Benarkah Ki Pitrang atau Mpu Supa Itu Cikal Bakal Nama Patrang di Jember, Ini Kisahnya 

Loading

Jember _ Jempolindo.id _ Kisah ini dituturkan oleh Anto Blangkon, seorang pelaku budaya di Kabupaten Jember, yang mencoba mengkaitkan nama Ki Pitrang, salah satu nama Mpu Supa, dengan Nama Patrang, salah satu kelurahan di Jember.

Sore itu, Anto bersama seniman sepuh Gatut Hariwiyono mengunjungi redaksi media ini, yang dalam perbincangan santai, mengingat sejarah salah satu nama kelurahan di Kabupaten Jember.

Anto mengawalinya dengan kisah hilangnya benda pusaka milik Prabu Brawijaya, Raja Majapahit.

“Keris itu dari besi milik Sunan Ampel, yang berasal dari Timur Tengah,” tutur Anto mengawali kisahnya.

Sunan Ampel meminta kepada Sunan Kalijogo agar membuatkan pedang dengan bahan besi miliknya.

Sunan Kalijaga meminta tolong kepada saudara iparnya, Mpu Supo, yang memang ahli membuat senjata pusaka.

Mpu Supo pun menyanggupi, namun sayangnya, benda pusaka itu tidak berbentuk pedang seperti pesanan Sunan Ampel, namun berbentuk keris.

Sunan Kalijaga sempat kecewa melihat wujud benda pusaka pesanannya, yang tidak berbentuk pedang. Namun, kemudian keris itu dihadiahkan kepada Prabu Brawijaya.

“Keris itu dibawa ke Keraton Mojopahit, pada saat masih dipintu gerbang, tiba – tiba keris itu melompat sendiri ke dalam Keraton. Ternyata di dalam keraton memang ada pasangannya,” katanya.

Anto menyebut nama keris itu Kyai Sengkelat, namun dari sumber lain, sebenarnya nama benda pusaka itu Kyai Sumelang Gandring.

Keris itu sempat hilang, dibawa oleh Prabu Bayu Sangara dari Blambangan, ketika peristiwa penyerbuan Kerajaan Pajajaran.

Prabu Brawijaya bersedih hati mendapati keris pusakanya hilang, hingga mengumpulkan semua empu di Majapahit untuk mencarinya.

Semula, Prabu Brawijaya mengutus Mpu Jawa atau juga disebut Mpu Domas, untuk mencarinya, dengan membawa 800 an empu. Namun upaya pencariannya gagal.

Selanjutnya, Prabu Brawijaya mengutus Mpu Supa Majapahit untuk mencarinya ke arah Blambangan.

Mpu Supa berangkat menuju Blambangan dengan ditemani adiknya bernama Mpu Supagati, dan berganti nama menjadi Ki Pitrang.

Selain berganti nama menjadi Ki Pitrang, selama berada di Blambangan juga disebut sebagai Mpu Rambang, karena kebiasaannya membuat pusaka di tengah lautan.

Selama di Blambangan Ki Pitrang, membuat beberapa benda pusaka, diantaranya Dapur Pandawa, Cadang Soka, dan Tilam Upih.

Mpu Supa berupaya keras agar bisa mendapatkan Keris Pusaka milik Prabu Brawijaya yang hilang.

Keberadaan Mpu Supa yang dikenal pandai membuat benda pusaka, didengar oleh Prabu Bayu Sangara, sehingga diminta untuk membuat benda pusaka serupa dengan Kyai Sumelang Gandring.

Tentu saja, Mpu Supa dengan senang hati membuat tiruan Kyai Sumelang Gandring yang memang sedang dicarinya.

Mpu Supa berhasil membuat dua tiruan Kyai Sumelang Gandring, yang diserahkan kepada Prabu Bayu Sangara.

Atas keberhasilannya itu, Prabu Bayu Sangara berkenan memberikan Kyai Sumelang Gandring yang asli untuk dikembalikan kepada Prabu Brawijaya.

Bukan hanya itu, Mpu Supa juga mendapatkan hadiah lainnya. Prabu Bayu Sangara berkenan menjodohkannya dengan salah satu adiknya bernama Raden Ayu Upas.

Ketika Raden Ayu Upas hamil 7 bulan, Mpu Supa ingin pulang ke Majapahit.

“Sebelum meninggalkan Raden Ayu Upas, Mpu Supa berpesan agar kelak putranya diberi nama Jaka Sura. Kalau nanti putranya gemar ngotak ngatik membuat pusaka, agar dibiarkan saja, jangan dilarang,” tutur Anto.

Dalam perjalanan pulang ke Majapahit, Mpu Supa sempat mampir di daerah yang sekarang dikenal dengan Kabupaten Jember.

Mpu Supa yang nama lainnya adalah Ki Pitrang, cukup lama berdiam diri di daerah yang kemudian sekarang dikenal dengan nama Patrang, mengambil dari namanya.

“Ada juga cerita yang menghubungkan nama Ki Pitrang dengan Dewi Roro Mangli, tetapi saya tidak mengerti persisnya,” ujar Anto.

Selang beberapa lama, Ki Pitrang melanjutkan perjalanannya menuju Keraton Majapahit untuk menyerahkan Kyai Sumelang Gandring kepada Prabu Brawijaya.

Atas keberhasilannya itu, Prabu Brawijaya berkenan memberi hadiah kepada Mpu Supa, berupa tanah di wilayah Sedayu, serta diberi gelar bangsawan Pangeran Sendang Sedayu.

Sedangkan Mpu Supagati, adik dari Mpu Supa juga diberi hadiah berupa sebidang tanah, dan diangkat sebagai mantri bernama Mpu Supadi.

Sedangkan, Raden Rara Ayu Upas yang melahirkan anak lelaki Mpu Supa memberi nama Jaka Sura, seperti yang dipesankannya sebelum meninggalkan Blambangan.

Saat masih kanak – kanak, Jaka Sura sudah gemar membuat pusaka. Tentu Roro Ayu Upas mengingat pesan Mpu Supa untuk membiarkannya.

Benda pusaka buatan Jaka Sura hingga berjumlah sangat banyak, lebih dari dua peti. Sedangkan Keris yang tidak bisa dimasukkan dalam peti itu diberinya lubang, yang digantungkan di bajunya, yang kemudian dikenal dengan Keris Sura.

Menginjak dewasa, Ki Jaka Sura menyusul ayahandanya, yakni Mpu Sura, di Majapahit. Selama perjalanan, dia menukarkan benda pusaka buatannya untuk membeli makanan.

Sesampai di Majapahit, Ki Jaka Sura juga diangkat menjadi empu, yang belakangan dikenal dengan sebutan Mpu Supa II.

Itulah, sepenggal kisah cinta Mpu Supa alias Ki Pitrang, yang dituturkan oleh pelaku Budaya Jember, Anto. Mengenai kebenarannya mungkin masih harus ditelusuri. Wallahu a’lam bishawab. (MMT)

Table of Contents