Jember_ Jempolindo.id _ KKN Back To Village Universitas Jember kembali digelar. Sebagaimana Anggi Octaviana, mahasiswa Fakultas Pertanian yang memilih tema 1 yaitu Pemberdayaan Wirausaha Masyarakat Terdampak Covid-19. Dalam wawancara bersama Mahasiswa Unej itu, pada (02/09), dirinya mengaku melakukan KKN di Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember.

Kuliah Kerja Nyata (KKN) Back to Village di Desa Lojejer, kata Anggi, bersasaran kepada petani dan masyarakat, yang banyak mengalami kerugian akibat munculnya pandemi ini.
“Sehingga membuat beberapa komoditas mengalami penurunan harga yang sangat drastis, khususnya harga cabai dan tembakau,”ujarnya.
Dari penurunan harga tersebut petani mengalami kerugian yang sangat besar, sehingga kata Anggi petani harus membayar untuk biaya budidaya. Mulai penyemaian, pengolahan tanah, penanaman, pengairan, pengendalian hama, gula dan penyakit dan biaya pemanenan.
“Dengan harga sedemikian tidak mencukupi untuk biaya budidaya yang telah dikeluarkan, sehingga petani mengalami kerugian,” ujarnya.
Ketidak stabilan harga ini,kata Anggi dapat membuat petani kurangnya pendapatan untuk pencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga dibutuhkan pekerjaan sampingan, yang dapat membantu petani.
“Untuk menambah keuangan untuk kebutuhan sehari hari tidak hanya bergantung pada hasil panen yang memiliki harga yang tidak menentu,” paparnya.
Selain permasalahan harga komoditas yang rendah, menurut Anggi petani di Dusun Sulakdoro ini, lanjut Anggi, masih sangat bergantung pada penggunaan pestisida untuk budidaya baik dari pupuk maupun untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
“Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) Back to Village, dilakukan dengan bertujuan mengangkat perekonomian masyarakat. Untuk membantu menambah pendapatan masyarakat selain mata pencarian utama masyarakat.
“Dengan begitu masyarakat khususnya yang mengalami kerugian, akibat penurunan harga panen dapat tercukupi kebutuhan sehari hari bahkan dapat menambah penghasilan tiap harinya,” ujarnya.
Jempolindo_ Memanfaatkan Potensi Setempat
Menurut Anggi, KKN dilaksanakan dengan memanfaatkan limbah pertanian yaitu limbah dari tembakau yang akan diolah menjadi pestisida nabati,. Selain itu juga dapat memanfaatkan potensi tanaman setempat.
Untuk digunakan sebagai bahan campuran pestisida nabati seperti daun pepaya, sirsak maupun kelor karena kandungannya dapat mengendalikan hama yang menyerang tanaman.
“Program ini, dilakukan pertama akan dilakukan sosialisasi cara pembuatan pestisida nabati yang dilakukan dibalai desa Lojejer dengan peserta perwakilan kelompok tani di desa Lojejer. Selanjutnya yaitu pengaplikasian pertisida nabati dilahan pertanian oleh petani, dimana petani diajarkan cara pengaplikasian penyemprotan yang baik dan benar,” jelasnya.
Setelah petani atau masyarakat paham akan cara pembuatan dan pengaplikasianya dilakukan proses pemasaran yang dilakukan dengan menitipkan pada toko pertanian setempat.
Juga dijual secara online, yaitu dengan menggunakan aplikasi yang dimiliki masyarakat seperti melakukan promosi melalui whatapp, facebook, instagram maupun dapat dijual melalui toko onlain seperti shopee, toko pedia dan lainya.
“Dengan kegiatan ini diharapkan dapat menambah pendapatan masyarakat serta dapat mengurangi penggunaan bahan kimia,” ujarnya.
Jempolindo _ Dukungan Pemerintahan Desa
Kata Anggi, kegiatan inipun juga didukung oleh pemerintah setempat khususnya Kepala Desa Lojejer Mohamad Sholeh, SH,M.Si mengatakan dengan kegiatan ini dapat membuat trobosan baru untuk masyarakat desa Lojejer yang 90% sebagai seorang petani.
“Terlebih harga yang sering mengalami penurunan dengan pestisida ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani. Dan menjaga kelestarian lingkungan terlebih pestisida nabati ini dapat dibuat dari limbah pertanian dan tentunya lebih sehat bila dikonsumsi dibandingkan dengan pestisida kimia,” pungkasnya. (Gilang)