Aktivis Nilai Bondowoso Butuh Pemimpin Milenial

Aktivis Bondowoso

Loading

Bondowoso _ Jempolindo.id _ Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, selama ini dinilai aktivis Mahasiswa, mengalami stagnan dalam pembangunan.

Baca Juga: Gus Halim: Santri Sang Ideolog Pembangunan Desa 

Pernyataan itu disampaikan, Ketua HMI Cabang Bondowoso Situbondo, Moh Syeh Zainul Hali SH, kepada media ini, melalui jaringan selulernya, pada Selasa (23/01/2024).

“Seperti yang kita tahu, bahwa sejak awal dilantik (Red: Bupati Bondowoso, dilantik pada tanggal 24/09/2018 – 24/09/2023) telah terjadi polemik, sehingga program-program yang sudah dijanjikan tidak dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Sebut saja, konflik antara Bupati Bondowoso KH Salwa Arifin SH dan Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso Ahmad Dhafir, pada tahun 2022.

Pemuda yang akrab disapa Enong itu, menyebut, akibat konflik berkepanjangan itu, menyebabkan pembangunan di Kabupaten Bondowoso tidak ada perbaikan signifikan.

“Sebagai contoh, yang kami rasakan adalah fasilitas umum jalan raya dikampung-kampung banyak yang rusak, kami nilai ini bagian dari efek polemik yang merugikan masyarakat,” tandasnya.

Untuk itu, Enong berpendapat, sudah saatnya dilakukan regenerasi dan transformasi kepemimpinan.

“Mengingat pada kepemimpinan sebelumnya banyak sekali polemik yang merugikan masyarakat,” katanya.

Untuk itu, menurut Enong, peranan Generasi Milenial Sangat penting, karena generasi muda memiliki semangat yang tinggi, kreatif dan inovatif.

“Bondowoso membutuhkan pemimpin milenial, agar permasalahan yang selama ini terjadi dapat terurai,” tegasnya. (G1l)