Dompu – Jempolindo.id – Makka dan Mihu merupakan tari klasik penyambutan tamu, tampil memukau saat Petani Tebu Bersatu (PeTeBu) menggelar Gebyar Silaturahmi Kebudayaan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa di Desa Sorinomo Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu NTB, pada Senin (25/07/2022).
Diiringi tabuhan etnis Suku Dompu, tampak dua penari, sambil membawa keris dan tombak, bergerak lincah, bergantian menari, menyambut tamu yang menghadiri Gebyar Budaya itu.
Menurut Ketua Majelis Sakaka Dana Dompu Redo Iradat, tari Makka dan Mihu biasa dilakukan untuk memberikan penghormatan kepada tamu.
“Biasanya untuk menyambut tamu kehormatan,” ujarnya.
Hanya saja, kata Redo yang tampil kali ini, masih belum. Lengkap, hanya dua penari pria, dengah beberapa penabuh saja.
“Biasanya ada penari perempuan yang mengiringunya. Kali ini, kami hanya ingin menunjukkan bahwa Suku Dompu memiliki seni tradisi yang berbeda dengan suku lainnya, Makka dan Mihu merupakan tarian khas suku Dompu,” tegasnya
Makka, kata Redo merupakan tarian horoik, tanda kesetiaan kepada Sultan. Sang penari sambil menghunus keris, sambil berteriak Tazzzz Rumae, lantas menggunakan bahasa Suku Dompu, mengucapkan sumpah setianya kepada penguasa.
“Artinya, kurang lebih sumpah setia kepada penguasa, untuk mengabdi dan menjalankan tugas yang diembannya,” ucap Redo.
Selain itu, Majelis Sakaka Dana Dompu juga menampilkan tradisi lesan penyambutan tamu
“Kami juga ingin perkenalkan tradisi lesan penyambutan, sebagai penghormatan kepada tamu yang datang, tarian tradisi ini hanya ada di Suku Dompu,” klaim Redo.
Pada kesempatan itu, Redo juga menyampaikan sekilas perjuangan Makkadana Dompu, untuk mendapatkan pengakuan atas keberadaan suku Dompu, yang selama ini masih rancu, menjadi polemik dengan Suku Mbojo.
“Sebenarnya keberadaan suku Dompu sangat berbeda dengan suku mbojo atau suku lainnya yang ada di Bima,” ujarnya.
Perbedaan itu, menurut Redo tampak pada seni tradisi yang berkembang, serta penggunaan bahasa, yang sama sekali berbeda.
“Bahasa Suku Dompu sangat berbeda dengan bahasa Bima atau Bojo Lama (Kae, sambori, Wawo, Donggo, Kore), namun Bahasa Bima Baru dipakai sebagai bahasa ibu oleh suku Dompu, tidak ditemukan bahasa lain, selain bahasa yang sudah ada, yang dikatakan sebagai bahasa Mbojo itupun masih belum bisa disamakan, menurut penulis Bima Abdullah Tayib ,BA, orang Dompu dan Bima menggunakan bahasa Bima Baru’,” paparnya.
Berdasarkan referensi yang dibacanya, Redo juga menggugat hari lahir Kabupaten Dompu, yang menurutnya tidak tepat, hari lahir Kabupaten Dompu dibersamakan dengan hari meletusnya Gunung Tambora, yang terkenal itu (11 April 1815).
“Jika tanggal itu digunakan, maka sama saja dengan meniadakan kesultanan yang telah ada sebelum Gunung Tambora erupsi,” sergahnya.
Menurut Redo, Kesultanan Dompu tidak mengenal Monarki mutlak, ketentuan kedudukan sultan ditentukan dengan musyawarah mufakat, berdasarkan kriteria kepemimpinan yang disebut dalam Nggusu Waru (8 sendi kepemimpinan)
“Jika calon raja tidak memenuhi salah satu unsur Nggusu Waru, belum tentu dinobatkan untuk menjadi sultan atau pemimpin. Jika ada saudara berikutnya memenuhi unsur Nggusu waru, maka akan dipersiapkan menjadi penggantinya,” tegasnya. (#)