Perjalanan Gibran, Samsul Si Blimbing Sayur Menuju Istana 

Jempolindo.id _ Perjalanan Gibran “Samsul si Blimbing Sayur” Menuju Istana Merdeka, sebagai Wakil Presiden dari Capres Terpilih Prabowo Subianto penuh dengan liku liku.

Tentu saja semua sudah paham siapa si Samsul ini, yakni Gibran Raka Buming Raka, putra sulung dari Presiden Joko Widodo.

Perjalanan Wali Kota Solo ini, dalam menapak jalan politik nya, penuh dengan hikmah, yang dapat dijadikan pelajaran dalam kehidupan demokrasi berbangsa dan bernegara. Terlepas adanya pro kontra.

Orang bisa saja tidak suka, karena dinilai memapankan politik dinasti Jokowi, tetapi faktanya lebih banyak yang suka, karena menilai keberhasilan Jokowi memimpin negeri ini selama dua periode.

Apapun pro kontranya, suka tidak suka, Pasangan Prabowo Gibran sebagai Capres Cawapres terpilih, ditetapkan melalui Keputusan KPU nomor 504 Tahun 2024, tentang penetapan pasangan Capres Cawapres terpilih, yang dilakukan setelah MK memutuskan menolak secara keseluruhan gugatan Pasangan Capres Cawapres 01 dan 03.

Bagaimana perjalanan si Samsul ini, dapat disimak dari mulai keinginan Jokowi untuk menggandengkan Gibran dengan Ganjar Pranowo, melalui PDI Perjuangan.

Gibran Ditolak PDIP 

PDI Perjuangan, sebelumnya bahkan belum berkenan mengusung Ganjar sebagai Calon Presiden. Posisi Puan Maharani, sebagai putri mahkota dari Megawati Soekarnoputri, ketua Umum PDIP, masih menempati posisi pertama.

Bahkan, kerasnya penolakan internal memunculkan istilah Banten dan Celeng. Bagi kader yang mendukung Puan, dianggapnya sebagai banteng sejati, sebaliknya, bagi yang mendukung Ganjar dianggapnya sebagai celeng.

Perlawanan terhadap Ganjar terus semakin menguat, hingga mencuat adanya barisan kopral, yang dimotori oleh anggota DPR dari PDI Perjuangan.

Namun lobi lobi dan gerakan politik dari kubu Ganjar terus berlanjut, hingga pada tanggal 21 April 2023, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memutuskan mengusung Ganjar Pranowo, sebagai Capres.

Keputusan itu dilakukan di Istana Batu Tulis, bahkan Presiden Joko Widodo juga hadir dalam acara itu. Usai acara penobatan itu, Jokowi dan Ganjar berada dalam satu pesawat menuju Solo.

Kebersamaan itu menguatkan dugaan bahwa Ganjar juga mendapatkan restu dari Jokowi.

Apalagi memang ada indikasi Jokowi hendak menggandengkan Ganjar dengan Prabowo, sebagai pasangan Capres Cawapres.

Beberapa kali, terlihat media merilis upaya Jokowi hendak memasangkan Prabowo dan Ganjar, seperti saat Jokowi melakukan kunjungan ke Jawa Tengah.

Keinginan Jokowi untuk memasangkan Ganjar dan Prabowo, rupanya juga gagal, karena Ganjar Pranowo lebih memilih patuh kepada Megawati Soekarnoputri daripada menuruti keinginan Jokowi.

Kepatuhan itu tampak saat Ganjar melecehkan upaya PSI yang mengusungnya sebagai Capres, jauh hari sebelum PDI Perjuangan menentukan sikapnya.

Saat itu, belum muncul Gibran Raka Bumingraka untuk diusung sebagai Cawapres.

Gibran bahkan belum berkomentar apapun, saat mulai ada isu dirinya bakal diusung menjadi cawapres.

Karena memang dari sisi umur Gibran belum memenuhi syarat sebagaimana ditetapkan oleh konstitusi.

Sepertinya, memang ada upaya Jokowi untuk memasangkan Ganjar dengan Gibran, namun Megawati Soekarnoputri menolak keras, hingga kemudian PDIP memilih Profesor Mahfud MD, yang dianggapnya lebih senior dan lebih kenyang pengalaman.

Penolakan PDIP itulah yang membuka pintu awal permusuhan Jokowi dan Megawati Soekarnoputri, hingga Gibran diusung oleh Partai Golkar.

Setelah Partai Golkar mengambil sikap mengusung Gibran si Blimbing Sayur, ada upaya untuk mengajak Partai Nasdem untuk bergabung dalam barisan Jokowi. Sayangnya Surya Paloh tidak menyambut hasrat Jokowi.

Surya Paloh memilih mengusung Anies Baswedan yang berpasangan dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Putusan MK Pintu Masuk

Skenario mengusung si Blimbing Sayur makin menguat, setelah MK memutuskan memenangkan gugatan perkara no 90 tahun 2023, tentang batasan umur capres dan cawapres.

Putusan MK itulah yang kemudian mendorong Prabowo Subianto untuk mengambil Gibran sebagai Cawapres nya, menggeser sosok sebelumnya yang sudah digadang gadang sebagai Cawapres Prabowo.

Sebelumnya ada sejumlah nama yang diprediksi bakal mendampingi Prabowo, seperti Erik Thohir, Sandiaga Uno dan beberapa nama lainnya.

Sosok Gibran yang semula diremehkan banyak orang, memang harus diakui mampu tampil memukau saat debat capres – cawapres, yang diselenggarakan KPU.

Bahkan, lawan politiknya seperti Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD, dibuatnya kalang kabut, dalam debat Cawapres.

Lalu, muncul spekulasi negatif, bahwa Gibran menggunakan alat bantu saat debat, yang menyudutkan seolah Gibran hanya menirukan suara orang lain dari balik layar debat.

Meski dalam persidangan MK tidak terbukti Jokowi menggunakan kekuasaannya untuk kemenangan pasangan Prabowo Gibran, namun sebagai orang tuanya, tentu sudah lazim, jika Jokowi tidak ingin Prabowo Gibran kalah dalam Pilpres 2024.

Kekuatan PDI Perjuangan mulai tampak pecah dengan keluarnya Budiman Sujatmiko dan Maruarar Sirait, tokoh muda yang selama ini memperkuat barisan PDIP.

Begitupun dengan kekuatan Anies Baswedan, yang diduga akan menggerakkan isu Agama untuk memenangkan pilpres, juga berhasil digerus dengan memecah pendukung Anies saat bertarung melawan Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta.

Para peneliti masih dominan mematok tidak ada satu pasangan Capres Cawapres yang bisa mendapatkan 50 persen plus satu, karenanya besar kemungkinan akan ada Pilpres dua putaran.

Baik Ganjar Mahfud, maupun Anies Muhaimin, sama sama berharap masih akan ada putaran ke dua.

Beda halnya, dengan Muhammad Qodari, Direktur Eksekutif Indo Barometer, yang sejak awal sudah memproklamirkan Pilpres Satu Putaran, bahkan sudah mematok kemenangan Prabowo Gibran sebesar 58 persen.

Prediksi Qodari itu mendorong isu bahwa Pilpres sudah disetting sedemikian rupa untuk memenangkan Pasangan Capres Cawapres Prabowo Subianto dan Gibran Raka Bumingraka.

Hingga pelaksanaan pemungutan suara Pilpres pada tanggal 14 Februari 2024, angka yang diprediksi Qodari memang tidak jauh meleset.

Prabowo Gibran menang dengan angka 96.214.691 suara, Anies Muhaimin dengan perolehan suara 40.971.906 suara dan Ganjar Pranowo memperoleh 27.040.878 suara.

Perseteruan Dengan PDIP

Kini, pasangan Prabowo Gibran sudah ditetapkan KPU sebagai pemenang Pilpres 2024, namun situasi politik belumlah dibilang stabil. Kubu PDIP masih mengajukan gugatan melalui PTUN Jakarta Pusat.

PDIP menggugat KPU dengan meloloskan Gibran Raka Bumingraka sebagai Cawapres, karena dianggap tidak cukup umur.

Demikian pula, DPRRI juga masih mencuat usulan Hak Angket, atas pelaksanaan Pemilu 2024, yang dianggap penuh kecurangan.

Begitupun dengan PDIP, sudah semakin gamblang memutuskan Jokowi dan Gibran bukan lagi kader PDIP, sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Dewan Kehormatan PDIP Komarudin Watumbun.

Menjawab penetapan PDIP itu, ketika ditanya sejumlah wartawan, Jokowi hanya menjawab singkat, “Ya, terimakasih”.

Perseteruan dengan PDIP bahkan berdampak pada Bobbi Nasution, menantu Jokowi yang akan maju dalam Pilgub DKI Medan Sumatera Utara. PDI P dengan tegas menolak untuk mengusungnya sebagai Calon Gubernur.

Meski demikian, tentu saja kubu Prabowo Subianto terus melakukan upaya konsolidasi untuk merangkul lawan tandingnya saat Pilpres 2024.

Sambil menunggu jadwal pelantikan. Sesuai Peraturan PKPU nomor 3 Tahun 2022, tentang tahapan dan jadwal Pemilu 2024, KPU akan melakukan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada Minggu, 20 Oktober 2024 mendatang. (MMT)

Exit mobile version