Jember Kota Kongres

0

jempolindo.id – Jember. Entah berapa kali Kabupaten Jember melaksanakan Kongres, hampir tak terhitung. Jelasnya semua elemen sudah pernah melaksanakan kongres, mulai dari Kongres Tukang Becak, Kongres Nelayan, Peternak, Kongres Kader PKK, Kongres Kepala Sekolah, Kongres Bidan, kongres kebudayaan dan entah kongres apalagi.

IMG20171220111244


“Pokoknya Layak Jember disebut Kota Kongres,” kata wartawan senior dalam sebuah perbincangan siang hari.
Tulisan ini sekedar opini, bukan bermaksud mengkritisi, melainkan coba melihat fenomena kekinian dari sebuah pemerintahan Jember di bawah kepemimpinan dr Faida MR


Per definisi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) : “kong·res /kongrés/ n ( 1) pertemuan besar para wakil organisasi (politik, sosial, profesi) untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai pelbagai masalah; muktamar; rapat besar; (2) pertemuan wakil-wakil negara untuk membicarakan satu masalah; ( 3 ) Pol dewan legislatif yang terdiri atas senat dan dewan perwakilan di Amerika Serikat, yang pada dasarnya bertugas mengawasi dan mencocokkan kegiatan pemerintah …”

Menurut defenisi diatas, kongres berarti kumpulan perwakilan dari lembaga politik, sosial atau profesi untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan guna menyelesaikan sebuah Permasalahan yang telah, sedang dan akan dihadapi.
Biasanya para perwakilan masing masing membawa materi untuk dibahas dalam kongres, tentu saja bukan merupakan komunikasi searah, melainkan komunikasi berbagai arah. Masing masing punya hak suara.
Pengambilan keputusan dalam kongres bisa saja dengan cara musyawarah mufakat (aklamasi), voting tertutup atau terbuka, bergantung kesepakatan peserta Komgres.


Kabarnya, di Amerika Serikat, Kongres malah sudah menjadi lembaga politik yang amggotanya terdiri dari Senat dan Dewan Perwakilan. Fungsi Kongres untuk mengawasi jalannya pemerintahan, hampir serupa dengan fungsi legislatif di Indonesia.


Faida telah membumikan Kongres dalam pola pengambilan keputusan dalam berbagai masalah yang hidup di Kabupaten Jember.
Sisi positipnya, sepertinya mencoba untuk mengajak rakyat jember terlibat aktif dalam pengambilan keputusan, peduli atas semua permasalahan yang dihadapi. Kongres akan menghidupkan semangat gotong royong dan kebersamaan, sebuah budaya yang hampir saja pudar.


Sebagai kritik, sayangnya pemyelenggaraan kongres yang sudah dilakukan biasanya pembicaranya hanya Bupati dan peserta tak diberi kesempatan untuk menyampaikan pokok pikirannya. Sehingga Kongres itu tak lebih dari sekedar seremonial belaka. Manfaat kongres menjadi tereleminir dengan terbangunnya asumsi bahwa kongres hanyalah sekedar mendengarkan pidato bupati, kemudian terbangun kesan bahwa kongres tak lebih sekedar pemaksaan dan pembenaran kebijakan Bupati.
Sebut saja Kongres GTT, beberapa penyelenggaraan Komgres GTT tidak termanfaatkan dengann baik untuk membahas masalah GTT melainkan malah berujung pada aksi turun kejalan.


Sangat disayangkan, sebuah acara yang dibiayai oleh APBD, dan lahir dari keinginan baik, tetapi kurang optimal out putnya.
Semoga tulisan ini tidak ditafasirkan dengan kebencian, melainkan dimaknai dengan prasangka positip demi perbaikan jember ke depan. (#)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini