21.8 C
East Java

Desa Banjarsari dan Legenda Dewi Rengganis

Loading

Jember – Banjarsari – Jempolindo.idSeperti yang saya janjikan pada edisi sebelumnya, untuk edisi Dewi Rengganis, akan saya kisahkan tersendiri, yang dapat menjadi sandaran cikal bakal berdirinya Desa Banjarsari, dari sisi perspektif legenda.

Mengenai kisah Dewi Rengganis, ada yang hanya menganggap sekedar dongeng, namun ada juga yang beranggapan bahwa sosok Dewi Rengganis benar adanya.

Keduanya memiliki argumen sendiri, bagi yang menganggap sekedar dongeng, karena memang nama Dewi Rengganis bukan tergolong sebagai sejarah, yang secara ilmiah sulit dibuktikan.

Tetapi, jika dianggap sebagai dongeng, mengapa ada peninggalan berupa Candi bernama Candi Rengganis, lalu beberapa nama-nama daerah, maupun nama orang yang tercantum dalam serat Regangganis, memang ada faktanya.

Seperti dimaksud Sejarawan Jember Indra G Martowijoyo, nama daerah Banjarang Sari, kini berubah menjadi Banjarsari, berada di Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember, juga nama Jamineran (Jamintaran), kini berubah menjadi nama Jamintoro, di Kecamatan Sumberbaru Kabupaten Jember.

Sedangkan nama Iman Sumantri (ada yang menyebut Iman Suwongso),  juga terdapat makamnya yang berada di tengah hutan lereng Gunung Argopuro sebelah selatan, di atas Dusun Sanggrahan Desa Curahkalong Kecamatan Bangsalsari.

Baiklah, kita sadur saja, potongan serat Dewi Rengganis, yang ditulis dalam bahasa Jawa, dan terjemahannya, yang saya sadur dari ulidblog.wordpress.com, berikut ini.

Serat Rengganis iku sawijining karya sastra ing basa Jawa Anyar. Karya sastra iki asalé saka tradhisi Islam-Jawa lan kalebu kelompok tèks Serat Ménaklan bisa digolongaké Sastra Jawa Pasisir. Carita iki naté populèr banget, ora mung ing Tanah Jawananging uga ing saubengé yaiku Tatar Sundha, Madura, Bali, lan Lombok.

(terjemahan bebas) Serat Rengganis adalah salah satu karya sastra dalam Bahasa Jawa Baru. Karya satra ini berasal dari tradisi Islam-Jawa dan masuk dalam kelompok teks ”Menak” dan bisa digolongkan dalam Sastra Jawa Pesisir. Cerita ini sangat populer, bukan hanya di tanah Jawa, namun juga di daerah sekitarnya, yaitu Tanah Sunda, Madura, Bali dan Lombok.

Rengganis iku arané sawijining putri sing ayu banget lan sawisé pacoban akèh wusanané dadi garwané putrané Amir Ambyah (utawa Amir Hamzah) sing diarani Iman Sumantri. Iman Sumantri uga diarani mawa dasanama Repatmaja, Pangéran Kélan utawa Bangjaran Sari.

Rengganis itu adalah salah satu putri yang sangat cantik, setelah mengalami banyak cobaan kemudian menjadi istri dari putra Amir Ambyah (atau Amir Hamzah) yang disebut Iman Sumantri. Dia juga dikenal dengan Repatmaja, Pangeran Kelan atau Bangjaran Sari.

Ana sawijining pandhita tapa anèng Gunung Argapura; sang pandhita wau kala mbiyèn dumeneng nata ing nagara Jaminèran. Bareng kagungan putra-putri siji, kaparingan nama Dèwi Rengganis; ora suwé garwané séda, sang prabu banjur tilar kaprabon.

Tersebutlah seorang Pendeta di Pertapaan Gunung Argopuro; Sang Pendata itu dulunya adalah pemimpin dari negara Jamineran. Mempunyai anak satu, yang diberi nama Dewi Rengganis; tak lama kemudian sang istri meninggal, dan Sang Prabu mengundurkan diri.

Dèwi Rengganis diopèni ramané dhéwé anèng patapan. Labet putraning pandhita, sang dèwi cilik mula wis seneng tapa; sing didahar namung sarana nesep maduning kembang-kembang, amula ya sekti banget, bisa mabur.

Dewi Rengganis dirawat oleh ayahnya sendiri di tempat pertapaan. Memang putri seorang pendeta, sang dewi pun suka bertapa/tirakat, yang dikonsumsi hanya sari bunga, makanya sangat sakti, bisa terbang.

Berdasarkan serat diatas, maka semakin menyakinkan bahwa keberadaan Dewi Rengganis bukan sekadar dongeng belaka, melainkan sebuah kisah yang hampir nyata adanya.

Abdul Rahman Moroatmojo Kepala Desa Duko Banjarsari Ke II (Part III)

Seperti yang dikisahkan secara turun temurun, dari para sesepuh Desa Banjarsari, sebagaimana pernah dituturkan Almarhum Abdul Rahman Moroatmojo (Kepala Desa Banjarsari ke 2), bahwa di Banjarsari terdapat dua taman yang diyakini menjadi tempat pemandian Dewi Rengganis.

Satu berada di Desa Petung, masuk kawasan PTPN XII Kebun Banjarsari, bernama Tamansari, sedang lainnya berada di Wilayah administrasi Desa Tugusari, juga berada di Kawasan PTPN XII Kebun Banjarsari Afdeling Sumbercanting, bernama Sumber Tangkil.

Sayangnya, Tamansari yang di Desa Petung, sumber mata airnya sudah mulai mati, karena pohon besar disekelilingnya ditebangi, sedangkan Sumber Tangkil, kawasan yang dulunya selebar kurang lebih 25 hektar, juga mulai mengecil, dengan sebab serupa, disekitarnya ditanami pohon karet yang justru menyerap air.

Jika menilik dari serat Rengganis, maka Dewi Rengganis merupakan putri dari penguasa Kerajaan Jamineran/Jamintaran (sekarang menjadi Jamintoro, Sumberbaru), yang kemudian mengundurkan diri dari kekuasaan, dan memilih menjadi pertapa di Lerang Gunung Argopuro.

Sedangkan Banjarang sari, sekarang Banjarsari, merupakan Kerajaan dari Pangeran Repadmojo, putra dari Raja Amir Ambyah (Amir Hamzah).

Sebelum keduanya menikah, ada kisah yang menarik, sehingga menjadi kesepakatan pernikahan antara Dewi Rengganis dan Pangeran Repadmojo.

Pangeran Repadmojo, merupakan pria yang gemar menanam tumbuhan, tanaman obat-obatan dan bunga.

Diantara bunga yang disenanginya, yang ditanam di Tamansari, sempat beberapa kali hilang.

Tentu saja Pangeran Repadmojo keheranan, siapa gerangan orang yang berani mencuri bunganya.

Karena gemas, Repadmojo berusaha mencari tahu, siapa orang yang telah berani masuk ke Tamansari dan mencuri bunga kesayangannya, konon nama Bunga itu Bunga Tunjung Wungu (Sejenis Bunga Teratai berwarna ungu).

Pangeran Repadmojo mengajak dua orang cantriknya berjalan ke arah barat, sesuai dengan petunjuk yang didapatnya.

Hingga bertemu sebuah danau, dilihatnya seorang perempuan cantik sedang mandi. Danau itu kini telah menjadi Pemandian Patemon di Desa Patemon Kecamatan Tanggul (untuk bagian ini, akan dikisahkan tersendiri).

Mengetahui ada orang yang sedang mengintipnya, perempuan itu tiba-tiba menyudahi mandinya, berkelebat menghilang ke arah Utara.

Repadmojo bersama dua cantriknya mencoba mengejar bayangan perempuan itu, hingga tiba disebuah pertapan, kini tempat ini berada di kawasan perhutani RPH Sanggrahan.

Jika menilik nama dusun Sanggrahan, maka cukup masuk akal, jika tempat ini menjadi kawasan pertapan, yang menjadi tempat tinggal Dewi Rengganis.

Pertapa Argopuro itu bertanya kepada Repadmojo, apa yang sedang dicarinya ?

Repadmojo menceritakan bahwa dirinya mencari seorang perempuan yang mencuri bunga kesangannya.

Pertapa itu bertanya, bagaimana ciri – ciri perempuan itu.

Repadmojo menyebut ciri-ciri perempuan yang dijumpainya di Danau, maka setelah menyebut ciri cirinya, Pertapa itu membenarkan bahwa yang dimaksud Repadmojo adalah putri satu satunya.

Lalu dipanggillah Dewi Rengganis, ditanya apakah benar telah mencuri bunga milik sang pangeran.

Namun, Rengganis tetap mengatakan bahwa dia tidak mencuri, hanya suka saja.

Terlebih, menurut kisahnya, Rengganis hanya makan bunga yang baru saja mekar.

Kesukaannya memakan bunga itulah yang membuat dirinya menjadi memeliki kesaktian, lebih dari manusia biasanya.

Pertemuan itulah, yang membuat Repadmojo jatuh cinta kepada Rengganis, yang memang cantik.

Lalu, menggunakan cara menekan sang pertapa bahwa yang mencuri bunga harus membayar didenda, dengan cara jika perempuan harus menjadi istrinya.

Pandita Argopuro tak dapat mengelak, untuk merestui perjodohan antara Repadmojo dan Rengganis.

Maka, pernikahan diantara keduanya, dirayakan dengan gegap gempita, semua kesenian dimainkan selama tujuh hari tujuh malam.

(Karenanya, berkembang mitos disebuah pohon besar, di sebelah selatan Balai Desa Banjarsari,  setiap malam Jumat legi, terdengar tabuhan Gending yang sangat jelas terdengar.)

Keduanya pun hidup bersama di Kraton Bangjaran Sari.

Setiap hari, Dewi Rengganis mandi di Sendang Tangkil.

Sendang itu, dulu dipercaya jika pada malam tertentu, ada perempuan cantik mandi bersama para dayang nya.

Tidak jelas apakah dari pernikahan mereka berdua memiliki keturunan ?

Ki Berkong Morojoyo Kepala Desa Duko Banjarsari Pertama (part II)

Jika menyimak dari nama Kepala Desa Pertama Desa Banjarsari, Moroatmojo, maka ada kemungkinan, dari keturunan beliaulah yang bisa terkait dengan Dewi Rengganis.

Untuk mendapatkan kebenaran, tentu diperlukan penelitian lebih lanjut.

Wallahu a’lam bisshowab. (Bersambung)

Table of Contents
- Advertisement -spot_img

Berita Populer

- Advertisement -spot_img