Ngrasani Kegenitan Yusril

0

jempolindo.id – Jember. Fenomena Yusril Ihza Mahendra lompat pagar ke kubu Jokowi Amin, dari kesepakatan PBB yang mendukung Prabowo Sandi, menjadi perhatian publik.

Sekumpulan wartawan senior yang tergabung dalam grup WA JJC (Jember Journalist Community) tak luput menanggapinya dalam obrolan grup, santai penuh senda gurau tapi cukup berbobot.

“Yusril dukung Jokowi gimana ?” Mas Syaifudin A Ghani tiba tiba melempar tanya.

Sontak saja pertanyaan itu menggelitik anggota grup. Aku yang tak sepenuhnya mengerti arah pertanyaan itu membalas sekenanya.

“Itu pilihan rasional,” balasanku sebenarnya setengah menyindir sikap Yusril yang mulai terkesan pragmatis dan dengan gagah berani meninggalkan barisannya.

“Emang ada yang melarang ?” Wakik yang lagi nyaleg dari PKB cepat menyambar lempar mas Gani. Tentu saja Wakik membela keputusan Yusril. PKB salah satu pendukung Jokowi.

Saat percakapan WAG berlangsung sebenarnya aku sedang ngeledeg Indra G Martowijoyo.

Kami bercanda soal pilihan politik Yusril. Indra tetap menilai bahwa sikap Yusril merupakan pilihan pribadi sama sekali tak terkait dengan PBB.

“PBB tetap pada keputusannya setia pada ijtima ulama mendukung pasangan Prabowo Sandi,” kata Indra, terkesan emosiomal, sambil menunjukkan Hasil Pertemuan Diskusi DPP PBB tanggal 5 Desember 2018 yang dipimpin KH. Muh Hilman Firdaus.

Setengah menggoda, kulempar tanya apa sebenarnya alasan Yusril ?.

Menurut Indra yang mantan Ketua DPD PBB Jember , pilihan Yusril merupakan upaya bergaining politik.

Bagaimanapun PBB harus tetap selamat mengikuti tahapan pemilu 2019.

Bagaimanapu sikap Yusril adalah pilihan bebas, bagian dari hak politiknya. Mas Ghani mengatakan memang tak ada larangan, tetapi kader militan PBB sepertinya terganggu.
=====================
Ditengah obrolan ada iklan Mobil lewat.
“Harganya mahal dulu” cletuk Suhemi.
Obrolanpun mengalir lagi
=====================
Mungkin harapan publik terlalu besar kepada sosok Yusril yang penampilan politiknya selama ini terlihat anggun.

Daya tariknya justru pada kecerdasan sang profesor hukum Tata Negara yang hukumnya tak diagukan lagi.

“Kayaknya cari yang ideal sekarang ini susah. Idealisme dan independensi, kerap dikalahkan oleh tiga kekuatan besar: Negara (pemerintah/penguasa), Modal, dan Publik (people power). Jadi, tinggal pilih suka-suka, mau dukung siapa?” Kata Suyono HS menimpali.

Senada dengan Suyono HS, Isma Rahmat Hakim juga memberikan penilaian bahwa tentu Yusril punya tujuan yang publik tidak tahu persis apa sebenarnya yang menjadi sasaran dan target, semua menjadi serba mungkin.

Aga Suratno menyuguhkan jawaban dengan teori kemumgkinan. Dalam politik tidak ada yang bisa dimutlakkan.

” itu serrba mungkin, karena itu ada yg menyebut politik sebagai seni ttg kemungkinan. The art of possibility,” kata Aga.

Aku hanya menyimak obrolan tak berani nimbrung percakapan para senior. Hanya dalam hati ada juga kenakalan. Semoga saja kenakalan menulis percakapan WAG gak kena semprot. Mungkin saja.

Tak ada kesimpulan apapun dari obrolan yang hanya membahas sebuah kemungkinan. Lalu semua berujung pada lagunya Kribianroro “Mungkinkah ?!”. (#)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini