Dima Akhyar Simak Kisah Minak Jinggo Nagih Janji

0

Jember_ Jempol.Ancaman Blambangan semakin gawat. Minakjinggo minta penyerahan Majapahit dan Ratu Kencana Wungu  untuk dijadikan permaisurinya.

Suatu malam, Ratu Kencana Wungu mendapat ilham, bahwa seorang pemuda bernama Damarsasongko alias Damarwulan yang dapat mengalahkan Minakjinggo, Raja Blambangan. Maka ia minta Logender untuk mencari pemuda itu. Hal ini membuat iri hati kedua putranya.

Damarwulan telah dikawinkan dengan Anjasmoro diutus ke Blambangan. Begitu melihat Damarwulan, kedua istri Minakjinggo, Dewi Wahita  dan Dewi Puyengan jatuh hati padanya.

Dengan bantuan kedua istri Minakjinggo, akhirnya Damarwulan berhasil memenggal kepala Minakjinggo dengan senjata Gada Besi Kuning milik Minakjinggo yang dicuri oleh Dewi Wahita. Dalam perjalanan pulang, Damarwulan dihadang Layang Seto dan layang Kumitir.

Damarwulan dibuang ke jurang, berhasil diselamatkan oleh arwah ayahnya. Layang Seto dan Layang Kumitir menghadap Ratu Kencana Wungu. Timbul keraguan siapakah yang membunuh Minakjinggo. Damarwulan diadu berduel melawan Layang Seto dan Layang Kumitir.

Kemenangan Damarwulan mendapatkan hadiah naik tahta Majapahit dan memperistri Kencana Wungu. Atas petunjuk ayahnya Layang Kumitir bergabung dengan kerajaan lain untuk memberontak. Layang Seto membujuk dua pendekar yang masih saudara Damarwulan untuk mengalahkan Damarwulan.

Timbulah perang antar saudara, tetapi bisa dilerai oleh arwah ayah Damarwulan. Dua pendekar tadi akhirnya bergabung dengan Damarwulan untuk menyerang para pemberontak istana Majapahit.

Kisah  yang dibawakan Janger asuhan Suparman di Desa Babatan Kecamatan Jenggawah, malam itu (Sabtu, 7/12) cukup memukau penonton.

Aktornya  bermain total, mulai dari dandanannya yang membuat penonton seolah kembali ke ruang masa lalu, para aktor Janger itu juga membangun dialog seolah menggambarkan sebuah kerajaan di masa lampau.

Dibalik layar sedang asyik ngobrol Ketua DKJ Eko Suwargono dan Inisiator Jember Idea’s Dima Akhyar membahas kondisi kehidupan seniman tradisi yang masih bertahan hidup dari gempuran tumbuhnya kebudayaan global.

Ketua DKJ Eko Swargono

“Seniman janger memang masih perlu sentuhan,” desah Eko Suwargono.

Bukan saja fasilitas panggung masih sangat minimalis, berikut sarana pendukung. Pola suguhan panggungnya juga perlu digarap serius.

“Masih ada ruang kosong yang harus diisi,” kata Eko.

Dima Akhyar juga ikut larut dalam dialog malam di belakang panggung.  Sambil sesekali coba memahami kehidupan seniman tradisi.

Duma Akhyar sedang menari bersama penari gandrung Tutik di atas panggung

Dima juga ikut menari diatas panggung tanpa canggung.

“Masih banyak ya pekerjaan rumah kita ke depan,” tutur Dima. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini