Intelektual Selebritis dalam Lingkaran Retorika yang sia – sia

0

Oleh :

Muhammad Wildan Habibillah (*

“Kamu terlalu mudah terpukau dengan retorika Saudaraku. Intelektual parasit bisa menjadi selebritis bahkan malaikat yang di puja – puja, hanya dengan Retorika”

Sebelum datangnya socrates. kaum sophis menganggap bahwa kebenaran itu relatif dan kebenaran bisa diwujudkan dengan jalan Retorika. Kemudian Socrates datang sebagai pembaharu bahwa kebenaran tidak bisa semata-mata dicapai dengan retorika tetapi dengan jalan Logika.

Bisakah kita mengukur tingkat kecerdasan seorang intelektual hanya karena dia masuk dalam TV dan berbicara dengan retorika yang menawan ?.

kita terbius sebab mereka sering masuk TV, gagasan mereka disorot TV. Benarkah ketika mereka menyampaikan gagasan mereka benar-benar cerdas dan memiliki seni berlogika yang berbobot ? Atau sebenarnya gagasan – gagasan itu hanya berhiaskan retorika palsu.

Era modern ini banyak orang yang mudah beradu pendapat dengan keras hanya karena perbedaan rujukan pendapat.

Iya, kebanyakan itu terjadi karena perbedaan patron Intelektual terkemuka yang menjadi orientasi. Bisakah kita bijaksana sebagai manusia dalam kondisi seperti itu ? Seringkali justru intelektual selebritis ini bertengkar di depan layar kaca secara terang-terangan untuk suatu pendapat yang sebenarnya bobotnya biasa.

Hanya bertempur data yang dibawa sendiri-sendiri dalam mimbar diskusi layar kaca. Lalu satu sama lain menganggap bahwa pemikirannya benar tanpa berpikir apakah itu baik,benar dan bijaksana.

Bahkan kita tidak tahu apakah mereka sempat berpikir dan berlogika atau mereka justru terburu-buru untuk menguatkan pendapatnya yang sangat politis.

Retorika merupakan salah satu jalan persuasi untuk menguatkan suatu gagasan dengan berbekal kata-kata yang memukau.

Seringkali retorika adalah jurus yang sering digunakan untuk kepentingan politis. Menjadi lumrah apabila politisi beretorika, tapi apakah gagasan itu logis atau hanya indah saja secara kata-kata.

Keahlian beretorika juga sering digunakan oleh seseorang untuk mendapatkan perhatian di depan Publik.

Iya, retorika yang tidak logis tidak akan mudah mempengaruhi masyarakat yang kaya literasi tetapi akan mudah mempengaruhi masyarakat dengan tingkat literasi yang rendah.

Kelompok Masyarakat dengan tingkat literasi yang rendah akan mudah berperang pendapat dengan kelompok masyarakat lain hanya karena berbeda orientasi referensi dari intelektual selebritis ataupun ulama selebritis yang menjadi idola masyarakat itu.

Sangat miris apalagi jika peperangan pendapat didasari dari referensi yang sama-sama tidak logis.

Kita sebagai masyarakat di zaman moderen sebenarnya harus paham apakah suatu pendapat itu merupakan pesanan politik atau tidak.

Sebenarnya Intelektual sejati itu mendalami ilmu dengan sungguh dan bersikap rendah hati (Tawadhu’).

Kita bisa mempelajari itu dari beberapa intelektual hebat yang rendah hati dan low profil seperti Emha Ainun Najib, Muhammad Al Fayyadl, Fahruddin Faiz, Murtadho Mutahari, Nurcholish Madjid, Mahbub Junaidi, Ali Shariati, Abdurrahman Wahid dan masih banyak sederetan intelektual yang rendah hati.

(* Penulis adalah :

  • Alumni SMA Negeri 2 Jember
  • Mahasiswa Semester IV, FIA Universitas Brawijaya Malang
  • Kader HMI Cabang Malang

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini