PEMIMPIN SEBAIKNYA SEORANG FILOSOF

  • Bagikan
Plato
Republik Karya Plato

Jempolindo,id _ Merenungkan keadaan Negara dan bangsa  dari rezim ke rezim jadi teringat pesan Plato “Keadilan adalah keselarasan antara akal budi, emosi, dan hasrat”.

Menurut Plato pemimpin sebaiknya seorang filofof yang memiliki pemikiran mendalam tentang konsepsi kehidupan yang lebih utuh, selesai dengan urusannya sendiri dan mampu menempatkan kepentingan orang kebanyakan diatas kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya saja.

Melalui karyanya, Republic, Plato membeberkan hasil renungannya tentang pemerintahan yang ideal yang dilandaskan pada konsep hukum dan keadilan. Pemikiran Plato akhirnya banyak mempengaruhi  pendiri pemerintahan demokratis di seluruh dunia.

Lahir di Athena sekitar tahun 428 SM, Plato murid Sokrates, filsuf terkenal Yunani. Tahun 399 SM,  yang ahirnya memilih mati minum racun daripada harus melarikan diri dari hukuman pemerintah Athena, atas tuduhan keji telah merusak kaum muda di Athena dengan menghadirkan praktik-praktik agama baru.

Kematian Sokrates membuat Plato marah dan kecewa. Plato berpendapat pemerintah Athena sama sekali tidak bersikap demokratis. Plato  memilih menghabiskan 12 tahun hidupnya  berkelana dan belajar dari filsuf-filsuf besar lainnya.

Dalam karyanya Republic, Plato menjabarkan sebuah gambaran mengenai struktur pemerintahan yang ideal untuk masyarakat. Ia percaya bahwa masyarakat harus dipimpin oleh orang-orang adil yang dipilih berdasarkan kemampuan mereka memahami kebenaran dari berbagai elemen.

Plato menganut paham bahwa konsep, seperti keadilan, pertama kali hadir dalam bentuk elemen yang harus dikembangkan berdasarkan keadaan-keadaan tertentu, yang saling melengkapi. Baginya, moralitas maupun kehidupan baik, yang direncanakan oleh negara, adalah pantulan dari elemen-elemen yang ideal.

Sama halnya seperti Socrates, Plato berkeyakinan bahwa pemerintahan harus dipimpin seorang “raja-filsuf”. Untuk menggambarkan maksudnya, Plato mengilustrasikannya menggunakan sebuah keadaan. Ketika manusia, yang dirantai menghadap ke arah dinding goa dengan punggung terpapar cahaya, hanya melihat bayang-bayang realitas, maka ia akan dipaksa untuk menghadapi apa yang betul-betul nyata.

Keadaan itu, ujar Plato, seperti pemerintahan yang dipimpin oleh seseorang, sehingga sebaiknya sebuah negara dipimpin oleh filsuf yang akan memahami realitas secara dalam. Karena para filsuf akan menghadapi lingkungan terang di luar goa daripada terus berdiam diri menghadapi kegelapan di dalam.

Banyak orang yang mengkritik pandangan-pandangan Plato mengenai pemerintahan dan masyarakat yang ideal. Bagi mereka, pandangan Plato itu terlalu sempit dan justru hanya akan membentuk kelompok-kelompok masyarakat menjadi lebih kecil, yang akhirnya akan memunculkan gologan elite.

Walaupun Republic berisi pandangan Plato mengenai sebuah masyarakat yang diperintah oleh raja-filsuf tidak realistis, tetapi ia tetap berkeyakinan bahwa keadilan dan kebahagiaan tidak mungkin dipisahkan. Pandangannya itu akhirnya menimbulkan banyak perdebatan dari segi etika, politik, dan filosofi dari abad ke abad.

Terdapat pendapat pemikiran Plato sesungguhnya merupakan Filsafat perenial (Latin: philosophia perennis) yang juga disebut Perenialisme, adalah sebuah sudut pandang dalam filsafat agama yang meyakini bahwa setiap agama di dunia memiliki suatu kebenaran yang tunggal dan universal yang merupakan dasar bagi semua pengetahuan dan doktrin religius.

Gagasan perenialisme sudah ada sejak zaman kuno dan dapat ditemui dalam berbagai agama dan filsafat dunia. Istilah philosophia perennis pertama kali digunakan oleh Agostino Steuco (1497–1548), yang mendasarkannya dari tradisi filosofis yang sebelumnya sudah ada, yaitu dari Marsilio Ficino (1433–1499) dan Giovanni Pico della Mirandola (1463–94).

Pada akhir abad ke-19, gagasan ini dipopulerkan oleh pemimpin Masyarakat Teosofis seperti H. P. Blavatsky dan Annie Besant dengan nama “Kebijaksanaan-Agama” atau “Kebijaksanaan Kuno”. Pada abad ke-20, gagasan ini dipopulerkan di negara-negara berbahasa Inggris oleh Aldous Huxley dengan bukunya The Perennial Philosophy, dan juga tulisan dari sekelompok pemikir yang kini dikenal dengan nama Mazhab Tradisionalis.

Meski sudut pandang ini bertentangan dengan saintisme dalam masyarakat sekuler modern, namun pemikiran Plato terus tumbuh dan menjadi perbincangan yang seolah tak pernah kering, lalu menjelma menjadi Neoplatonisme.

Neoplatonisme adalah untaian filsafat Platonis yang muncul pada abad kedua M dengan latar belakang filsafat dan agama Helenistik .  Istilah ini tidak merangkum sekumpulan ide sebanyak itu merangkum rantai pemikir yang dimulai dengan Ammonius Saccas dan muridnya Plotinus ( sekitar  204/5 – 271 M) dan yang mana membentang hingga abad ke-5 Masehi.

Meskipun neoplatonisme terutama membatasi para pemikir yang sekarang disebut neoplatonis dan bukan gagasan mereka, ada beberapa gagasan yang umum dalam sistem neoplatonik; Misalnya, monistik Gagasan bahwa semua realitas dapat diturunkan dari satu prinsip, “Yang Esa”.

Setelah Plotinus, ada tiga periode berbeda dalam sejarah neoplatonisme: karya muridnya Porphyry (ketiga hingga awal abad keempat); yang dari Iamblichus (abad ketiga hingga keempat); dan periode di abad kelima dan keenam, ketika Akademi di Aleksandria dan Athena berkembang pesat.

Neoplatonisme memiliki pengaruh abadi pada sejarah filsafat selanjutnya. Pada Abad Pertengahan , ide-ide neoplatonik dipelajari dan didiskusikan oleh para pemikir Muslim , Kristen , dan Yahudi . Dalam lingkup budaya Islam, teks neoplatonik tersedia dalam terjemahan bahasa Arab dan Persia, dan para pemikir terkemuka seperti al-Farabi , Solomon ibn Gabirol ( Avicebron ), Avicenna , dan Maimonides memasukkan unsur-unsur neoplatonik ke dalam pemikiran mereka sendiri.

Thomas Aquinas memiliki akses langsung ke karya Proclus , Simplicius danPseudo-Dionysius Areopagite , dan dia tahu tentang neoplatonis lain, seperti Plotinus dan Porphyry, melalui sumber-sumber bekas.  Mistik Meister Eckhart (c. 1260 – c. 1328) juga dipengaruhi oleh neoplatonisme, menyebarkan cara hidup kontemplatif yang menunjuk ke Ketuhanan di luar nama Tuhan.

Neoplatonisme juga memiliki pengaruh kuat pada filosofi abadi pemikir Renaisans Italia Marsilio Ficino dan Pico della Mirandola , dan berlanjut hingga Universalisme abad kesembilan belas dan spiritualitas dan nondualisme zaman modern . Neoplatonisme mendasari tradisi mistik di ketiga agama utama Abrahamik (*)

 

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *