Dima Akhyar Bercengkrama Dengan Seniman Ludruk

0

Jember_Jempol. Ditengah kerasnya kompetisi Bakal Calon Bupati Jember ‘2020, Dima Akhyar yang juga berniat mengikuti kontestasi, malam itu memilih bercengkrama bersama seniman Ludruk. Jum’at Malam (6/12/19).

“Sepertinya saya lebih nyaman jadi Bupati Ludruk,” kata Dima berseloroh.

Ludruk “Padang Bulan” malam itu sedang mementaskan lakon “Pendekar Gagak Rimang”. Dima memanfaatkan waktunya menyelami kehidupan seniman Ludruk di belakang panggung.

Seniman Ludruk Kawakan Libyanto bersama Istrinya Manika Refa.l, sedang dikunjungi Tim Jember Ideas Sudarsono dan Eko Budiyono

Dibelakang panggung pemain Ludruk tampak sedang sibuk berdandan, menyiapkan diri buat manggung. Diantara para seniman itu ada sosok separo baya yang sedang berdandan.

“Apa suka duka sampean selama menjadi seniman ludruk ?,” Tanya Dima pada Nawi alias Pak Yudi, aktor yang memerankan tokoh Pendekar Gagak Rimang.

Nawi yang ditanya Dima menjawab lugas hampir tanpa beban, tak ada yang disembunyikan, meski wajahnya sudah ditutupi make up.

“Tak ada yang menyedihkan,  selama menjadi seniman ludruk saya rasakan hanya senang. Kalau gak pentas saya malah bingung,” katanya sambil bercanda.

Nawi lahir tahun 1964, umurnya sudsh 55 tahun. Sejak tahun 1984, pria asal Sempolan  Kecamatan Silo itu mengaku sudah menggeluti dunia panggung.

“Saya main ludruk sejak era kejayaan Man Lesek, hingga kini sudah berganti kepada cucunya,” kaya Nawi.

Pengakuan Nawi dibenarkan Lina (37) penerus Ludruk Padang Bulan, generasi ke tiga dari legendaris Seniman Ludruk Jember Man Lesek.

“Lik Nawi sudah puluhan tahun ikut kami,” kata Lina.

Lina yang sedang  mendampingi mengarahkan aktor ludruk, memgaku tak mencari untung dari kesenian ludruk yang dikelolanya.

“Saya hanya meneruskan warisan orang tua. Seringkali malah tekor,” katanya.

Kontrak Ludruk Padang Bulan hanya sekitar Rp 9 jutaan sekali manggung. Sedangkan awak ludruk semua sekitar 40 orang. Jika dibagi rata, dirinya malah sering tidak kebagian.

“Ya saya hanya dapat senang itu saja. Setidaknya kesenian Ludruk tetap hidup,” katanya.

Kehidupan ekonomi rumah tangganya ditopang dari beternak dan berdagang. Hal itu dibenarkan Samsul suami Lina.

“Saya piara empat ekor sapi limosin, selama enam bulan  untungnya bisa buat hidup,” kata Samsul.

Diatas panggung pelawak muda Lihin sedang mengocok perut penonton dengan lelucon berbahasa madura. Seperti itulah mereka juga mengocok kehidupan.

“Malam ini kita kedatangan tamu orang Dinas Pariwisata,” padahal tak ada orang Dinas Pariwisata yang bertandang. Sepertinya Lihin sedang ketidak pedulian pemerintah atas kehidupan seniman ludruk yang harus menjalani hidup dari panggung ke panggung.

Usai berbincang, Rombongan Dima Akhyar ahirnya berpamitan pulang, tidak menunggu berahirnya pertunjukan malam itu.

“Maaf ya bu, kami harus pulang, besok kita ketemu lagi,” kata Dima berpamitan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini