Mengenal Adat  Suku Sasak Wet Bayan Lombok Utara

  • Bagikan

Lombok _ Jempolindo.id _  Beruntung rasanya Jempol mendapat kesempatan mengenal lebih jauh tentang Suku Sasak Wet (Wilayah)  Bayan yang tinggal di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara Propinsi Nusa Tenggara Barat. Senin (1 Februari 2021).

Desa Senaru terletak di jalur menuju  Pendakian  Gunung Rinjani.  Bagi yang ingin melakukan pendakian menuju Gunung Rinjani, sudah tentu akan melewati sebuah Kampung (Gubuk) Adat yang hingga kini masih terjaga kemurniannya.

Jarak tempuh dari kota Lombok sekitar 2 – 3 jam. Belum ada transportasi umum menuju lokasi, kecuali menggunakan mobil sewa atau pribadi.

Ditemani Laskar Sasak bersama Kabinda NTB Ir Wahyudi Adisiswanto, Jempol  diajak mengikuti sebuah upacara adat pengesahan Mamaq Lokaq, semacam jabatan adat di Suku Sasak Wet  Bayan.

Menurut Pembekel Adat Amaq Bajang Nikrana,  pengesahan Mamaq Lokaq dilakukan sebagai upaya melanjutkan tugas  merawat adat, bukan saja berfungsi sebagai pemimpin tatanan sosial, tetapi juga budaya dan spiritual.

Mamaq Lokaq sebelum.dikukuhkan dijemput dari rumah aaalnya untuk menjalani prosesi  pembersihan diri, bersama istri dan sanak familinya yang akan membantu tugasnya.

“Mamaq lokaq tidak boleh membawa kotoran jiwa saat hendak menjalani kewajibannya dan mendiami kawasan rumah adat,” Jelas Amaq Bajang.

Setelah menjalani prosesi penyucian diri, Lamaq Lokaq berganti baju adat yang melambangkan kedudukannya sebagai tetua adat.

Usai dikukuhkan, Mamaq Lokaq mendiami rumah  induk  yang memang telah ada sejak turun temurun, berada di areal seluas 2 hektar.

Rumah Induk berada di sebelah timur  Bangunan Berugak, semacam gazebo yang terbuat dari bambu beratap jerami. Sebeleh barat  Rumah Induk Lamaq Lokaq dikelilingi 17 rumah adat lainnya.

Sistem kehidupan di dalam kawasan Kampung adat itu terjaga dari kehidupan modern, tidak ada listrik, penerangan yang diperkenankan hanya berbahan bakar minyak kayu jarak.

Alat untuk memasak menggunakan kayu bakar diatas tungku batu. Satu – satunya peralatan modern yang terlihat hanya sepeda motor yang masih dipergunakan sebagai alat transportasi.

Suku Sasak Wet  Bayan tampaknya sedang mencoba  bertahan dari gempuran jaman yang terus berkembang.

Mengenal Suku Sasak Wet Bayan memang begitu kaya dengan khasanah budaya, menterjemahkan keberadaan suku Baya beragam tafsir yang berkembang sesuai dengan presepsinya masing – masing.

Suku Sasak Wet Bayan dikenal sebagai suku tertua diantara Suku Sasak yang menyebar di Pulau Lombok.

Bayan, konon berasal dari Bahasa Arab yang artinya penerang. Kepercayaan asalnya  agama islam “Wetu Telu”. Beberapa tafsir tentang Watu Telu ada yang menyebutnya syariat Islam yang dijalankannya dalam beribadah hanya tiga waktu, berbeda dengan Islam Waktu Lima.

Ada juga yang menterjemahkan sebagai konsep kehidupan yang dibagi menjadi tiga hubungan, yakni hubungan dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan Alam.

Konsep Wetu Telu juga bisa ditafsirkan dengan budaya Suku Sasak Wet  Bayan yang dikenal dengan Konsep tentang gumi beliq, gumi beriq, dan gumi baqiq tersebut merupakan suatu orientasi nilai-nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Suku Sasak Wet  Bayan yang berhubungan dengan alam sekitar mereka. Hal tersebut diyakini dapat mengantisipasi sikap masyarakat dalam mengelola alam secara semena-mena

Menurut beberapa sumber,
Islam Wetu Telu dikembangkan oleh Nursada, putra bungsu dari Pangeran Sanga Pati yang menyebarkan ajaran agam Islam di Pulau Lombok.

Sistem kepercayaan ini terkait dengan ajaran Islam murni, yang mereka sebut “Islam Waktu Lima”. Pengikut Islam Wetu Telu percaya kepada Allah SWT, Nabi Muhammad Saw sebagai utusan Allah SWT, dan Alquran sebagai kitab sucinya.

Istilah Islam Wetu Telu itu sendiri tidak pernah dikenal pada masa awal perkembangan agama Islam di Pulau Lombok. Istilah tersebut dikenal sejak Belanda masuk ke pulau ini dan menajamkan istilah itu dengan “Waktu Lima” untuk memecah-belah sesuai dengan naluri para penjajah.

Ada juga yang mentafasirkan Wetu Telu sebagai  kepercayaan bahwa segala jenis proses hidup di dunia tidak dapat terlepaskan dari tiga hal penting yang utama, yakni “menganak”, “menteluk” dan juga “mentiuk”, atau dalam bahasa Indonesia berarti melahirkan, bertelur dan juga berbiji.

Filsafat dan kepercayaan tersebut masih dipegang teguh oleh masyarakat Suku Sasak Wet  Bayan di sana.

Jempol sempat mengunjungi Masjid Tua Bayan, terletak di Desa Bayan. Diperkirakan peninggalan Sunan Perapen, keturunan Sunan Giri. Diperkirakan dibangun tahun 1400 M, menunjukkan sebagai bukti kuatnya pengaruh Islam di Bumi Lombok.

Saat di lokasi Kampung Adat Suku Sasak Wet  Bayan, Jempol sempat bertemu dengan seorang nenek yang usianya sudah lebih dari 100 tahun. Nenek itu masih kelihatan sehat, bahkan giginya masih utuh.

Ditanya berapa usianya, Nenek itu menuturkan dengan Bahasa Sasak, saat jaman kemerdekaan anak pertamanya sudah perawan.

Enggan rasanya meninggalkan perkampungan adat Suku Sasak Wet  Bayan, masih banyak yang menarik untuk diketahui, sayangnya waktu sudah sore, Tim Jempol harus kembali ke kota menempuh perjalanan sekitar 3 jam. (*)

  • Bagikan