Way Kanan – Cerita Rakyat Negara Batin yang berada di Wilayah Administrasi Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung, sangat menarik dicermati sebagai pembelajaran bagi generasi mendatang.

Kisah ini didapatkan dari penuturan Ketua Lembaga Adat Negara Batin H Pahman Jamal Ramli SE, ketika tim Ekspedisi PeTeBu (Petani Tebu Bersatu) bertandang di kediamannya, pada hari Senin (23/05/2022) Siang.
Salah satu tokoh sentral Desa Negara Batin bernama Pangeran Menang Jagat dan NI Mas Ratu Minak Kemala.

“Dua Puyang kami itulah yang banyak memberikan warga bagi kehidupan masyarakat barat di Negara Batin ini,” ujar H Jamal.
Sekira Tahun 8001 Masehi, kata H Jamal memulai kisahnya, ada sayembara dari kerajaan sebelah, bahwa siapa saja yang memenangkan pertarungan, maka jika laki – laki akan dinikahkan dengan putri nya yang cantik jelita.
“Maka, dari pertarungan diantara orang sakti yang sama-sama ikut sayembara, Pangeran Menang Jagat memenangkan pertarungan itu, yang akhirnya dinikahkan dengan putrinya yang bernama Minak Kemala,” tuturnya.
Setelah menikahi Minak Kemala, lalu Pangeran Menang Jagat memboyong Nimas Ratu Minak Kemala ke Negara Batin.
“Mereka menjalani hidup sebagai raja di Negara Batin,” ujarnya.
Maka kedua Puyang itu, menurut H Jamal, mulai menanamkan tata nilai adat, yang hingga sekarang masih tetap dipertahankan oleh masyarakat adat Negara Batin, sebagai tatanan yang menjadi panduan bagi kehidupan masyarakat Negara Batin.
“Meski harus bertahan ditengah gerusan jaman, kami masih berusaha merawat tata nilai adat yang kami yakini sebagai aturan kehidupan,” tegasnya.
Kini, masyarakat Negara Batin menjadikan adat sebagai aturan yang harus dipatuhi, misalnya dalam melaksanakan pernikahan, kata H Jamal, masyarakat mau tidak mau harus tunduk pada aturan adat.
“Jika tidak, mereka tidak akan diakui sebagai bagian dari masyarakat kami,” tandasnya.
Usai mendengar sekelumit kisah tentang riwayat singkat Negara Batin, kemudian Kepala Kampung (red: Sebutan lain dari Kepala Desa), Negara Batin Sidik Aroni Kamseno, mengantarkan Tim Ekspedisi Petebu berziarah ke Makam Keramat kedua Puyang itu.
Dua Makam Keramat Pangeran Menang Jagat dan Nimas Ratu Minak Kemala berada di tempat terpisah, Nimas Minak Kemala berada di sebelah barat Sungai sedangkan Pangeran Menang Jagat berada di sebelah timur.
Konon, menurut Sidik, keduanya pernah bertempur adu kesaktian, diatas perahu, yang akibat dari pertarungan itu, membuat perahu kecil yang dinaikinya pecah menjadi dua.
“Sehingga membuat keduanya terpental, dan berada ditempat yang saling berseberangan,” tuturnya.
Tim Ekspedisi PeTeBu, berkesempatan mengunjungi kedua Makam keramat itu. Kesan saat berada di Makam Nimas Minak Kemala, terasa ada kesan magis yang begitu kuat.
Kedua Makam keramat itu tampak terawat, ukurannya sekira 5 meter, yang dirikan cungkup makam.

Tim ekspedisi Petebu harus menggunakan perahu kecil menyeberangi sungai, menuju Makam Keramat Pangeran Menang Jagat. Usai menaiki perahu, masih berjalan menyeberangi ladang jagung dan kebun tebu.
Sungguh, merupakan pengalaman pertama yang menakjubkan. (Mmt)