Laskar Sasak Melalui Upacara Adat Nyentulak Menuju Lombok Mercusuar

  • Bagikan

Sembalun -Lombok Timur _ Konon Mpu Nala, panglima perang Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk (1350-1389), berhasil melakukan  ekspedisi yang mempersatukan Kerajaan  Dompo di Pulau Sumbawa pada tahun 1357, dan Kerajaan Labuan Lombok. Atas keberhasilan ekspedisi itu, Mpu Nala diangkat sebagai Rakryan Tumenggung, yakni sebutan bagi orang yang menjadi salah satu di antara tujuh pejabat tinggi di Kerajaan Majapahit.

Pengaruh kharisma Mpu Nala sangat kental tertuang dalam doa – doa suci yang dilantunkan saat digelarnya Upacara “Nyentulak” Doa Tolak Balak di Dusun Biluk, Desa Biluk Petung Kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, pada Senin (1/2/2021)

Upacara Adat yang diinisiasi Laskar Sasak, seolah sedang menapak tilasi ekspedisi Mpu Nala.

Menurut Ketua Laskar Sasak Lalu Taharudin, Upacara adat yang digelarnya berharap akan menjadi awal yang baik bagi upaya segala malapetaka yang sedang dihadapi bangsa Indonesia, terutama Pandemi Covid 19.

Kata Lalu Taharudin, Bumi Lombok adalah titik tumpu kejayaan Nusantara, karenanya upacara adat merupakan sarana menanamkan nilai-nilai adat, yang berpijak pada kekuatan kebersamaan dan kegotong royongan.

“Dari Lombok kita suarakan Nasionalisme,” tegasnya.

Tetua Adat H. Purnipe, menjelaskan prosesi adat Nyentulak diawali dengan meditasi disebuah tempat di Kecamatan Sembalun.

“Malam harinya, kita awali dengan semacam meditasi, memohon kepada Tuhan agar bangsa Indonesia segera keluar dari musibah dan malapetaka,” jelasnya.

Lebih lanjut, H Purnipe mengatakan semua prosesi Upacara Adat dikerjakan secara gotong royong dan kebersamaan.

“Menandakan dengan kebersamaan kita dapat menyelesaikan segala persoalan,” katanya.

Kata H Purnipe, Upacara sengaja diselenggarakan di Areal Situs Batu Bungkuk Dewi Anjani.

Situs Batu Bungkuk Dewi Anjani

Selain diyakini sebagai tempat Dewi Anjani bersemayam, situs itu juga diyakini sebagai petilasan Nabi Adam.

Di Areal situs juga terdapat masjid tertua, sebagai tempat awal Gaus Abdurrazak membangun masjid pertama, sebelum melanjutkan perjalanan membangun masjid Bayan di desa Bayan Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Barat. Selanjutnya Masjid Bitung diserahkan kepada salah seorang pengikutnya.

“Kita sudah semakin melupakan nilai – nilai adat, karenanya sengaja upacara adat Nyentulak digelar diareal ini agar generasi mendatang tidak melupakannya,” kata Purnipe.

Budayawan Sasak Lalu Ali Sodikin atau akrab dipanggil Mik Denta menjelaskan, sejatinya Lombok tak dapat dipisahkan dari kejayaan Nusantara, terdapat pertalian yang sangat kuat yang dapat dilihat dari kidung – kidung suci masyarakat sasak.

“Fakta – fakta situs peninggalan bersejarah cukup sebagai bukti bahwa Lombok menjadi episentrum Nusantara,” jelasnya.

Mik Denta membacakan salah satu kidung karya agung Syeh Siti Jenar yang dinilai sebagai petunjuk tentang keberadaan Gunung Rinjani, sebagai tanda sebuah kawasan yang merupakan tumpuan kejayaan Nusantara.

“Anak sak wijine pepunden nang tlatah agung,
kan manggon sak duwuring tirta
Kang kadununge wujude setunggal”

(Ada salah satu tempat yang agung dan suci, berada di atas air, itulah tempat yang satu)

“Serat Syeh Siti Jenar itu mengisyaratkan Gunung Rinjani sebagai tonggak kejayaan Nusantara,” tandasnya.

Kepala Badan Inteligen Negara Daerah (Kabinda) Propinsi NTB Ir Wahyudi Adisiswanto berpendapat, Sasak bukan sekedar kesukuan melainkan tata nilai yang jika diaplikasikan secara nasional, maka Bangsa ini akan menjadi bangsa yang kuat.

“Sasak itu sesek, satu, maknanya kepribadian yang berkarakter mesti dibangun dari tata nilai budaya yang luhur. Tata krama hubungan antara manusia, alam dan Tuhan. hal ini akan kita sampaikan secara nasional,” tegasnya. (*)

  • Bagikan