Sandyakala Ning Majapahit Itu Jember

0

jempolindo.id – Ada yang menarik dalam Pertunjukan Ketoprak semalam di Gedung Serba Guna Jember, Sabtu(29/12/18). Pemainnya mayoritas para pejabat pemkab Jember , Dandim 0824, Pejabat Perbankan dan sebagian kecil seniman yang sudah kawakan.

Sulit menemukan nara sumber yang berani mengkritisi pertunjukan ini, bahkan untuk memujipun mungkin ketakutan. Ini juga bagian dari keberhasilan Tribuana Tungga Dewi “Faida” dalam memerintah Majapahit yang Jember.

Mengejutkan memang ketika saya coba bertanya kepada seorang seniman kawak untuk memberi penilaian objektif atas Ketoprak Humor itu. Jawabnya : “Saya hanya melihat spanduknya saja”.

Karenanya, saya tulis berdasarkan sudut pandang saya sebagai penulis.

Mari kita awali dari Tribuwana Tungga Dewi nama aslinya Dyah Gitarja yang diperankan oleh Bupati dr Faida MMR memerintah Kerajayaan Majapahit atas kehendak ibunya Ratu Dyah Gayatri diperankan oleh Dinas Pariwisata Deborah. Karena Prabu Jaya Negara tidak sempat memiliki putra, dan meninggal ditikam tabibnya sendiri yang diduga cemburu karena istrinya digoda sang raja (1328).

Mengenai kematian sang Prabu Jaya Negara ada spekulasi lain yang mengatakan bahwa yang digoda adalah istri Gajah Mada, lalu Gajah Mada memanfaatkan sang Tabib untuk membunuh Jaya Negara.

Pengganti Jaya negara tak ada lagi kecuali Gayatri, adalah putri Raden Wijaya dari istri selir, Bhiksuni Jayapadmi. Sayangnga Gayatri sudah menjadi bhiksu buda berjuluk Biksuni Jatapadni, sehingga posisinya digantikan Putrinya Tribuwana Tungga Dewi. Hal ini membangun Asumsi bahwa Tribuana “Faida” menjadi ratu atas perintah “ibunya” (1329).

Tidak ada critanya Kerajaan Majapahit dipimpin oleh perempuan, karenanya sebutan ratu diganti menjadi “Raja Putri”. Hal ini sama dengan Kabupaten Jember yang dalam sejarahnya baru Faida lah satu satunya perempuan yang memimpin jember.

Kisah ini seolah menggambarkan situasi Kabupaten Jember saat ini, yang diambil dari sepenggal kisah Sandyakala Ning Majapahit, karya Sanuse Pane.
Seperti tertuang dalam kajian sastra, Sanusi Pane mengambil dari Kitab Negara Kertagama yang ditulis ulang berdasarkan penafsirannya sendiri sehingga bernuansa apatis dalam suasana dirundung kesedihan saat semakin mencengkramnya penjajahan Belanda.

Sebagai sebuah bentuk protes sastra yang ditulis begitu menakjubkan.

Lakon Ratu Tribhuana Tungga Dewi cukup berani dimainkan sendiri oleh Bupati Jember dr Faida MMR, hampir seperti sebuah otokritik terhadap dirinya sendiri. Atau barangkali Faida ingin menggambarkan bahwa dirinya ingin membangun tonggak peradaban birokrasi sebagaimana Tribuana Tungga Dewi.

Menurut Nagarakretagama, Tribhuwana memerintah didampingi suaminya, Cakrawardana atau Kertawardhana diperankan oleh Wabup Jember KH Muqid Arief, bangsawan Singosari.

Pada tahun 1331 ia menumpas pemberontakan daerah Sadeng ( diduga adalah daerah di kabupaten Jember) dan Keta.
Menurut Pararaton terjadi persaingan antara Gajah Mada diperankan oleh Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga – Dedi Nurahmadi dan Ra Kembar diperankan oleh Staf Ahli – M Thamrin, dalam memperebutkan posisi panglima penumpasan Sadeng.

Seperti gambaran situasi Birokrasi Kabupaten Jember yang sedang terjadi saling berebut kedudukan dan jabatan, sehingga ujungnya tugas tugas kedinasan banyak yang ditangani sendiri oleh Bupati.

Persis seperti dalam kisah itu, Tribhuwana pun berangkat sendiri sebagai panglima menyerang Sadeng, didampingi sepupunya, Adityawarman diperankan oleh Soelasno – HIMPUNI). Memerangi Prabu Jala Anindya diperankan oleh Sekda Jember Ir Mirfano dan Prabu Jalan Anindita diperankan oleh Bambang Haryono Mantan Pj Sekda.

Entah sebuah kebetulan kedua tokoh penting yang diperangi Trubuana Tungga Dewi alias Faida itu adalah mantan sekda Bambang Haryono – Kepala Bakesbangpol dan Ir Mirfano – Sekda Pemkab Jember.

Peristiwa penting berikutnya dalam Pararaton adalah Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada saat dilantik sebagai rakryan patih Majapahit tahun 1334. Gajah Mada bersumpah tidak akan menikmati makanan enak (rempah-rempah) sebelum berhasil menaklukkan wilayah kepulauan Nusantara di bawah Majapahit.

Hal ini juga hampir sama persis dengan situasi birokrasi yang tak bisa senyaman sebagaimana pada kepemimpinan sebelumnya.

Di bawah kepemimpinan Tribuana Tungga Dewi alias Faida pejabat benar benar dibuat “pahit’ tak bisa berbuat banyak atau bahkan hampir tak bisa berbuat apa apa, persis seperti prajurit yang “sendiko dawuh” pada ratunya.

Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali. Tahun 1347 Adityawarman yang masih keturunan Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit di wilayah Sumatera. Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur.

Gambaran yang mirip dari kekuasaan Bupati Faida yang mulai meluas dan mengakar, hampir semua sektor mati kutu dibuatnya tak berkutik. Bahkan kekuasaan politik DPRD Jember harus pasrah tanpa syarat.

Sisi baiknya, Tribuana atau Faida sama sama mencoba membangun peradaban politik birokrasi baru sebuah pemerintahan yang kuat yang kelak diturunkan kepada putranya Hayam Wuruk.

Entah kalo di Jember Faida bermaksud mewariskannya kepada “Putra Mahkota” yang mana ?.

Pada Tahun 1351 Tribuana Tungga Dewi turun tahta bersamaan dengan meninggalnya Gayatri. Karena Tribuana beranggapan bahwa tahtanya diperoleh dari titah ibunya Gayatri.

Turun Tahtanya Tribuana juga bagian yang menakjubkan. Tribuana “Faida” turun tahta justru dimasa puncak kejayaannya.

Tribuana “Faida” mengalahkan ambisi berkuasanya demi pengabdian kepada ” Ibunya ?”.

Tribuana memilih menjadi salah satu anggota “sapta prabu” , semacam dewan pertimbangan agung atau DPR .

Ahir kata, pertunjukan ini mari kita maknai dari sisi positip, bahwa kesenian adalah sarana memecah bongkahan es komunikasi.

Tak lupa tetap berucap sedih buat bencana banjir yang melanda jember. (#).

===============
Sandyakala Ning Madjapahit” merupakan drama sejarah yang ditulis Sanusi Pane pada tahun 1930-an. Drama itu pertama kali dimuat dalam majalah Timbul Nomor 1–6, Tahun VII, 1932, dan Nomor 3—4 Februari 1933. Setelah Sanusi Pane meninggal, di Jakarta, 2 Juni 1966 atas inisiatif Ajip Rosidi, tahun 1971 drama “Sandyakala Ning Madjapahit” itu diterbitkan kembali oleh Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, dalam bentuk buku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini