25.3 C
East Java

Bima Sentra Garam di NTB Masih Butuh Sentuhan 

Loading

Bima – Jempolindo.id – Bima sentra garam di Provinsi NTB (Nusa Tenggara Barat), pada tahun 2020 sudah mampu memproduksi 160 ribu ton per tahun, padahal kebutuhan garam di NTB hanya sekira 46.591,80 ton per-tahun.

Estimasi kebutuhan garam di NTB diukur dari konsumsi rumah tangga, konsumsi industri pangan dan non-pangan.

Hanya saja, kualitasnya masih dinilai cukup rendah, sehingga diperlukan sentuhan pembinaan terhadap petani garam, agar memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup mengolah garam berkualitas.

Menurut informasi yang dihimpun, masih didapatkan, petani garam yang terburu memanen garam dalam waktu 4 hari, padahal seharusnya membutuhkan waktu 10 hari.

Rendahnya kualitas garam itu, menyebabkan belum bisa masuk ke pasaran bebas, karena jika diolah lagi, masih banyak menjadi ampas.

Untuk itu Pemerintah Provinsi NTB, telah melakukan upaya peningkatan kualitas garam, dengan cara mengedukasi petani garam. Disamping juga mengadopsi teknologi dari daerah lain, seperti dari Pulau Madura.

Mengatasi masalah rendahnya harga garam ditengah terus meningkatnya produksi garam di tiga kecamatan sentra garam di Kabupaten Bima, kini tengah dicarikan solusinya oleh Pemerintah Provinsi NTB dan Pemkab Bima bersama stake holder terkait lainnya.

Harga garam di Bima saat ini hanya pada kisaran Rp. 7.000 per karung. Namun, jika garam tersebut diolah, terlebih dalam bentuk industri garam beryodium maka harganya bisa lebih tinggi.

Seperti dituturkan Sukardi, petani garam Pulau Bima, yang ditemui saat berada di tambak garamnya, menceritakan penghasilan garam yang dikelolanya

Garam yang diproduksinya, kata Sukardi dihargai Rp 7000 ribu per sak, setara dengan 25 Kg, dengan jumlah produksi sebesar 150 ton per hektar.

“Kami menjualnya persak, kami berharap akan ada peningkatan harga,” ujarnya.

Disisi lain, target terpenuhinya kebutuhan garam itu, sekaligus untuk menurunkan masalah stunting di NTB. Hanya saja, para pengusaha atau industri membutuhkan keamanan dari daerah dimana akan dibangun industri.

Untuk mencarikan solusi terhadap harga garam di Kabupaten Bima, Gubernur akan mempertemukan para pengusaha garam di Indonesia dengan para petani, dengan langsung mengajak para pengusaha garam meninjau tambak garam minggu I September mendatang.

Termasuk potensi garam yang ada di Kabupaten Bima. Sehingga, masyarakat petani bisa merasakan kesejahteraan dari hasil usahanya selama ini. Apalagi pengolahan itu menyangkut hasil garam yang ada di Kabupaten Bima, yang jumlahnya cukup besar.

Saat ini, beberapa permasalahan yang dihadapi saat ini berkaitan dengan pengelolaan garam antara lain kualitas garam yang masih belum sesuai dengan standar garam industri, tingginya biaya upah pikul garam dari tambak menuju jalan raya dan kurangnya sarana dan prasarana infrastruktur.

Sementara, sebagai salah satu bentuk upaya membantu petani garam, pemerintah Kabupaten Bima, menurut pengakuan Warga Bima Ru’yah, yang ditemui media ini, menjelaskan bahwa pemerintah Kabupaten Bima telah mewajibkan PNS membeli garam, sedikitnya 1 kg per bulan.

“Ya itu sekedar untuk membantu agar petani garam dapat terus memproduksi garamnya, kita dukunglah upaya pemerintah juga,” katanya. (#)

Table of Contents
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img