Pendidikan : Makna Ijtihad Sebagi Wujud Keberanian Berpikir

  • Bagikan
Ken Bimo Sultoni

Oleh : Ken Bimo Sultoni

Makna Ijtihad sebagai wujud dari keberanian berpikir, tingkat pendidikan masyarakatnya merupakan tolak  kemajuan suatu bangsa, , apabila masyarakatnya dapat mengakses pendidikan yang baik, maka  menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Hari ini, dunia pendidikan  laksana kehilangan semangatnya (Ghirah),  karena dapat para siswa maupun guru, mulai mengabaikan  pendidikan sebagai sebuah upaya dalam proses transfer knowledge,  dan hanya sebagai upaya formal memenuhi standar hidup,  yang mengaharuskan seseorang  menempuh pendidikan.

Pendekatan  Etimologis

Jika menilik dari sisi etimologis, kata pendidikan atau edukasi  berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan.

Hampir setiap bangsa dan peradaban dunia mengartikan pentingnya pendidikan, sebagai bagian dari usaha untuk dapat meciptakan generasi penerus yang berkemajuan. Pendidikan atau edukasi menurut pengertian Yunani adalah “pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak, orang Romawi memandang pendidikan sebagai “educare”, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa dilahirkan di dunia.

Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai “Erzichung”,  setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak. Dalam bahasa Jawa,  pendidikan berarti panggulawentah (pengolahan), mengolah, mengubah, kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran dan watak, mengubah kepribadian sang anak.

Sedangkan menurut tokoh pendidik asal Jerman Friedrich Herbart, pendidikan merupakan pembentukan peserta didik, istilahnya Educere. Dalam dunia Islam,  arti penting pendidikan  tergambar dari peroses pendidikan yaitu Ilmu. Ilmu dan derivasinya muncul berulang kali dalam al-Quran,  menempati posisi kedua setelah kata tauhid.

Dalam shahih Bukhari, bab ilmu (kitab al-‘ilm) menyandingkan bab iman (Kitab al-iman). Hal ini menunjukkan betapa konsep terpenting dan komprehensif,  yang terkandung dalam al-Qur‘an dan as-Sunnah adalah ilmu (‘ilm) setelah iman.

Pendekatan Religi

Imam Syafi’i pernah berkata, “Ta’allam falaisal mar’u yuuladu ‘aaliman.” Artinya adalah: “Belajarlah karena tidak ada orang yang terlahir dalam keadaan berilmu.”

Selain itu,  posisi pentingnya menuntut ilmu atau pendidikan bagi umat muslim tersebut pada salah satu hadist Ibnu Majah, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Al Albani dalam Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir no. 3913).

Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim maupun muslimah. Ketika telah turun perintah Allah SWT yang mewajibkan suatu hal, maka setiap Muslim  wajib sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) untuk dapat menjalankannya.

Sejarah peradaban dunia Islam sendiri, adalah sejarah peradaban yang sarat dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan juga perkembangan dunia pendidikan. Pendidikan menjadi cara suatu bangsa maupun negara untuk dapat mendorong maupun mengembangkan peradabannya.

Pendidikan bermakna  pula sebagai sebuah upaya membebaskan keterbelengguan masyarakat terhadap kebodohan maupun kebuntuan berpikir, sehingga hasil akhir dari pendidikan seharusnya dapat membebaskan masyarakatnya untuk berpikir agar mencapai suatu kemajuan.

Keresahan Dunia Pendidikan

Makna Pendidikan, sangatlah mendalam bagi setiap bangsa,  saat ini, makna dan nilai yang terkandung dalam pendidikan,   seakan terkikis oleh adanya  sistem  para pembuat kebijakan itu sendiri. Seorang tokoh pendidikan Brazil dan teoritikus pendidikan dunia bernama Paulo Freire, pernah mengungkapkan keresahannya terhadap sistem pendidikan.

Freire menyebutkan, sistem pendidikan saat ini ibarat sebuah “bank”. Dalam sistem ini, anak didik adalah objek investasi dan sumber deposito peotensial. Mereka sama saja dengan komoditas ekonomis pada lazimnya.

Depositor atau investornya,  adalah guru yang mewakili lembaga kemasyarakatan yang berkuasa, sementara depositonya mengajarkan  kepada anak didik, berupa pengetahuan . Menurut Freire pendidikan yang ideal, seharusnya berorientasi kepada nilai-nilai humanisme. Humanisme pendidikan  adalah mengembalikan kodrat manusia menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau objek.

Freire berharap,  sistem pendidikan ini menjadi kekuatan penyadar dan pembebas umat manusia dari kondisi ketertindasan.

Pendidikan Harus Menjawab Problem Sosial

Nilai utama dari pendidikan,  haruslah berorientasi pada konsepsi untuk menjawab seluruh probelamatika sosial. “Aku bertanya apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya”, salah satu kutipan puisi dari seorang pujangga kenamaan Indonesia bernama WS Rendra berjudul “Sajak Seonggok Jagung”.

WS Rendra mengungkapkan, pendidikan harus  membawa sesorang merengkuh kemaslahatan,  berani menjawab berbagai tantangan persoalan kehidupan,  bukan malah menjadi asing,  di tengah kemelut dinamika kehidupan. Pendidikan seharusnya menjadi basis nilai dasar,  seseorang berani  berjuang dan menjalani kehidupannya sehingga tetap semangat  menjalani hidup.

Kondisi sistem pendidikan hari ini,  seolah menenggelamkan dunia penididikan,  pada suatu pola yang kaku dan  konservatif,  sehingga  para siswa dan juga pengajarnya terbelenggu,  untuk  mencari solusi yang dapat menjawab pokok permasalahan yang nyata dilingkungan mereka.

Sistem Pendidikan, seakan hanya mendorong para siswanya berkutat pada sistem hirarkis,  yang menempatkan ranking dan penilaian sebagai tolok ukur keberhasilan. Dunia Pendidikan  saat ini  diibaratkan layaknya sebuah mesin fotocopy, sebagai  penghasil kertas duplikat,  yang sama persis tanpa  perbedaan sedikitpun,  baik dalam segi bentuk, corak maupun warna.

Pada akhirnya,  pendidikan  hanya mencetak para generasi peniru,  pengekor yang dipersiapkan untuk menjadi para pekerja yang harunys menjadi pelopor. Pendidikan haruslah mendorong para pembelajar,  untuk  bersikap berani,  termasuk  berani mengungkapkan gagasannya, berani  mempertanyakan kebenarannya dan berani  menciptakan. Sehingga,  terciptalah suatu usaha terbaik (Itjihad) guna  mencapai arti penting pendidikan yang sesungguhnya.

*) Penulis adalah Mahasiswa S2 Kajian Strategis Intelijen UI Departemen PB HMI 2021-2023

jempolindo.id

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *