Mengapa ZA Terduga Teroris Harus Ditembak Mati ?

ZA (25) Terduga teroris tertembak di Halaman Mabes Polri
ZA (25) Terduga teroris tertembak di Halaman Mabes Polri

Berita Jempolindo.id_ Tentu semua sepakat bahwa teroris harus dilawan, kabar yang tersebar diberbagai media tentang meledaknya bom di Gereja Katedral Makasar, tak lama berselang disusul  serangan seorang perempuan muda di Maskas Besar Polri cukup menghentak public. Kematian keduanya sama – sama meninggalkan surat wasiat.

Menyitir pendapat Refly Harun melalui channel yutube nya, mempertanyakan penanganan perempuan diketahui berinisial ZA (25), yang tertembak mati ketika berhasil masuk ke halaman Mabes Polri hingga mendekati ruang kerja Kapolri Jemderal Listyo Sigit, pada Rabu, 31 Maret 2021.

“Begitu murah nyawa di negeri ini,” kata Refly.

Tentu saja pendapat Reflly  bisa mengundang polemik, karena dinilai malah membela teroris. Tetapi Refly mempunyai argument, seharusnya ketika perempuan muda itu diketahui memegang senjata pistol yang belakangan menurut penjelasan Humas Mabes Polri Argo Yuwono, senjata pistol yang dibawa perempuan itu jenis soft gun, dianggap berbahaya, maka kata Refly mestinya juga tidak perlu  melanggar protap dalam penanganannya.

“Seharunya diberi tembakan peringatan terlebih dulu, kalau masih beraksi baru dilumpuhkan, dibagian kaki atau tangan,” kata Refly.

Kenapa harus ditembak mati, bukankah dengan ditembak mati malah kesulitan mengungkap kebenaran dibalik aksi perempuan muda itu.

Refly Harun juga mengingatkan, jangan terlalu mudah melekatkan teroris seperti disebut dalam pemberitaan, apalagi gegabah dilekatkan pada agama tertentu, sebelum terungkap fakta sebenarnya.

Sebagaiman dirilis  Tempo, pelaku sebenarnya ada tiga orang. Namun, hanya satu yang langsung menyerang petugas jaga menggunakan senjata air gun. Senjata ini juga sudah dimodifikasi.

Satu pelaku ini merupakan perempuan berinisial ZA. Ia lahir di Jakarta pada September 1995. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di Ciracas, Jakarta Timur. Berdasarkan informasi yang diperoleh Tempo, pelaku merupakan mahasiswa.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit mengatakan, berdasarkan dari hasil profiling, ZA merupakan Lone wolf yang berideologi radikal ISIS. Hal tersebut diketahui ketika petugas menyusuri unggahan ZA di media sosial.

“ZA menggunggah foto bendera ISI,” kata Sigit saat konferensi pers pada Rabu, 31 Maret 2021.

Lantas, apa itu lone wolf?

Tribunnews.com menulis, menurut Kamus Oxford, lone wolf memiliki arti orang yang sangat mandiri atau menyendiri.

Selain arti tersebut, lone wolf juga bermakna seorang teroris atau penjahat yang bertindak sendiri dan bukan bagian dari organisasi.

Sementara itu, mengutip jurnal milik Peter J Phillips berjudul Lone Wolf Terrorism yang terbit pada 2011, lone wolf adalah tindakan terorisme yang dilakukan individu tanpa kaki tangan dan di luar organisasi atau struktur komando formal.

Lone wolf, menurut Phillips, bisa jadi lebih mematikan ketimbang teroris yang bertindak sesuai arahan organisasi.

Kronologis:

Berdasarkan kronologis yang diterima Tempo, pada pukul 16.30 WIB, seorang perempuan berpakaian hitam dan berjilbab biru memasuki Pintu 3 Gedung Utama Mabes Polri. Ia beralasan ingin menyerahkan surat ke Setum Polri.

Namun, sekitar 16.35 WIB, pelaku tidak menuju Setum. Ia malah bergerak ke arah penjagaan utama Mabes Polri. Di sana, ia bertemu petugas jaga bernama Iptu Suriyono (anggota Yanmas Mabes Polri).

Kepada si petugas jaga, pelaku kembali mengaku ingin menyerahkan surat ke Setum Polri, sehingga di antar hingga Masjid Mabes Polri (tidak sampai Setum Polri).

Pukul 16.45 WIB, pelaku teror tidak mendatangi Setum Polri dan kembali ke Pos Penjagaan Utama Mabes Polri, dan disapa oleh Bripda Aldo.

Ia tiba-tiba mengeluarkan senjata jenis pistol dan menembakkan ke arah petugas jaga sebanyak 2 kali, sehingga mengenai lengan kanan Bripda Ajeng (anggota penjagaan Pos I Mabes Polri).

Polisi yang berjaga kemudian membalas. Pukul 17.25 sampai dengan 17.42 WIB, Tim Jihandak Gegana Mabes Polri tiba dan langsung memeriksa kondisi jenazah terduga teroris untuk memastikan tidak ada bahan peledak.

Bagaimana dengan system pengamanan di Mabes Polri ? Mengapa begitu mudahnya ZA memasuki gerbang belakang Mabes Polri, bukankah ada metal detector ?, padahal setiap tamu yang berkunjung pasti melalui pemeriksaan yang sanga ketat, mengapa  ZA bisa lolos dengan membawa pistol.

Belum ada penjelasan rinci mengenai hal ini. (*)

Table of Contents
Exit mobile version