Beranda blog Halaman 60

CUMA NGESTOKNO DAWUHE KYAI

0

 

Amir Hamzah, AKtivis berbasis NU ini memilih jalur PDIP sebagai alat perjuangan politiknya. Bukan tanpa alasan, tentu saja karena anak muda ini percaya

pARTAI BERLAMBANG banteng ini masih SETIA  pada  JALUR perjuangan kerakyatan. 

Mantan aktivis HMI ini yakin Aspirasi konstiuennya kelak dapat diperjuangkannya bersama PDIP. 

“jane yo sederhana se cak, cuma nglakoni dawuhe poro kyai,” pungkasnya. (m1)

JEMBER KEHILANGAN PUTRA TERBAIKNYA

0

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN
Jember berduka kehilangan satu putra terbaiknya. Ketua Tanfidz DPC PKB Kabupaten Jember,  Miftahul Ulum atau akrab disapa Cak Ulum telah meninggalkan rakyat Jember untuk selamanya.

Beliau anggota DPRD Propinsi Jawa Timur,  dan pernah dua periode sebagai Anggota DPRD Kabupaten Jember.

Kiprah mantan Ketua Ansor Jember ini tentu sangat melekat dibenak rakyat Jember. Sikap kontroversinya selama dua periode era kepemimpinan Bupati MZA Djalal merupakan wujud kritisnya dalam menjalankan fungsi kontrol anggota DPRD Jember.

Tetapi sikap kritisnya itu tentu bukan dalam tujuan memusuhi kekuasaan, melainkan agar jalannya kekuasaan tetap ada pada relnya sebagai abdi masyarakat.

Sesekali dalam perbincangan santai,  Cak Ulum menyampaikan lintasan kegelisahannya soal Jember,  terlihat sangat serius ada dalam bingkai pengabdian.

Senyum ramahnya adalah ciri khas yang dalam kondisi apapun senantiasa mengembang.  Beberapa pengalaman bersama beliau memang belum mampu menggambarkan kedalaman pikirannya.

Tak pernah ada kata tidak atau menolak ketika ada warga yang menyampaikan aspirasinya.  Senantiasa direspon sesuai kemampuan yang bisa dilakukannya.

Tak ada gading yang tak retak , tentu sebagai manusia selalu ada kekurangannya.  Semoga saling memaafkan.

Satu kalimat yang sering saya dengar diantara senyumnya :

“oreng riyah koduh istiqomah” (red : Jadi orang itu harus istiqomah) 

Selamat jalan Cak Ulum,  kami akan lanjutkan perjuanganmu.

 

Natural place Caffe Garden

0

    Design by Danang Dwi Winardi

Tragedi Dufi Duka Kita Semua

0

jempolindo.id-  Jasad dalam tong plastik warna biru itu jasad Abdullah Fitri Setyawan, mantan wartawan yang belakangan bekerja sebagai  karyawan Sales marketing TV Muhammadiyah.

Jasad itu ditemukan pemulung di Kawasan Industri Kembang Kuning, Kampung Narogong, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Minggu 18 November 2018 sekira pukul 06.00 WIB.

Berdasarkan hasil otopsi terdapat luka memar,  Diduga Dufi dianiaya sebelum ajal menjemputnya.

Kapolda Jawa Barat dan Polres  Bogor setelah mengumpulkan saksi saksi termasuk keluarga dekatnya, pihak kepolisian terus memburu  pelaku.

Apapun motifnya tragedi yang menimpa Dufi adalah duka kita semua.

Semoga arwahnya mendapat ampunannya dan keluarga yang ditinggalkan diberkahi kesabaran. (@)

 

 

 

 

 

 

KITCHENSET

0

by Danang Dwi Winardi

RENDAHNYA MORALITAS ADALAH TITIK RAWAN DANA DESA DIENTIT

0

 

jempolindo.id – Masih segar dalam ingatan kasus OTT Dana Desa yang dilakukan KPK RI di Kabupaten Pamekasan (2/8/2017). Mereka yang dicokok KPK Adalah Bupati Pamekasan Achmad Syafii, Kepala Kejaksaan Pamekasan Rudy Indra Prasetya, Inspektur Inspektorat Pamekasan Sutjipto Utomo dan Kepala Desa Dasok Agus Mulyadi. Keempatnya digelandang KPK berkaitan dengan suap atas dugaan penghentian penyelidikan kasus korupsi dana desa Dasok senilai Rp. 100 juta.

Entah dengan alasan agar kasus itu tak melebar atau alasan agar desa lainnya tak ketakutan,  Agus Mulyadi Kades Desok berupaya menyogok Kejaksaan Negeri Pamekasan sebesar  250 juta,  angka yang jauh lebih besar dibanding kasusnya.

Peristiwa itu patut kiranya menjadi bahan renungan bersama,  bahwa uang Dana Desa  yang  bersumber  dari  APBN itu jumlahnya relatif  besar  dan  membuat banyak pihak ngiler.

Apakah lemahnya pengawasan adalah penyebab terjadinya  kasus itu?

sangat kurang tepat jika dikatakan bahwa pengawasan lemah sehingga pelaku menjadi punya banyak kesempatan.

Jika dikaji lebih dalam,  semua piranti hukum dan  regulasinya sudah ada,  Tim Satgas Dana Desa, TP4D buah dari inisiatif  kejaksaan,  pengawan internal pemkab,  Pendamping Desa dari semua jajaran, LSM,  Media Masa semuanya sudah lengkap dan mereka menyatakan siap menyelamatkan uang negara agar lebih tepat sasaran .

Berdasarkan hasil pantauan dilapangan persoalan mendasar  terjadinya penyimpangan adalah

1. rendahnya aspek moralitas disemua kalangan,  termasuk warga desa  yang cendrung permisif.

2. kentalnya orientasi proyek, sehingga segala sesuatu dari uang dan  tak  akan  ada masalah  asal spj  rampung,

3. kekuasaan kepala desa yang terlalu kuat sehingga membuat para kades abai atas amanah yang diembannya,

4. Biaya saat mencalonkan kades  sangat fantastis,  apalagi di  Madura,  sudah lazim biaya pilkades mencapai angka milyaran rupiah,  sehingga  ketika  jadi berlakulah politik  “Dagang Sapi”,

Ini merupakan PR bersama,  bahwa sebagus sistem  pengawasan yang  jika permasalahan tersebut belum tertanggulangi maka selama itu pula dana desa terbuka peluang  untuk jadi bancakan.  (m1)

 

 

TAMAN BERMAIN

0

design by Danang Dwi Winardi

RUWETNYA LAYANAN ADMINDUK JEMBER, PERANAN PRESURE GROUP RUBAH SIKAP BUPATI JEMBER

0

jempolindo.id- Silang sengkarut permasalahan adminduk kabupaten Jember sempat viral.  Antrian panjang,  rumitnya pelayanan,  tersentralnya layanan hanya di Dinas Kependudukan Kabupaten Jember,  Data warga yang hilang tanpa alasan yang jelas adalah fenomena layanan adminduk yang hampir setahun terahir mengemuka.

Keluhaan warga yang mengurus keperluan KTP,  Akta  Lahir dan keperluan lainnya telah disampaikan melalui berbagai saLuran,  medsos, Koran,  media on line,  Radio  Dan DPRD kabupaten Jember. Keluhan warga itu seperti angin lalu Saja.

Lalu semua dikejutkan oleh tragedi OTT yang kabarmya polisi telah menetapkan dua tersangka yakni Kepala Dispenduk SW Dan mitranya berinisial AK yang diduga berkonspirasi dengan SW.  Keduanya disangka melakukan pungutan terhadap warga yang membutuhkan layanan .

Tragedi itu mengejutkan semua pihak.  Bagaimana mungkin pungutan yang jumlah nya fantastis itu dilakukan justru saat Bupati Jember Faida sedang getol dengan jargon Tegak Lurus dan 3B nya ?

Spekukasi seputar tragedi itu bermunculan.  Tentu saja Karena kedua pelaku itu dinilai sangat berani memanfaatkan layanan adminduk warga untuk kepentingan pribadi dan kroninya.

Sebelumnya,  staf dispenduk capil Jember,  Sartini menyatakan bahwa berjubelnya warga  ngantri bahkan sejak Jam 02.00 dini  hari itu dinilai sebagai sebuah kesadaran warga atas pentingnya adminduk Dan Sama sekali  tak ada  kesan bersalah.

Tentu saja sikap para karyawan Adminduk Jember yang menyepelekan keluh kesah warga dan  ditambah tragedi OTT membuat kelompok penekan tergerak.

Menyikapi permasalahan itu,  Mereka yang mengatasnamakan Format – Forum Masyarakat Tertindas Jember , dikomandani Kustiono Musri  dkk  menggelar aksi demo di pemkab Jember  Dan dilanjutkan dengan pendirian posko layanan keluhan masyarakat atas layanan adminduk.

poinnya Format menilai carut marutnya layanan adminduk Jember disebabkan layanan yang tersentral, serta mengabaikan peranan Pemerintahan Desa dan Kecamatan.

Hal ini diakui oleh sedikitnya 60 kepala desa  yang sempat membahas keruhnya layanan adminduk di kabupaten Jember, Bahwa memang benar ada pengabaian peranan pemerintahan desa mulai dari tahapan awal pengurusan adminduk hingga penyerahan kepada warga.

Tentu saja tudingan sentralisasi pengurusan adminduk itu segera dibantah Bupati Faida  sebagaimana  diterbitkan media on line  JemberTimes.

Bupati Faida menegaskan bahwa tidak pernah ada  perintah layanan adminduk hanya di Dispenduk.

Pengurusan Adminduk tidak harus terpusat di kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Karena pengurusan di pusat itu menyebabkan pekerjaan menumpuk. Bahkan, pengurusan adminduk yang terpusat itu hanyalah intsruksi dari kepala daerah yang dihembuskan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Bupati Jember dr. Hj. Faida MMR usai membaca berita terkait pelayanan Dispenduk yang dikembalikan ke Kantor Kecamatan.”(JemberTimes)

Sebegitu rupa layanan adminduk beralih di kantor kecamatan.  Faida juga menegaskan bahwa tidak ada  kendala peralatan perekaman di kantor kecamatan.  Semuanya baik baik saja.

Bagaimanapun  rumitnya memahami permasalahan layanan adminduk itu, setidaknya peranan kelompok penekan telah membuat semua berkesadaran untuk kembali pada jalan yang benar.

Tanpa  bermaksud mencari salah Benar , tetapi dinamika ini sungguh luar  biasa . Semoga Jember ke depan  menjadi lebih baik. (penulis Lepas)

 

 

 

 

Bimtek Manajemen Pemerintahan Desa, Sesuatu Banget

0

jempolindo.id –  Siang itu ponselku berdering, kulihat dilayar nama yang tak asing, Heru Sunarko, Kepala Dispemades Pemkab Jember.

“Dik, iso ketemu nang kantor?” suara itu tak asing di telingaku.

“gak iso mas, iki tepak ono Kegiatan, ada perintahkah?” aku membalas sekenanya.

Lalu beliau menyampaikan ajakannya mengisi Bimbingan Tehnis Manajemen Pemerintahan Desa se kabupaten Jember.

Wah ini sesuatu  banget, sekalian aku bisa belajar tentang desa yang selama 20 tahun cukup menyita perhatian.

Gelaran pertama di pendopo kecamatan Tanggul aku tak bisa ikut. Ada kegiatan yang berbarengan, pada gelaran berikutnya dilakukan di pendopo Kecamatan Rambipuji, lanjut di Pendopo Kecamatan Ambulu, Kantor Desa Gumukmas, Kecamatan Kalisat, dan terahir di Kecamatan Jenggawah, semua tahapan kuikuti bersama Tim Kabupaten, Moh Najib, Rizky Maulana, Sifa, dan Choirul.

Catatan penting yang terekam dalam ingatan:

1. Sebagian besar desa belum menjalankan disiplin Jam kerja seperti tertuang dalam instruksi bupati Jember nomer: 04 / Ins / 2007, jam kerja pemerintahan desa mulai Jam 07.00 – 15.00 WIb.

2. pemahaman regulasi aparatur pemerintahan desa masih relatif lemah

3. Pemahaman tata administrasi rendah, masih banyak desa yang administrasinya dikerjakan pihak ketiha, 

4. Kepemimpinan yang masih harus ditingkatkan

5. keterlibatan  masyarakat dalam pengambikan keputusan yang biasa digelar dalam Musyawarah Desa hanya pada kelompok pendukungnya saja. Dan kelompok kelompok kontra.cendrung diabaikan. 

Catatan itu tentu saja menjadi renungan bersama agar potensi yang ada  dapat terkekola optimal.

Tatepi semangat belajar aparatur pemerintahan desa  sepatutnya juga diapresiasi, semoga Bimtek kali ini membawa perubahan bagi desa yang lebih baik.. (M1)

 

 

 

%d blogger menyukai ini: