ke- dua, dengan pemateri Ni Luh Ayu Sukmawati yang juga merupakan dosen di jurusan Televisi dan Film Universitas Jember.
Menurut Ni Luh, film ini mengangkat isu mengenai keseteraan gender, namun baginya realita sekarang bukan lagi tentang kesetaraan atau equality, tetapi equity dan quality.
Ni Luh menjelaskan, dengan contoh ketika pemeran perempuan berhasil mewujudkan keinginannya dan memilih keluar dari pondok, pihak lelaki justru memilih untuk menetap. Karena menepati amanah guru dan orang tua meskipun ada hal lain yang harus dilakukan.
“Ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki yang digambarkan dalam film ini, tentang bagaimana laki-laki tetap ikhlas dan menjalankan apa yang menjadi kepentingan sekitarnya. Namun perempuan yang punya kelebihan, kebebasan memilih dan support dari yang lain lebih memilih dirinya sendiri daripada kepentingan yang lain,” jelas Ni Luh.
Ni Luh juga mengira bahwa ada selubung patriarki, yang tidak disadari ada dalam film ini, seperti contohnya saat scene memainkan film, pihak lelaki cenderung tenang tetapi pihak perempuan cenderung riuh.
“Santri perempuan yang memainkan rebana yang riuh, menggambarkan bagaimana perempuan ingin didengarkan. Di banding lelaki yang memainkan musik yang lebih tenang,” terang Ni Luh
“Mungkin karena ini dokumenter jadi secara tidak dengaja itu nampak,” tambahnya.
Menurutnya, ada beberapa scene yang gagal menggambarkan kesetaraan secara utuh, yakni saat pemeran Bibah, akan berangkat keluar pondok dan berkata: “tidak ada pengganti buat aku”.
Hal tersebut menjadi sindiran bagi kaum perempuan, yang berhasil namun tidak memperdulikan sekitarnya, Ni Luh menyebutnya Crab Mental. Karena seperti kepiting yang ketika di atas, tidak peduli yang di bawah atau sebaliknya.
“Seakan-akan, jika kita menonton sebagai penonton yang biasa, memberikan kesan bahwa perempuan yang berhasil mendapatkan eksistensinya tapi ada yang ditinggalkan atau tidak sengaja ditinggalkan,” tutupnya. (Gilang)