Jember _ Jempolindo.id _ Track pendakian Gunung Argopuro merupakan terpanjang sepulau Jawa. Para pendaki harus melewati sepanjang 41 Km, sejak dari Baderan Situbondo menuju Bremi Probolinggo. Membutuhkan waktu sekira 3 malam 4 hari.
Baca Juga : Pulau Satonda Dompu Butuh Sentuhan Serius. Ruslan: Pemerintah Harus Hadir
Karenanya, diperlukan persiapan yang matang, baik fisik maupun peralatan pendakian. Sehingga dapat membantu saat sudah harus melakukan pendakian.
Peralatan yang harus disiapkan, diantaranya Tenda, sepatu gunung, jaket gunung, sleeping bad, matras, lampu, kompor, obat-obatan, kopi, gulan, sarden, beras, air mineral dan makanan ringan
Kami berangkat bertiga, Ulil Albab, Dwi Winarno dan saya (Iyong). Sebelum berangkat ke pos pendakian Gunung Argopuro, kami melakukan persiapan fisik, dengan lari lari kecil di sekitaran kompleks perumahan di Wirolegi. Sembari melemaskan otot kaki, sambil lalu menyiapkan logistik, peralatan untuk perlengkapan selama pendakian.
Kami berangkat dari Jember pada hari Selasa (13/12/2022) pukul 17:00 WIB, menuju Baderan Sumbermalang Situbondo, dengan menggunakan sepeda motor.
Saya bernama Ulil Albab berangkat bersama dari Jember menuju Kecamatan Besuki. Sesampai di warung Barokah, kami menunggu teman yang satunya lagi, Dwi Wirnarno.
Kami berhenti sejenak untuk makan di warung barokah, setelah selesai kami langsung menuju Baderan bersama rombongan ke rumah mas Didit di dekat pos pendakian Gunung Argopuro.
Kami sampai dirumah mas Didit, sekira pukul 21:00 WIB. Kami bermalam dirumah mas Didit, sembari istirahat untuk persiapan pendakian di pagi hari.
Esok hari, kami bangun pagi, langsung packing logistik dan peralatan, untuk pendakian hari pertama, menuju pos pendaftaran Gunung Argopuro. Semua pendaki diharuskan membayar tiket pendakian Gunung Argopuro, kisaran Rp 20.000-25.000 per hari,
Selesai melakukan pendaftaran, kami langsung memesan ojek, yang biasnya mengantar para pendaki menuju pos pendakian pertama. Biasanya tarif ojeknya, sekira Rp 150.000 per orang.
Selanjutnya, dengan diantarkan tukang ojek menuju pos pendakian mata air 1. Rute menuju mata air satu sangat extrem untuk dilalui motor.Tentu saja, harus tukang ojek yang handal.
Cuaca saat kami mendaki, memang sedang musim hujan, sehingga jalanan sudah pasti licin, karenanya tukang ojeknya, memiliki inisiatif untuk memberikan rantai pada ban roda belakang, agar bisa menahan ban, saat melintas medan licin.
Sampai di pos pertama mata air 1, sekira pukul 08:00 pagi. Kami kemudian melanjutkan pendakian pertama menuju ke pos kedua, yaitu mata air 2.
Tract menuju Mata Air 2 masih lumayan landai, dan hanya sedikit ada tanjakan. Sembari melemaskan otot, sesampainya di pos mata air 2, pukul 11:00 WIB siang, kami berhenti sejenak untuk membuat kopi dan beristirahat.
Usai istirahat, pada pukul 11:30, kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Savana Kecil.
Tak dinyana, kami bertemu dengan para pendaki lain. Ada yang berasal dari Nganjuk, Jakarta dan Bandung.
Lumayan, kami bisa saling berkenalan dan bercerita, sambil menyeruput kopi. Kami sampai di savana kecil pukul 13:00 WIB.
Saat di Savana Kecil, kami beristirahat sejenak, sambil menikmati suasana alam pegunungan. Lantas, kami melanjutkan perjalanan menuju Savana Besar.
Tractnya pun lumaya bervariasi. Sepanjang perjalanan, Kami banyak disuguhi hamparan savana yang luas nan indah, serta banyak hewan seperti ayam hutan, merak dan babi hutan.
Kami sampai di Savana Besar sekira pukul 15:00 WIB. Kami diterpa hujan yang lumayan besar, sehingga menyulitkan perjalanan pendakian menuju pos cikasur. Namun, meski berat kami terus melanjutkan perjalanan, agar sesuai dengan jadwal. Kami sampai di cikasur sekira pukul 17:00.
Biasanya, para pendaki mengambil persediaan air di Sungai Qolbu sembari mengambil selada air (arnong) yang tumbuh di sepanjang Sungai Qolbu. Gak paham juga, kenapa sungai ini bernama Qolbu, yang nampaknya diambil dari bahasa arab, berarti hati.
Jempolindo_ Malam Pertama Menginap di Cikasur
Usai mengambil kebutuhan makan secukupnya, ahirnya kami sampai di Cikasur, langsung siap-siap mendirikan tenda dan menyiapkan hidangan makan malam dan beristirahat.

Eh, sedikit ada kisah sih, pada pendakian sebelumnya, saya pribadi punya pengalaman pribadi. Waktu itu, saya coba membawa sayuran untuk dibawa pulang. Gak taunya, saya malah kesasar, gak tahu arah jalan pulang. Hanya berputar – putar di daerah Cemoro Limo.
Jadi sebaiknya, teman- teman yang melakukan pendakian di Gunung Argopuro, sebaikanya berhati-hati.
Pagi harinya, kami bangun pukul 05:00. Begitu membuka mata, kami melihat keindahan alam Cikasur , jadi gak tahan untuk mengabadikannya.
Siapa yang betah, melihat keseksian Sunset di pagi hari. Sembari menyiapkan sarapan, untuk stamina pendakian selanjutnya menuju Cisentor, selesai makan dan lain sebagainya, kami berkemas dan membongkar tenda.
Untuk melanjutkan pendakian sekira pukul 09:00. Ditengah perjalanan menuju Cisentor, kami terkendala hujan, sekira pukul 11:00.
Jempolindo _ Malam Keuda Menginap di Cisentor
Semula kami bermaksud, bermalam di Savana Lonceng, sayangnya terkendala. Ulil mengalami cidera kaki. Karenanya, kami memutuskan untuk bermalam di Cisentor.

Kami sampai di Cisentor sekira pukul 14:00, langsung melakukan ritual ngopi di pondok Cisentor. Nah, disini enaknya gak usah membuat tenda.
Bagi para pendaki, biasanya sudah mengeti, jika berada di Cisentor ini, suasananya lumayan mistis, terlebih pada malam hari. Sudah tak asing lagi, akan terdengan bunyi-bunyian gamelan. Tentu saja, suasana itu bikin merindin. Entah dari mana asal bunyi-bunyiaan itu, belum ada penjelasannya. Yang pasti, kami semua merasa ketakutan, meski rasa takut itu hilang juga terbawa tidur hehee.
Setelah selesai istirahat di Cisentor, kami langsung berangkat menuju pos Rawa Embik, pada pukul 05:30. Karean takut turun hujan lagi, kami nekat melanjutkan perjalanan tanpa sarapan.
Perjalanan menuju Rawa Embik, lumayan menantang dan banyak menyuguhkan tanjakan. Meski, kami sudah buru – buru, bermaksud menghindari hujan, namun kami tetap harus melalui perjalanan di bawah derasnya hujan.
Namun, kami memutuskan untuk terus melamnjutkan pendakian, dalam keadaan basah kuyub. Kami sampai di Rawa Embik sekira pukul 10:00. Kami berhenti sejenak, sembari membangun tenda dan berlindung dari hujan yang lumayan deras.
Jempolindo_ Malam Ketiga Menginap di Savana Lonceng
Sekira pukul 13:00 WIB, kami melanjutkan perjalanan menuju Savana Lonceng, dengan ditemani gerimis, kita tetap jalan, agar memperhemat waktu.

Sesampai di Savana Lonceng, sekira pukul 15:00, kami langsung mendirikan tenda dan masak untuk makan malam.
Anehnya, di Savana Lonceng , banyak babi hutan berkeliaran. Ada juga terbersit rasa takut. Malam ketiga, kami menginap di Savana Lonceng.
Bangun pagi di Savana Lonceng, sekira pukul 05:00, kami siap untuk melanjutkan kembali pendakian, menuju Puncak Rengganis.
Dalam perjalanan menuju Puncak Rengganis, banyak ditemukan bekas bangunan bersejarah, menandakan pernah ada kehidupan di maa lampau.
Kami sampai di Puncak Rengganis sekira pukul 05:20. Usai mengambil gambar langsung turun, menuju Savana Lonceng untuk siap-siap packing, dan menuju Puncak Argopuro.
Usai packing, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Puncak Argopuro, sekira pukul 06:30. Jarak antara Savana Lonceng menuju Puncak Argopuro, sebenarnya lumayan dekat, sekitar 20-30 menit perjalanan. Hanya saja, kami harus menempuh tract yang menanjak tajam.
Alhamdulillah, kami sampai juga di ketinggian Pincak Argopuro, sekira 3.088 MDPL. Sesampai di Puncak Argopuro pukul 07:00, kami ambil foto-foto dan melanjutkan perjalanan menuju Puncak Hyang Argopuro.
Hemmmm…… lagi – lagi kami harus melewati tract yang curam dan sangat sulit, sehingga kami harus ekstra hati hati, untuk turun untuk melanjutkan pendakian ke pos Cemoro Limo.
Sesampai di Cemoro Limo pukul 01:00, kami beristirahat sejenak dan membuat kopi. Setelah selesai mengumpulkan stamina, kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Hidup.
Ditengah perjalanan menuju Taman Hidup, hujan turu lagi. Sementara, kami harus melewati lembah, bernama Hutan Lumut. Anehnya di Hutan Lumut sinyal GPS tiba-tiba hilang.
Meskipun banyak kendala, kami tetap melakukan perjalanan menuju Taman Hidup, sampai di Taman Hidup sekitar jam 16:00. Kami bertemu banyak pendaki dan orang mancing di Taman Hidup.
Setelah sampai di Taman Hidup, kami masih terkena hujan. Serasa sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan, akibat cidera terpaksa langsung naik ojek, adapun tarif ojek dari taman hidup menuju Bremi yaitu 150.000 per orang.
Sebenaranya Jalur dari Taman Hidup tidak biasa dilalui sepeda motor, tapi apa boleh buat. Waktu perjalanan naik ojek sekitar 2 jam, dikarenakan habis hujan jadinya licin dan motor gampang jatuh sehingga harus hati-hati, pastinya harus fokus.
Setelah sampai di Bascamp para pendaki Argopuro, kami langsung istirahat. Tentu saja tidak lupa memesan kopi dan makanan untuk memanuhi kebutuhan perut.
Selanjutnya, kami langsung siap-siap packing dan menunggu jemputan menuju pulang ke rumah masing-masing. (Iyung)